Agar Tidak Jenuh Menjadi Stay-at-Home Mom

Di antara kita, saya yakin banyak sekali perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Di samping tugas utama kita sebagai ibu yaitu mengasuh anak, ada tugas lainnya yaitu tugas domestik rumah tangga. Beruntunglah para ibu yang memiliki bantuan untuk mengerjakan tugas-tugasnya, karena tidak sedikit ibu-ibu yang mengerjakan semua tugasnya seorang diri. Meskipun demikian, punya atau tidak punya bantuan, saya yakin semua ibu rumah tangga yang bekerja di ranah domestik pernah mengalami kebosanan, menghadapi tugas yang itu-itu saja setiap harinya. Terlebih ibu-ibu yang memiliki anak usia belum sekolah, sampai terkadang lupa hari ini tanggal berapa, atau bahkan lupa hari ini sudah memasuki akhir minggu.

Ketika kita mengalami kebosanan, kebuntuan, maupun kejenuhan, hal tersebut seringkali mengarah pada rasa kurang bersyukur, sehingga hal ini sebaiknya dihindari sejauh mungkin. Dua hal yang harus menjadi perhatian kita adalah kesehatan lahiriah dan ketenangan ruhiyah. Keep in mind, syarat pertama untuk menjadi seorang ibu adalah menjadi waras.

Pertama, kesehatan lahiriah. Kesehatan fisik yang dimaksud di sini lebih menjurus ke “olahraga otak”. Selain makan sehat, tidur cukup, dan olahraga teratur, tentunya kita butuh untuk melatih otak kita. Ada tiga hal yang dapat dilakukan, disingkat 3B: berkegiatan, belajar, bersosialisasi.

  1. Berkegiatan. Yang dimaksud dengan berkegiatan di sini adalah bergerak secara fisik. Sebaiknya ibu-ibu memiliki hobi tertentu, yang dapat membantu me-recharge energi dan semangat. Jika tidak punya hobi yang spesifik, mulai saja dari yang paling gampang. Misalnya, olahraga, memasak resep baru, membuat mainan anak DIY, datang ke kajian di lingkungan setempat, dan lain-lain. Lebih bagus lagi jika kegiatannya melibatkan lingkungan luar, sehingga ibu-ibu bisa “keluar” dari rumah untuk sejenak dan menghirup “udara luar”.
  2. Belajar. Hal ini bisa dilakukan dari mana saja, dengan media apa saja, dan kapan saja ibu sempat. Bisa dengan membaca buku, mendengarkan kajian dari ponsel, mendengarkan podcast, menonton video edukasi di Youtube, membaca artikel di internet, mengikuti kuliah online, atau pun menyimak bahasan menarik dan bermanfaat di Instagram. Mendengarkan podcast atau diskusi tertentu mungkin paling mudah dilakukan, karena ibu bisa melakukannya sambil menyusui anak, memasak, menyetrika, dan lain-lain.
  3. Bersosialisasi. Yang dimaksud di sini adalah memiliki lingkaran pertemanan atau support system yang satu frekuensi dengan ibu. Bersosialisasi tidak harus selalu keluar rumah, menghabiskan waktu di tempat-tempat yang malah mengeluarkan uang banyak. Yang terpenting di sini adalah ibu memiliki teman, lebih bagus lagi apabila punya teman sesama ibu, yang bisa dijadikan tempat berbagi karena merasakan pengalaman yang sama. Hubungan pertemanan yang tidak memungkinan tatap mata, tetap dapat dijalani dengan telepon atau sosial media. Saya sendiri memiliki beberapa motherhood friends yang bahkan belum pernah bertemu. Intinya adalah tempat berbagi, orang yang mengalami perjalanan yang sama. Hal yang tidak kalah pentingnya juga adalah menjaga hubungan dengan keluarga agar tetap dekat dan hangat. Keep contact with your family. Give them updates about your life, and ask them how their lives have been going, too.

 

Kedua, ketenangan ruhiyah. Betapa pentingnya agama bagi hidup kita, karena tanpa agama hati kita akan menjadi kering dan kosong. Tiga hal yang dapat dilakukan, disingkat 3B: beribadah, bersyukur, bersedekah.

  1. Beribadah. Banyak ibadah yang dapat kita lakukan di rumah, sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT. Ibadah personal juga dapat berfungsi sebagai bentuk quality time untuk diri sendiri karena dapat membuat hati terasa lebih tenang serta mengisi energi yang sudah hampir kosong menjadi penuh kembali. Beberapa ibadah sederhana yang dapat kita lakukan sekaligus untuk meningkatkan kualitas diri di antaranya dengan membaca Al Qur-an dan tafsirnya, menambah hafalan yang juga dapat dijadikan bahan untuk menambah hafalan anak, shalat sunnah dan dzikir kapan pun, karena hanya dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang. Lakukan ibadah apapun yang dirasa bisa mendekatkan diri pada Allah. Hal ini penting agar kita tidak merasa sendirian. Mengurus anak dan rumah pun bernilai pahala, jika diniatkan ibadah insya Allah lebih ikhlas menjalaninya.
  2. Bersyukur. Mulailah dari melihat sekeliling kita, maka akan kita dapati jauh lebih banyak orang yang kurang beruntung dibandingkan kita. Keluar rumah sedikit, amati bapak penyapu jalanan, abang penjual bakso yang berkeliling, atau ibu penjaja jamu yang berjalan kaki menjajakan jualannya. Yakinlah bahwa kita lebih beruntung dari mereka, yang masih harus berlelah-lelah di luar rumah untuk menyambung hidup. Peka terhadap lingkungan adalah kuncinya.
  3. Bersedekah. Sedekah bukan melulu soal harta, tapi juga bisa dilakukan dengan tenaga, senyuman, atau bahkan tulisan. Pilihlah sedekahmu yang bisa anda lakukan, dan berikan yang terbaik darinya.

 

Pada dasarnya, saya yakin sekali ibu-ibu semua sangat pintar dan jarang tidak bermasalah, karena pastinya ada saja masalah yang harus dipikirkan setiap hari. Apabila kita lihat dari sisi lain, masalah-masalah inilah yang melatih otak kita agar selalu dipakai. Mulai dari budgeting pengeluaran, merencanakan tabungan masa depan, memikirkan gizi anak, memutar otak agar anak mau makan, mencari-cari resep masakan untuk keluarga, dan lain sebagainya. Psst, hal ini juga merupakan salah satu alasan mengapa ibu-ibu rumah tangga di usianya yang lanjut lebih jarang pikun dibandingkan bapak-bapak 😀

 

Jadi, berbahagialah, Ibu! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *