Menanamkan Rasa Malu pada Anak

Pada suatu artikel yang pernah saya baca, dituliskan salah satu alasan mengapa korupsi masih banyak terjadi adalah karena tidak adanya rasa malu dalam diri koruptor, yang menyebabkan mereka bermudah-mudah untuk melakukan dosa. Perasaan malu adalah benteng yang efektif untuk menghindarkan kita dari perbuatan yang tidak terpuji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بِخَيْـرٍ لاَّ إِ يَأْتِيْ لاَ اَلْـحَيَاءُ

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Rasa malu merupakah fitrah dan sifat alami yang sudah terinstall dalam diri manusia, yang membuat dirinya resah ketika melakukan perbuatan yang tidak seharusnya. Namun demikian, rasa malu penting untuk terus dipelihara. Jika malu tidak terpelihara, pertahanan diri dari godaan syaitan akan menipis. Tentu kita mendambakan anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan berakhlak mulia. Salah satu cara yang dapat kita lakukan sejak dini adalah dengan menanamkan rasa malu. Rasa malu ini beraneka macamnya, namun pada dasarnya tujuannya sama, untuk menjaga kita agar tetap berada di koridor yang lurus. Sifat malu ini juga merupakan bagian dari iman, sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Abu Hurairah,

وَسِتُّوْنَ بِضْعٌ أَوْ وَسَبْعُوْنَ بِضْعٌ لإِيْمَانُ اْ

شُعْبَةٌ وَالْحَيَاءُ ،الطَّرِيْقِ عَنِ لأَذَى إِمَاطَةُ اْوَأَدْنَاهَا ،للهُ إِلاَّ اإِلهَ لاَ قَوْلُ فَأَفْضَلُهَا ، شُعْبَةً

مِنَ َاْلإِيْمَانُ
 “Iman itu bercabang tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih, yang paling utama adalah kalimat la illaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan, dan malu termasuk cabang dari iman.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Beberapa contoh rasa malu yang dapat kita tanamkan dan contohkan pada anak:

 

  1. Malu kepada Allah. Rasulullah pernah bersabda, “Malu kepada Allah yang sebenarnya itu, kamu menjaga kepala dengan segala yang dikandungnya, menjaga perut dengan segala isinya, dan senantiasa mengingat maut dengan segala siksanya. Barangsiapa melakukan semua itu, ia telah merasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.” Dengan memiliki rasa malu kepada Allah, kita akan senantiasa menjaga diri dari dosa. Hal ini berhubungan dengan perasaan muraqabatullah, yakni selalu merasa diawasi Allah SWT. Untuk ‘melatih’ perasaan muraqabatullah ini, dapat dengan melakukan puasa Sunnah, misalnya puasa Senin-Kamis dan puasa ayyamul bidh. Selain untuk menghindarkan diri dari dosa, malu kepada Allah juga dapat berbentuk malu ketika kita tidak bersyukur. Kita telah diberikan begitu banyak kenikmatan, sehingga kita seharusnya malu jika tidak mampu bersyukur, apalagi jika kita membandingkan diri dengan orang lain yang kurang beruntung dibanding kita.
  2. Malu dengan aurat yang terbuka. Jika sedari kecil kita sebagai orang tua menanamkan pentingnya menjaga aurat pada anak, anak akan terbiasa untuk menutup auratnya dari orang-orang yang bukan mahram, dan merasa malu serta risih jika ada salah satu bagian aurat yang terbuka. Rasa malu dengan aurat ini sangat penting untuk dimiliki, untuk menjaga anak-anak kita dari pandangan mata orang lain yang bukan mahram. Dengan rasa malu ini juga diharapkan kaum wanita tidak bermudah-mudah melakukan tabarruj dengan bersolek menghias diri.
  3. Malu ketika melakukan kesalahan. Dengan segala pendidikan yang telah kita berikan, tidak bisa dipungkiri suatu saat anak-anak kita pasti akan melakukan kesalahan, karena hal itu sudah menjadi fitrah manusia. Salah satu keuntungan dari memiliki sifat malu adalah ketika kita sudah melakukan suatu kesalahan, rasa malu akan mendorong kita untuk melakukan taubatan nasuha, yakni bertaubat yang sebenar-benarnya dengan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari.
  4. Malu kepada sesama manusia. Malu kepada orang lain ini banyak pula contohnya. Misalnya, malu ketika diperhatikan banyak orang, cenderung membuat kita merasa jauh dari rasa ingin terkenal, sehingga jauh pula dari rasa ujub. Malu kepada orang lain yang lebih berilmu dan beramal baik, dengan menyadari bahwa orang lain memiliki ilmu dan amal lebih dari pada kita, hal ini dapat mendorong dan memotivasi kita untuk berkembang lebih baik lagi. Malu jika tidak menuntaskan amanah atau tugas yang diberikan kepada kita, sehingga kita terpacu untuk memberikan 100% kemampuan kita. Serta masih banyak lagi contoh rasa malu yang lainnya.

 

Namun demikian, ada juga perasaan malu yang sebaiknya dihindari, yakni malu ketika menjalankan ketaatan kepada Allah. Misalnya, malu mengenakan pakaian yang syar’i, malu mencari nafkah untuk keluarga karena pekerjaannya tidak dipandang bergengsi di masyarakat, malu menuntut ilmu, dan sebagainya. Rasulullah Saw bersabda, “Jangan melakukan satu amalan pun karena riya dan untuk memamerkan diri, tapi jangan ditinggalkan amalan itu karena malu.” (Ibnu Syu’bah Harrani, Hasan bin Ali, Tuhafful ‘Uqul ‘An Ali ar-Rasul Saw, hal 58)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *