Kurikulum Langit

Rentetan pernyataan maupun pertanyaan yang biasa saya dengar di kampung sebelah, mulai dari masa Sekolah Menengah Pertama hingga menikah adalah:
  1. “Bu, anaknya sehabis SMP mau lanjut kemana?”
  2. “Sudah kelas 3 lho kamu sekarang, nggak cari BimBel (Bimbingan Belajar) untuk persiapan ujian akhir?”
  3. “Wah, hebat ya bisa masuk SMA favorit, biasanya kalau belajar berapa jam sehari?”
  4. “Nanti ambil kuliah di kampus negeri saja ya, supaya mudah dapat pekerjaan.”
  5. “Kalau bisa pilih jurusan itu yang nanti mudah untuk dapatkan pekerjaan.”
  6. “Kok sudah kuliah belum punya pacar sih?”
  7. “Katanya mau nikah, tapi kok pacar aja nggak punya?!”
  8. “Eh cepetan deh nikah, nanti biar bisa cepat punya anak, kalau sudah berumur nanti susah lho.”
  9. “Lho kamu udah susah-susah sekolah, dapat ijazah, gelar, terus habis nikah cuman ngurusin rumah sama anak aja? Haduh..sayang banget.”
  10. “Jadi perempuan jangan mau dikekang terus sama suami, nanti kuper nggak berkembang deh ilmunya.”
Pesan sponsor : jangan lupa minum air mineral. ūüėĀ
“Hot” banget ya,¬†sepuluh poin di atas. Saya berdoa kesepuluhnya itu hanya beredar di kampung sebelah saja.
Atau tempatmu juga begitu?
Terlalu mengenaskan kalau itu disebut : budaya.
Ah, jangan, budaya itu sebaiknya yang lebih positif gitu lho. Boleh nggak memilih?
Dari poin nomor satu hingga sepuluh, semua ada satu garis merahnya. Kalau menurut saya, garis merahnya itu : hamba dunia.
Kalau menurutmu berbeda, boleh saja, silakan. Mau berbagi di kolom komen pun boleh.
Tapi biarlah itu miliknya kampung sebelah. Semoga Allah berikan kita kesempatan tuk wujudkan “kurikulum langit”.
Apa itu?
“Kurikulum langit” mempunyai visi yang sederhana namun jelas bidikannya … Membidik kehidupan setelah meninggal nanti.
Dalam “kurikulum langit”, sejak awal masuk ke dunia¬†pendidikan, setiap anak laki-laki dan perempuan sudah dikenalkan pada fitrah dan amanah besarnya kelak.
Anak laki-laki, kelak kamu akan menjadi seorang pemimpin bagi keluargamu, dan tugas besarmu adalah
“..Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)
Tambahan tugas anak lelaki dan juga sebuah tugas besar anak-anak perempuan:
“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.
Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 34)
“Kurikulum langit” Salah satu objektifnya adalah sangat berfokus dalam mempersiapkan peran lelaki sebagai pemimpin (termasuk pemimpin rumah tangga), dan juga mempersiapkan perempuan untuk mempersiapkan karir terbaik yakni mendidik generasi (menjadi ibu) termasuk pasangan yang terbaik (istri shalihah).
Sebagaimana contoh keluarga-keluarga yang berhasil bahkan menjadi pelajaran sepanjang zaman, suami dan istrinya sangat ahli dalam menjalankan peran mereka.
Dapat dilihat pada keluarga Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis salam dan keluarga Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.
Jauh tujuannya dari sepuluh poin di atas tadi, apalagi galau menjadi pemimpin bahkan terbalik siapa pemimpinnya.
Dua kepala keluarga tersebut berhasil membawa anggotanya berkumpul di surga kelak.
Teori pengasuhan yang mereka pakai, murni berangkat dari ketauhidan dan kokohnya visi akhirat.
Suami yang tahu perannya bersanding dengan pasangan yang juga sangat paham akan fitrahnya.
Mari kita lihat pada keluarga hari ini, dimulai dari keluarga kita sendiri.
Apakah mirip dengan bentukan kurikulum langit, atau kurikulum kampung sebelah ?
Jelasnya, “kurikulum langit” tidak akan membiarkan anak lelaki untuk mempelajari yang bukan fitrahnya. Apalagi menyia-nyiakan waktu untuk urusan kesenangan dunia semata.
Anak perempuan sejak kecil sudah akan mempelajari keilmuan yang kelak akan membantu menyempurnakan tugas-tugasnya sebagai seorang istri dan ibu.
Sebagai seorang madrasah keluarga yang kelak berperan besar dalam mempersiapkan generasi Islam yang gemilang.
Mereka yang kelak akan ada di barisan terdepan dalam membela agamanya.
Bukan dibentuk agar menjadi superior, serba hebat lagi berkuasa tuk menjadi pemimpin segala lini hingga akhirnya ketika dewasa, tak ada seorang lelaki yang sanggup memimpinnya.
Perempuan, dibekali ilmu memasak, menjahit, membersihkan dan menghias rumah, ilmu melayani suaminya kelak, ilmu kesehatan keluarga, ilmu mendidik anak, dan keilmuan lainnya yang dibutuhkan dalam menjadi seorang istri juga ibu.
Pertanyaannya kemudian, kapankah kurikulum ini akan ada di negeri tercinta?
Jangan berharap dan hanya menunggu, tapi mulai saja dari yang kita mampu.
Mulai dari amanah yang Allah titipkan saat ini.
Jika engkau¬†seorang ibu, mulailah untuk menjadi madrasah yang menjalankan “kurikulum langit”. Meng-upgrade diri sendiri sembari men-transfer ilmu yang Allah beri.
Jika belum menjadi istri dan ibu, mulailah dari meningkatkan kapasitas (bekal) diri. Bekal apa yang perlu dilengkapi untuk menjadi istri dan ibu. Semoga Allah mudahkan tuk segera menjadi istri dan juga ibu.
Untuk para lelaki, tak ada doa yang tak Allah dengar. Meskipun di zaman ini, begitu banyak tantangan untuk menjadi lelaki yang berislam secara kaffah. Lelaki seperti yang disebutkan dalam surat At-Tahrim ayat 6. Melihat kenyataan, betapa superiornya para wanita akhir zaman.
Allahu a’lam bishowab.
Bimbing kami selalu, ya Allah.
 Malang, 12 Maret 2020
#tulisanumma
Editor : Agastya Harjunadhi

One thought on “Kurikulum Langit

  • March 20, 2020 at 6:20 am
    Permalink

    Yes, dimulai dari keluarga sendiri

    Alhamdulillah dalam keluarga kami, kerjasama menjadi prinsip utama.
    Bahkan saya sebagai suami bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga.

    Kebayang kan kalau hidup mandiri, dan istri lagi sakit? Ya suami yang (harus bisa) handle rumah hingga urusan dapur.

    “Ku anfusakum wa ahlikum Naaro”
    Warung bukan solusi.
    Saya harus memastikan apa yang di makan istri dan anak2 adalah yang Halal dan Toyib.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *