Totalitas Menjadi Hamba (Allah)

Setiap kita memiliki peran masing-masing dalam menjalankan hidup di dunia. Menjadi anak, orang tua, pasangan, sahabat, tetangga, guru, murid dan multi peran lainnya. Namun dari semua peran yang ada, terdapat satu kesamaan peran yang kita jalani bersama, yakni menjadi seorang hamba.

Sebagai seorang muslim, tentu yang dimaksud dengan hamba adalah hamba dari Rabbnya seluruh alam semesta, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menjadi hamba artinya siap untuk tunduk, ikut, patuh, taat, tidak memilih, tidak protes, berserah, ridho, tidak mengeluh dengan semua ketetapan Yang disembah, Rabb manusia dan seluruh alam.

Lihatlah bagaimana semesta tunduk pada penciptanya. Matahari senantiasa terbit di ufuk timur dan terbenam di sebelah barat. Bumi yang terus berputar pada porosnya. Bulan yang senantiasa memantulkan sinar matahari. Air yang mengalir dari dari hulu ke hilir. Angin yang berhembus memenuhi ruang. Begitupun dengan jantung yang terus berdetak, mata yang berkedip hingga darah yang mengalir, semua adalah bentuk ketundukan. Sami’na wa atho’na. Kami dengar dan kami taat. Itulah hakikat makhluk kepada Sang Khaliq. 

Totalitas dalam menghambakan diri, di kondisi suka maupun duka, bahagia maupun sedih, sukses maupun gagal, lapang maupun sempit adalah bentuk keutuhan kita dalam memenuhi hak Rabb kita sebagai seorang hamba.

Memaksimalkan diri sebagai hamba dalam kondisi apapun akan mendatangkan kecukupan dan perlindungan dari Rabb semesta alam.

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِكَافٍ عَبْدَهٗۗ وَيُخَوِّفُوْنَكَ بِالَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖۗ وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍۚ

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. (QS Az-Zumar : 36)

Seorang hamba yang dicukupkan dan dilindungi oleh Allah tidak akan memerlukan sesuatu selain Allah. Mustahil baginya untuk mendua, sedang segalanya dicukupkan bahkan disertai dengan perlindungan. Adakah yang mampu melakukan hal tersebut dengan sebaik-baiknya selain Allah?

Lantas bagaimana jika seorang hamba diuji dengan penyakit, kemiskinan, kehilangan orang yang dikasihi? Apakah berarti Allah tidak mencukupkan dan melindunginya?

Sayangnya, kecukupan dan perlindungan bukanlah tentang materi semata, bukan juga tentang fisik. Melainkan tentang ruh, tentang keimanan, tentang ketenangan, tentang kebahagiaan, tentang akhirat.

Nabi Ayyub ‘alaihissalam diuji dengan banyak hal selama 18 tahun, fisiknya terluka karena wabah penyakit, anak-anaknya diwafatkan oleh Allah, harta bendanya sirna hingga beliau menjadi fakir, namun jiwanya, ruhnya tetap hidup, menyala, tegar bagai pilar. Beliau tidak berhenti berdoa. Senantiasa memohon ampun dan kesembuhan kepada Allah. Allah cukupkan batinnya, bahkan Allah kembalikan semua yang “hilang” padanya bahkan lebih baik dari sebelumnya. Anak keturunan yang lebih banyak, harta dan fisik beliau. Inilah balasan untuk beliau yang fokus pada totalitas sebagai seorang hamba, memenuhi hak Rabbnya tanpa memilih kondisi, senang maupun susah.

فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ

Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. QS Al-Anbiya : 84

Atau kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diuji dengan ayahnya, seorang pemahat patung yang digunakan sebagai sesembahan orang-orang kafir.  Beliau juga dibakar kaumnya dengan api yang berkobar-kobar selama 40 hari. Beliau juga diperintahkan untuk meninggalkan anak dan salah seorang istri yang beliau cintai tanpa bisa memilih kecuali taat. Bahkan setelah bertahun-tahun lamanya terpisah kemudian dipertemukan kembali, perintah baru datang untuk mengorbankan anak yang beliau kasihi? Adakah sekali saja beliau mengatakan tidak? Bahkan sekedar bertanya mengapa? Itulah keteguhan hati yang Allah cukupkan pada hamba-Nya yang patuh tanpa membutuhkan alasan. Selalu penuh keyakinan, utuh dalam menyerahkan jiwa raga dalam memenuhi hak Rabbnya. Sungguh, inilah definisi ketaatan sebagai seorang hamba. 

اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). QS An-Nahl : 120

Itulah sebagian kisah orang-orang terbaik yang sukses menjalani kehidupan sebagai seorang hamba, yang menjadi ibrah, inspirasi untuk muslimin yang sama-sama memiliki status sebagai hamba Allah. Tentu ujian kita tidaklah seberapa dibandingkan ujian para Nabi. Karena kadar keimanan kita sungguh jauh dari mereka, manusia-manusia terbaik pilihan Allah. Maka semestinya kita lebih siap untuk menghadirkan versi terbaik kita dalam memenuhi hak Allah sebagai seorang hamba dalam kondisi apapun.

Fokuslah untuk terus menjadi hamba yang utuh, senantiasalah memohon taufik dan petunjuk dari Allah. Karena mereka yang terbukti berhasil melewati ujian demi ujian di muka bumi, adalah mereka yang tidak pernah berhenti memohon taufik dan petunjuk, sehingga bisa beramal sesuai kehendak Allah.

Kecukupan dan perlindungan adalah janji Allah atas hamba-hamba-Nya yang senantiasa memenuhi hak-Nya secara total tanpa bisa memilih di kondisi seperti apa ia diuji.

Wallahua’lam 

Barakallah fiikum 

KL, 12 Dzulhijjah 1442H (Mega-Ummu Ibrahima)

Editor : Abu Muhammad Alfatih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *