Membangun Rumah Tangga Sehat

Menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah adalah impian setiap muslim. Siapa yang tak mau kehidupan rumah tangga yang aman dan damai, dikelilingi oleh anak-anak yang salih/salihah. Benar-benar membuat rumah sebagai tempat kembali bagi setiap orang yang ada di dalamnya.

Akan tetapi, setiap kita diuji dengan beragam kesulitan dalam rumah tangganya. Ada yang diberi ujian melalui kondisi keuangan, anak, pasangan, dan sebagainya. Seakan tak akan habis permasalahan yang kita hadapi berkaitan dengan salah satu hal itu. Lebih lagi kalau masalah itu seakan tidak pernah selesai sepanjang perjalanan rumah tangga kita.

Terkadang, kita tidak menyadari ada apa di dalam keluarga kita, sampai suatu konflik muncul. Jika konflik itu terus-menerus muncul maka itu adalah indikasi pertama bahwa rumah tangga kita tidaklah sehat. Padahal rumah tangga yang sehat dapat menjadi kunci bagi kita agar bisa menyelesaikan masalah yang ada satu per satu.

Sehatnya rumah tangga kita bisa diindikasikan melalui beberapa hal berikut:

  1. Ada rasa hormat dan saling menghargai di antara setiap anggota keluarga, baik suami ke istri, istri kepada suami, anak-anak kepada orang tua, maupun orang tua kepada anak-anaknya.
  2. Memberikan kesempatan kepada tiap anggota keluarga dalam menjalankan perannya masing-masing. Tidak ada peran yang lebih diutamakan di dalam keluarga. Masing-masing anggota keluarga memiliki perannya, yang saling berkolaborasi membentuk keluarga yang sehat. Suami dengan perannya, istri dengan perannya, begitu pula dengan anak-anak. Menghargai tiap peran itu adalah kunci meminimalisir konflik dalam keluarga.
  3. Tidak ada bentuk kekerasan yang terlibat di dalam keluarga. Konflik wajar terjadi namun penyelesaian konflik tidak diakhiri dengan penggunaan kekerasan fisik dari salah satu pihak. Begitu kekerasan terlibat, artinya ada masalah dalam proses penyelesaian konflik di dalam keluarga.
  4. Komunikasi dua arah antar anggota keluarga. Komunikasi adalah kunci penting lain agar setiap anggota keluarga merasa mendapatkan tempatnya di dalam keluarga. Membungkam anggota keluarga lain dengan landasan dirinya yang paling benar, tidak akan menjadikan relasi di antara anggota keluarga itu menjadi lebih baik.
  5. Memahami kelebihan dan kekurangan tiap anggota keluarga. Karena berbeda, sudah sepantasnya kita tidak menjadikan kelebihan atau kekurangan itu sebagai bahan perbandingan. Saling membandingkan menjadi pintu munculnya konflik lain di dalam rumah tangga.
  6. Memberi ruang bagi setiap anggota keluarga untuk tumbuh bersama. Kembali lagi, keluarga adalah ruang untuk bertumbuh, bukan mematikan potensi. Mengarahkan untuk terus belajar dan berkembang sesuai fitrah sebagai manusia adalah indikasi keluarga sehat lainnya.

Indikator di atas setidaknya menjadi bahan bagi kita untuk mengenali, selama ini apa saja yang menjadi potensi konflik di dalam keluarga kita. Dengan mengenalinya, kita tahu mana yang harus diperbaiki agar rumah tangga kita menjadi lebih baik.

Sederhananya, kita bisa mempertanyakan beberapa hal berikut untuk tahu rumah tangga kita sudah benar sehat atau belum.

Apakah saya merasa nyaman di dalamnya?

Seberapa besar keinginan saya untuk bertahan di dalamnya?

Apakah keluarga ini merupakan tempat yang selalu saya rindukan?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terlihat sederhana, namun bisa menunjukkan, seberapa keluarga itu telah memberikan kita kebaikan. Sudah sesuaikah keluarga ini menjadi keluarga yang memberikan kita kedamaian, wujud dari sakinah mawaddah warahmah yang kita harapkan?

Jika belum, mulailah memperbaikinya. Menganalisis mana-mana yang kurang dan belum dilakukan. Sebab pernikahan itu adalah separuh dari agam kita. Sudah sepantasnya kita melakukan semua upaya kita, untuk menyempurnakannya agar kita pun menyempurnakan agama kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *