Berkomunikasi Efektif saat Konflik

Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa betul adanya quote berikut, “Two things in life you’re in total control of: your attitude and your effort.”

Memang betul kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan apa yang akan terjadi, tapi kita bisa sepenuhnya mengendalikan respon kita. Di luar perkiraan, respon kita justru biasanya dapat mempengaruhi apa yang akan terjadi berikutnya.

Saat terjadi konflik, orang terbagi menjadi dua tipe, yakni orang yang reaktif dan orang yang responsif. Tipe pertama biasanya akan bereaksi secara spontan, cenderung tidak memikirkan kata dan tindakannya, dan lebih “meledak-ledak”. Tipe yang kedua akan bereaksi agak lama dibanding tipe pertama karena ia membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang terjadi, respon apa yang sebaiknya diberikan, dampak apa yang kira-kira dihasilkan, sehingga tindakan yang dihasilkan lebih soft dan berdampak lebih baik untuk diri sendiri dan sekitarnya. Pertimbangan yang dipikirkan oleh tipe responsif ini disebut self-awareness oleh Stephen R. Covey. Self-awareness ini juga sangat mempengaruhi teknik berkomunikasi kita, yang dapat diterapkan setiap hari pada pasangan dan anak-anak.

Saat menghadapi konflik dengan pasangan atau anak, self-awareness ini akan sangat membantu dalam memutuskan apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Setelah otak memproses hal apa yang sebenarnya terjadi dalam konflik, otak dan hati akan menyelaraskan frekuensinya dan “berdiskusi” mengenai apa sebaiknya respon yang diberikan.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, contohnya sebagai berikut.

  1. Minta maaf duluan. Tidak ada yg dirugikan dari minta maaf duluan. Tindakan mengalah seperti ini seringnya malah akan melunakkan pasangan atau anak sehingga suasana akan mencair dan mereka pun akan meminta maaf balik. Pastikan permintaan maaf diucapkan dengan tulus ya! Setelah saling memaafkan, lanjutkan dengan meringkas apa yang menjadi problem dan lanjut berdiskusi tentang bagaimana solusinya. Kali ini dengan kepala yang lebih dingin daripada sebelumnya.
  2. Beri jeda. Selain saat berkonflik, memberi jeda atau mundur sejenak juga dapat diterapkan ketika kita menginginkan sesuatu dari pasangan atau anak, namun mereka belum menyetujuinya. Dengan stepping back, kita memberi mereka ruang dan waktu untuk merenungkan apa yang kita bicarakan. Saat mereka menggunakan waktunya untuk berpikir, ada baiknya juga kita melakukan refleksi diri. Apakah hal yang kita minta sudah tepat? Apakah cara bicara kita sudah tepat? Adakah alternatif lain? Setelah beberapa saat, coba lagi membahas apa yang sebelumnya didiskusikan. Dengan teknik tarik-ulur semacam ini, setelah kita sama-sama mendapat jeda jarak dan waktu untuk mencerna dengan tenang, bisa jadi hasil diskusi selanjutnya akan berbeda.
  3. Sense of humour. Setelah masalah lewat, sesekali kita bisa “menertawakan” masalah yang sudah lewat tersebut, apalagi jika sumber konflik adalah hal yang remeh. Tertawa bersama dapat sangat mencairkan suasana yang tegang selewat konflik. Skill ini sebenarnya dapat diraih dengan mudah, yakni cukup dengan sering-sering melatihnya, tapi jangan lupa juga untuk memperhatikan situasi dan kondisi ya!

Hal-hal di atas akan sangat mendukung jika antara kita dan pasangan atau antara kita dan anak sudah memiliki deep connection. Bagaimana menciptakan deep connection tersebut? Salah satunya dengan komunikasi non-verbal. Berikan perhatian. Fokus dengan meninggalkan barang-barang dan pikiran-pikiran lain ketika kita sedang bersama. Peluk dan cium setiap pagi dan malam. Jadikan sebagai rutinitas, yang akan dirindukan jika terlewat sehari saja. Pada anak-anak, kurang perhatian dapat menyebabkan tantrum berlebih. Pada orang dewasa, kurang perhatian juga dapat mengakibatkan “tantrum” dalam bentuk lain yang berbeda dari tantrum balita. Konflik sangat dapat diminimalisir kala frekuensi kita selaras.

Tips seperti ini seringkali kita baca. Ada yang berhasil menerapkannya, namun ada juga yang mendadak lupa saat konflik terjadi. Hal ini kurang lebih disebabkan kurang “sadar”-nya kita. Kurang mindful saat meresapi bacaan, kurang aware saat konflik terjadi, kurang “hadir” di tengah-tengah hubungan keluarga sehari-hari. Solusinya tentu dengan memberikan kehadiran yang lebih conscious, lebih mindful, dan lebih muroqobah. Sejatinya, dengan sering mengingat bahwa kita diawasi Allah, kita akan jauh lebih berhati-hati dengan segala tindakan dan ucapan kita. Bukan saja agar tidak menyakiti perasaan orang-orang yang kita sayangi, namun lebih jauh lagi apakah Allah ridha dengan kita? Memang ada kalanya kita khilaf, namun jadikan hal tersebut sebagai bahan muhasabah atau evaluasi diri, sebagai motivasi agar tidak mengulanginya. Semoga Allah berikan petunjuk dan hidayah untuk kita semua. Aamiin.

editor: agastya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *