Apakah “Anda” Siap Melakukan Toilet Training?

Pada dasarnya, saya percaya pelajaran toilet training  ini dapat dilakukan sejak dini, sejak umur berapa pun, karena pada dasarnya manusia mencintai kebersihan dan keindahan. Bayi pun menangis jika popoknya terasa penuh, bukan? Namun demikian, kembali lagi pada keputusan setiap orang tua apabila ingin menunggu anaknya sudah bisa berjalan, atau sudah bisa bicara, untuk menunjang kelancaran pembelajaran kebersihan yang satu ini.

 

Terdapat banyak sekali artikel yang membahas mengenai toilet training, di antaranya tentang tanda-tanda kesiapan anak. Banyak sekali tanda kesiapan anak yang disarankan, seperti siap secara fisik, memahami instruksi, bisa mengungkapkan keinginannya, bisa melepas celana sendiri, menunjukkan kemandirian, dan lain sebagainya. Hal-hal ini dapat kita observasi. Namun demikian, ada hal-hal yang dapat pula kita usahakan, dan tidak dapat kita kesampingkan, yang harus ada dalam proses pembelajaran toilet training ini, yaitu kesiapan orang tua.

Dalam suatu proses pembelajaran, terdapat minimal dua pihak, yaitu orang yang memberikan pelajaran dan orang yang menerima pelajaran. Kedua pihak harus siap untuk memulai proses belajar toilet training. Apa saja dan bagaimana tanda-tanda orang tua siap mengajari anak toilet training?

 

  1. Kesiapan mental support system anak di rumah. Cek diri sendiri dan pasangan apakah sudah bisa mengontrol perasaaan, tindakan, dan kata-kata saat anak berbuat di luar ekspektasi? Jika ada orang lain di luar keluarga inti yang tinggal di rumah, cek juga dan tanyakan apakah sudah siap untuk menemani anak toilet training? Jika belum, tidak ada salahnya menunda daripada meluapkan segala emosi negatif ke anak yang mengompol saat toilet training, karena hal ini tidak bisa dihindari. Awali dengan berdoa, semoga diri ini, pasangan, anak, serta anggota keluarga lain dalam rumah diberikan kelembutan hati untuk menjalani proses ini. Dalam prosesnya, ingat selalu bahwa tujuan dari toilet training ini adalah “agar anak bisa”, bukan “agar anak cepat bisa”.
  2. Kesiapan fisik. Lagi-lagi, kesiapan fisik ini juga diperlukan oleh kedua belah pihak saat toilet training. Usahakan pembelajaran toilet training dilakukan saat kondisi anak dan orangtua sehat, sehingga siap menghadapi hal-hal yang sekiranya dapat terjadi saat pembelajaran, yang membutuhkan fisik yang kuat. Anak butuh fisik yang sehat secara fisik untuk mampu menerima pelajaran dengan lebih optimal. Selain itu, pembelajaran toilet training ini memerlukan kekuatan fisik baik dari orang tua maupun anak. Orang tua diminta sigap dalam membawa anak ke kamar mandi, dalam beberapa kondisi mungkin harus menggendong. Belum lagi pada masa awal pembelajaran ketika anak belum bisa dan mengompol, orang tua perlu membereskan kotoran, membantu anak membersihkan dirinya, mencuci pakaian kotornya, dan lain sebagainya. Anak juga perlu fisik yang prima untuk segera ke kamar mandi ketika merasakan sensasi ingin buang air, untuk belajar membersihkan dirinya sendiri, serta dalam beberapa kondisi membantu orang tuanya membersihkan kotorannya. Dengan demikian, sebisa mungkin hindari melakukan toilet training ketika orang tua dan/atau anak sakit. Ketika pembelajaran telah dimulai dan orang tua atau anak jatuh sakit, sebaiknya pembelajaran toilet training dapat ditunda untuk dilanjutkan lagi nanti.
  3. Kesiapan alat. Hal ini dapat berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing keluarga. Barang-barang yang umumnya disiapkan untuk toilet training adalah alat pel, kain lap lebih dari satu, sprei yang tahan air, celana dalam anak, celana tahan air, perlak, dan lain sebagainya. Hal ini menyesuaikan juga dengan preferensi orang tua. Misalnya, ada orang tua yang menginginkan sprei tahan air di semua kasur dan sofa untuk antisipasi, ada pula yang memasangnya hanya di kasur anak. Dalam hal ini juga harus dipertimbangkan kondisi finansial, jangan sampai toilet training ini melampaui budget yang sudah disiapkan keluarga.
  4. Kesiapan kondisi. Hal ini juga berbeda di setiap keluarga. Sebelum pembelajaran dimulai, orang tua dapat memperkirakan kesiapan teknis apa saja yang perlu disiapkan sebelum toilet training dimulai. Misalnya, dengan mengkondisikan ruangan mana saja yang boleh dan bisa ditempati anak selama masa belajar, mengkondisikan waktu kapan saja anak bisa melepas popok atau langsung seharian penuh dicoba tanpa popok, mengkondisikan jadwal anak dengan memperhatikan jadwal makan dan tidurnya, juga tentang respon-respon apa yang harus diberikan jika anak melakukan A atau B. Sebelum pembelajaran dimulai, orang tua dapat membayangkan apa saja kemungkinan yang terjadi, apa saja respon yang diperlukan, sehingga dari situ dapat dibuat standard operational procedure (SOP) toilet training untuk anak dan orang tua. Persiapan ini kemudian dapat dimatangkan setelah menjalankannya, yaitu dengan trial and error, sampai orang tua dan anak menemukan ritme yang pas. Untuk pengondisian waktu dan tempat, perlu dipertimbangkan untuk meminimalisir mengajak anak keluar rumah saat toilet training berlangsung. Sebaiknya anak tidak diajak ke masjid, belanja kebutuhan, dan lain sebagainya, karena kemampuan manajemen emosi orang tua naik level setingkat lebih tinggi ketika accident terjadi di tempat umum. Saat-saat karantina mandiri karena pandemi global ini bisa menjadi saat yang tepat jika orang tua ingin memulai toilet training anak karena anjuran meminimalisir keluar rumah.

Demikian persiapan yang perlu kita perhatikan. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *