Meniti Jalan Keberuntungan

Siapa di antara kita yang tidak bahagia menjadi orang yang beruntung? Apalagi keberuntungan yang dimaksud tidak sebatas di bumi Allah namun juga kehidupan setelahnya yang tidak ada kesudahannya, kekal nan abadi. Adakah cara untuk bisa memperoleh keberuntungan yang hakiki seperti itu?

Ibnu Qayyim Rahimahullah, seorang ulama salaf, dalam kitabnya Al Wabilush Shayyib pernah memberikan sebuah “resep” agar kita bisa menjalani kehidupan yang mengundang keberuntungan yang membawa kebahagiaan.

Menurut beliau rahimahullah, kehidupan manusia tidak akan lepas dari tiga unsur untuk menjadi pribadi yang beruntung, yakni syukur, sabar dan istighfar. Bersyukur ketika diberikan nikmat sekecil apapun, bersabar kala diberikan musibah sesulit apapun, dan beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah di saat berbuat khilaf dan maksiat.

Disadari atau tidak, kehidupan kita hanya menggulirkan syukur, sabar dan istighfar. Namun hal yang dirasa “sederhana” ini seringkali luput dari ingatkan kita ketika dihadapkan dengan sebuah kondisi, baik itu ketika hadirnya nikmat, datangnya musibah ataupun berbuat maksiat. Seringkali kita terprovokasi, entah karena bisikan syaitan dari kalangan jin ataupun dari kalangan manusia untuk senantiasa menuruti hawa nafsu, ego, agar keluar dari lingkaran keberuntungan tadi, dan berakhir kesengsaraan. Subhanallah. 

Contoh sederhananya, ketika kita diberikan taufik oleh Allah untuk mencukupkan diri dengan makanan yang jelas kehalalan (sumber dan materinya) dan kethayyibannya (baik,sehat dan murni), ini adalah nikmat yang besar, karena tidak diperoleh oleh semua orang, dengan bersyukur akan banyak kemudahan untuk mempertahankan bahkan menambah kenikmatan tersebut. 

Adapun tidak mengkonsumsi sesuatu yang tidak jelas kehalalannya, atau mungkin halal namun materinya bisa membinasakan tubuh (tidak thayyib) secara perlahan meskipun menawarkan ‘kenikmatan rasa’ yang lezat adalah bentuk kesabaran dalam mematuhi perintah Allah untuk mencukupkan diri dengan sesuatu yang halal dan thayyib (dalam konteks normal, bukan darurat).

Begitupun ketika kita dengan sengaja mengkonsumsi sesuatu yang Allah larang, tidak halal, tidak thayyib atau keduanya (semoga Allah menjauhkan kita dari perkara yang demikian) dalam konteks normal, ketika diberikan kemampuan oleh Allah baik dari segi ilmu, keuangan dan akses produk yang halal lagi thayyib maka bersegeralah untuk beristighfar, memohon ampun kepada Allah, agar diberikan keistiqomahan untuk bisa bersyukur dan bersabar.

Sebagai orang yang beriman, tentu kita akan sepakat bahwa menjadi pribadi yang bersyukur, bersabar dan senantiasa bertaubat kepada Allah adalah sebuah indikasi kematangan jiwa, kesuksesan seorang hamba yang bernilai tidak hanya di dunia namun juga di akhirat. Maka mengusahakannya adalah sebuah jalan yang dengannya kita mampu memperoleh keberuntungan.

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. QS Ibrahim : 7

Di dalam ayat ini, Allah menjanjikan nikmat yang bertambah kala seseorang memilih untuk merespon nikmat Allah dengan rasa syukur. Siapakah di antara kita yang tidak ingin dilanggengkan kenikmatannya? Keberuntungan seperti apalagi yang diperlukan seorang hamba jika Allah, Rabb semesta Allah yang memberikan kepastian atas nikmat-Nya? Maka sungguh merugi jika kita luput dari bersyukur kepada Allah Asy-Syakur.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. QS Ali ‘Imran : 200

Secara spesifik di ayat ini, Allah memberikan jaminan keberuntungan bagi mereka yang berusaha memilih untuk bersabar. Bersabar di kondisi yang sulit, yang tidak disukai. Apakah itu berjihad di medan perang sebagaimana konteks ayat ini, atau berjihad melawan hawa nafsu di kehidupan sehari-hari. Ketahuilah bahwa sabar bukanlah berdiam diri atau memendam rasa. Namun bersabar untuk tetap bertakwa, yakni ketaatan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Ash-Shabuur.

 وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. QS An-Nur : 31

Adapun orang-orang yang memilih untuk segera bertaubat, beristighfar, memohon ampunan kepada Allah ketika berbuat kesalahan, maka itulah orang-orang beriman yang memperoleh keberuntungan. Konteks ayat ini berbicara tentang perintah untuk menjaga pandangan mata, kemaluan juga menutup aurat bagi wanita muslimah. Sebagaimana hari ini, tidak jarang kita dapati banyak di antara hamba-hamba Allah yang masih bermudah-mudahan  dalam perkara tersebut meskipun konsekuensi yang dihadapi akan memudharatkannya baik itu di dunia maupun di akhirat. Sehingga taubat adalah satu-satunya jalan kembali bagi mereka yang mendambakan ampunan serta keberuntungan.

Adakah yang merasa rugi ketika memperoleh ampunan dari Allah? Tentu tidak, kita sebagai manusia yang tidak lepas dari berbuat dosa sangat butuh terhadap ampunan Allah At-Tawwab, Al Ghafir.

Demikianlah salah satu pedoman keberuntungan yang dinasihatkan oleh imam besar, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah untuk kita amalkan di setiap lini kehidupan kita baik secara pribadi, maupun lingkup keluarga. Sungguh baik dan indah apabila sikap/karakter syukur, sabar, ikhlas dan istighfar itu mampu kita internalisasi menjadi budaya keluarga. Tidak mudah memang, tapi bukan berarti tidak mungkin. Butuh kekuatan jiwa untuk menjalaninya.

Itulah mengapa kita dididik oleh Allah untuk selalu meminta pertolongan dan petunjuk ke jalan yang benar dariNya di setiap shalat dan doa. Karena sejatinya kita adalah makhluk yang lemah. Tanpa pertolongan-Nya, kita tidak akan mampu. Maka yuk kita senantiasa memohon kekuatan kepada Yang Maha Kuat, Al-Qawi, dan kemudian bersungguh-sungguhlah dalam meniti jalan keberuntungan.

Wallahu A’lam 

KL, 19 Dzulhijjah 1443 H.
Mega- Ummu Ibrahima

Editor: Harjunadhi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *