Pakaian yang Membaguskan

“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (TQS. Al Baqarah: 187)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.” (TQS Al-A’raf: 26.)

Hari-hari ini kita tersuguhkan berbagai berita dari rumah tangga para figur publik muda. Berita seputar kehidupan mereka relatif mudah terakses karena sosial media saat ini yang luar biasa masif dipakai di keseharian kita. Selain berita tentang fenomena nikah muda, berita yang kurang sedap juga banyak seperti pertikaian hingga perceraian dari pasangan-pasangan muda hari ini.

Dalam agama, metafora pasangan adalah bagaikan pakaian sebagaimana yang sudah jamak kita dengar sehari-hari. Pada umumnya, kita diharapkan bersikap kepada pasangan sebagaimana pakaian kepada pemakainya: untuk melindungi, menutupi aib, dan memperindah. Dalam konteks membangun keluarga muda, hal ini dapat diimplementasikan dalam relasi dengan keluarga besar dan juga dalam relasi pertemanan masing-masing pasangan.

Sebagai keluarga muda yang baru membina rumah tangga dalam waktu yang relatif dini, kedua pasangan tentu perlu beradaptasi dengan satu sama lain, ditambah dengan keluarga besar. Menerima seseorang dengan watak, kebiasaan, dan kepribadian yang berbeda tentu membutuhkan adaptasi pula dari pihak orang tua, mertua, dan ipar. Di sini, metafora pasangan sebagai pakaian dapat membantu pasangan muda menjalin relasi yang lebih baik dengan keluarga besarnya yang baru.

Pun juga berlaku kepada sesama pasangan terhadap relasi perkawanannya. Masing-masing pasangan sangat perlu memperhatikan mana yang pantas untuk ditampilkan atau bahkan diekspresikan kepada teman-teman pasangan kita. Artinya, kita adalah pakaian atas pasangan kita dihadapan mereka. Nah apa saja makna pakaian? yuk kita lanjutkan sharingnya.

Yang pertama, pakaian sebagai perhiasan. Ketika kita memutuskan pakaian mana yang ingin kita pakai, pastinya kita memilih pakaian yang membuat kita merasa percaya diri ketika memakainya. Setiap orang memiliki preferensi masing-masing, tapi pada dasarnya akan memilih pakaian yang membuat dia merasa aman dan nyaman tampil di depan orang lain. Kalau kita ingin pasangan kita menjadi pakaian yang membaguskan kita, spesifiknya di hadapan keluarga besar atau di hadapan pertemanannya, maka langkah pertama yang dapat kita lakukan adalah memberitahunya. Beri tahu pasangan, bagaimana kita ingin dicitrakan di depan keluarganya juga di hadapan teman-teman kita. Begitu pula sebaliknya, tanyakan kepadanya bagaimana citra yang dia ingin kita perlihatkan di depan orang tua kita. Hal ini tentunya dapat dicapai apabila sudah terjalin komunikasi yang lancar di antara suami dan istri.

Dalam lingkup keluarga besar, orang tua pasti memiliki kekhawatiran tersendiri pada anak-anaknya, termasuk pada anaknya yang baru saja menikah. Apakah anaknya bahagia, diperlakukan dengan baik oleh pasangannya, dan sebagainya. Tugas kita sebagai anak yang berbakti, hendaknya tidaklah menambah kekhawatiran orang tua. Salah satunya dengan memberi tahu mereka kebaikan-kebaikan yang dilakukan pasangan kepada kita, memuji pasangan di depan orang tua, tekankan kelebihan-kelebihannya, agar membuat orang tua merasa tenang dan damai.

Berikan citra diri pasangan yang baik kepada keluarga besar. Sampaikan hal-hal ini kepada orang tua setulus mungkin, dengan kebahagiaan yang tidak dibuat-buat, bahwa kita memang betul-betul bersyukur dianugerahi pasangan yang baik oleh Allah. Kebahagiaan yang terpancar dari dalam diri kita, menunjukkan bahwa pasangan kita memang telah menjadi pakaian yang baik. Begitu pula sebaliknya, dengan menjadi istri yang shalihah, kita dapat menjadi perhiasan yang indah bagi suami. Selaras dengan hadits berikut,

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR Muslim dari Abdullah ibnu Umar.)

Di hadapan teman-teman kita, kita juga harus pandai (sebagai pakaian) menjaga kehormatan pasangan kita. Bagaimana tentang kebaikan maupun kekurangan, sehingga kita tidak mudah terbawa curcol yang menggiring pembicaraan ke curhat yang tidak perlu terkait rumah tangga kita. Betapa banyak pertengkaran diawali dengan obrolan yang tanpa tahu batasan dengan teman-teman kita sendiri.

Yang kedua, pakaian sebagai kebutuhan primer yang pasti dibutuhkan setiap manusia. Begitu pula bagi seseorang yang sudah menikah, kehadiran pasangan adalah kebutuhan utama. Maka dari itu, sebisa mungkin hindari hubungan jarak jauh dalam tahun-tahun pertama pembentukan rumah tangga. Dalam masa-masa awal adaptasi, pasangan akan saling mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing, dalam hal apa satu sama lain dapat diandalkan. Begitu pula saat susah dan senang, pakaian dapat memberi kehangatan bagi kita.

Yang ketiga, pakaian sebagai pelindung dari bahaya. Setelah mengetahui karakter masing-masing pasangan, kita tentu tahu tanda-tanda emosi pasangan. Apakah dia tidak nyaman, gelisah, senang, dan sebagainya. Hubungan dengan keluarga besar tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya terjadi benturan di sana-sini. Pun juga ketka terjadi pengaruh dari lingkaran pertemanan kita sendiri terhadap keluarga kita.

Sebagai pasangan, kita juga harus jeli memperhatikan keadaan pasangan ketika mulai tidak nyaman dengan benturan yang dia hadapi. Karena segala bentuk gangguan atau usikan yang berpotensi mengganggu kesejahteraan pasangan, maka akan berdampak pada pasangan kita dan berpengaruh pada keharmonisan keluarga. Contoh hal yang sering dialami adalah tantangan ibu memberikan ASI. Apabila banyak pendapat dari keluarga besar yang mengganggu kelancaran ibu memberikan ASI, sudah sepatutnya ayah maju dan melindungi istrinya. Pun juga dengan gangguan dari lingkaran pertemanan. Kita sebagai pasangan suami istri benar-benar harus bijak untuk melindungi satu sama lain.

Pakaian adalah hal yang melekat di badan kita, begitu pula sebagai pasangan seharusnya hubungannya sangat intim dan tidak ada rahasia. Terbuka dalam hampir segalanya. Jika kita bersikap terbuka pada pasangan, pasangan pun akan lebih mudah terbuka pada kita. Sebagai bahan evaluasi diri, tanyakan pula pada pasangan apakah kita sudah menjadi perhiasan yang mengindahkan, pelindung yang baik, dan memberi kehangatan untuknya?

Wallahua’lam bish-shawwab.

Referensi:
https://tafsirweb.com/697-quran-surat-al-baqarah-ayat-187.html
https://umma.id
https://muslimah.or.id/6583-jika-ingin-mendapatkan-keturunan-yang-shalih.html

Editor: Harjunadhi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *