Islamic Parenting: Cara Menjawab Pertanyaan Balita Seputar Agama

Memiliki anak balita dan melihat pertumbuhannya setiap waktu, menjadikan pengingat bagi kita orang tuanya. Kian hari, kian bertambah akal, dan rasa penasarannya. Meski saya seorang ibu yang juga bekerja, namun saya berusaha untuk selalu hadir dan mendampingi putri kecil saya. Saya berusaha untuk selalu menanggapi dan menjawab setiap pertanyaan yang terlontar, dari bibir kecilnya. Menjawab pertanyaan balita tentang Allah bukanlah perkara yang mudah, karena anak-anak membutuhkan penjelasan yang bersifat konkret, sehingga mudah dipahami.

Belakangan saya membaca buku Islamic Parenting dengan judul “Kenapa Allah nggak Kelihatan, Ma?” karangan Sa’diah Lanre Said. Buku ini cukup menarik, meskipun dulu ketika membeli buku ini saya merasa bahwa isinya terlalu berat dan berbobot, mengingat usia putri saya waktu itu belum genap 3 tahun. Namun, sekarang buku ini sangat membantu saya dalam memberikan penjelasan, sekaligus dapat dengan benar memperkenalkan ajaran agama melalui pertanyaan si kecil.

Tidak jarang si kecil memberikan pertanyaan mengenai hal-hal yang membuat kita termenung, dan butuh waktu berpikir untuk menyusun kalimat jawabannya. Buku ini dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman bagi orang tua maupun pendidik untuk dapat menjawab pertanyaan anak seputar agama.

Terdapat beberapa cara dalam memberikan jawaban atau penjelasan pada si kecil, yaitu:

 

Memberikan perumpamaan, permisalan dengan contoh yang sederhana.

Tamsil atau perumamaan, adalah salah satu contoh dan cara yang sangat mudah dalam menjelaskan sesuatu yang bersifat pemikiran, juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebagaimana Rasulillah Saw. pun diperintahkan untuk menggunakan tamsil,

(Hai Muhammad) berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalaha Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS Al-Kahfi [18]: 45).

Lalu bagaimana memberikan perumpamaan yang dapat dipahami oleh si kecil?

  1. Permisalan yang dekat dengan dunia anak

Seorang anak bukanlah miniatur dari orang dewasa. Oleh sebab itu, ketika kita berbicara dan berinteraksi dengan anak-anak hendaklah menyesuaikan dengan menggunakan cara dan bahasa anak-anak pula.

Misalnya saja ketika melihat si kecil “mengganggu” serangga atau hewan peliharaan, kita dapat berkata “Kalau kakak diganggu orang lain, dipukul atau disakiti, Ibuk rasanya sangat sedih. Karena Ibuk sayang sekali sama kakak.” Kemudian kita dapat mengajak si kecil berpikir dengan perumpamaan sederhana, “Hewan-hewan juga punya orang tua, punya induk yang sayang juga sama anak-anaknya. Kalau anaknya diganggu dan disakiti manusia, kira-kira menurut kakak, Induknya akan sedih juga nggak?”

Cara-cara semacam ini dapat mengajak anak untuk ikut berpikir dan lebih mudah membayangkan ketika ia berada di posisi hewan yang disakiti. Sehingga ia tidak lagi melakukan hal tersebut.

 

2. Menyesuaikan dengan kebutuhan dan ketepatan permisalan yang diberikan

Ketika kita menyampaikan perumpamaan mengenai hukum Allah, pahala, kebaikan dan keburukan, serta berbagai perihal keagamaan lain, akan lebih mudah disampaikan dengan perumpamaan yang dekat dengan anak.

Misalnya ketika menjelaskan mengenai istilah kebaikan dan keburukan, dapat menggunakan istilah terang dan gelap. Begitu pula ketika menggambarkan mengenai surga dan neraka dapat diberikan gambaran bahwa surga adalah tempat yang indah, sejuk, aman, dan menyenangkan.

Wallahu’alam.

Sumber bacaan:

Said, Sa’diah Lanre, (2016) Kenapa Allah Nggak Kelihatan, Ma? : Menjawab 50 Pertanyaan Anak Seputar Agama. Penerbit Naura Books: Jakarta

Editor : Agastya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *