Memilih Pilihan Allah

Dalam menjalankan hidup di muka bumi sebagai manusia, kita akan dihadapkan dengan banyak pilihan. Allah memberikan kita kebebasan untuk memilih dengan cara mengoptimalkan kapasitas jiwa dan raga, Qalb (Hati) dan Aql (Akal).

Ujian demi ujian senantiasa mengisi seluruh aktivitas kehidupan kita, sebagai seorang hamba di bumi Allah. Hingga tiba waktunya, kita akan kembali kepada Allah untuk menunggu hasil ujian di dunia.

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَ تُرْجَعُوْنَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. – (TQS Al-Anbiya : 35)

Ujian bisa datang dalam dua bentuk, buruk dan baik. Terkadang kita diuji dengan sesuatu yang tidak kita sukai, dan terkadang ujian datang dalam bentuk yang kita sukai. Bersyukur jika diuji dengan sesuatu yang kita sukai dan besabar jika diuji dengan sesuatu yang tidak kita sukai.

Ibnu Qayyim  Rahimahullah pernah mengatakan bahwa berwudhu menggunakan air yang dingin di saat kondisi cuaca panas, mempergauli istri yang cantik dan sangat ia cintai, serta menafkahkan harta untuk keluarga di saat berkecukupan adalah bentuk ibadah. Begitupun berwudhu menggunakan air dingin di saat kondisi cuaca dingin, menahan diri dari dorongan untuk menikmati hubungan yang tidak halal meskipun situasi dan kondisi sangat mendukung serta menafkahkan harta untuk keluarga di saat terjepit juga merupakan ibadah.

Analogi yang sangat menarik bukan? Keduanya adalah ibadah namun berada di situasi yang berbeda. Situasi yang disukai dan tidak disukai. Dan inilah titik ujinya. Titik yang akan membedakan mana hamba yang berjuang, serta mana hamba yang menyerah dalam memenuhi hak Rabbnya. Balasannya pun sesuai dengan sulitnya ujian sebagaimana yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam 

Sesungguhnya balasan terbesar datang dengan cobaan terbesar.  Ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa yang menerimanya maka ia mendapatkan keridhaan-Nya, tetapi barang siapa yang tidak puas dengan hal itu, maka ia mendapatkan kemurkaan-Nya.” HR. Ibnu Majah (Vol 5, Book 36, Hadith 4031)

Di titik inilah, perjuangan untuk ridha, menerima “apa” yang Allah pilih adalah sebuah harga mati.

Lantas, perjuangan apa yang tidak memerlukan kesabaran? Perjuangan akan selalu membutuhkan kesabaran. Karena dalam kesabaran, ada Allah yang senantiasa membersamai. Itu mengapa, mereka yang bersabar akan selalu menang, selalu berakhir dengan kebaikan, karena ada Allah, ia tidak akan dibiarkan sendiri dan akan dibalas dengan kebaikan yang tak berbatas. Masya Allah. 

Di saat Allah memilihkan sedekah untuk manusia, namun ternyata manusia memilih riba. (Lihat QS. 2:276). Di saat Allah memilihkan pernikahan untuk manusia, namun ternyata manusia memilih berzina. (Lihat QS. 2:5). Di saat Allah memilihkan makanan yang halal dan thayyib (baik, sehat, bernutrisi) untuk manusia, namun manusia memilih yang halal dan tidak thayyib, atau tidak keduanya. (Lihat QS. 2:168). Di saat Allah memilihkan pakaian yang menutup aurat untuk manusia, namun manusia memilih untuk memperlihatkan auratnya. (Lihat QS. 33: 59). Di saat Allah memilihkan jihad di medan perang untuk manusia, namun manusia memilih untuk diam di rumah-rumah mereka. (Lihat QS. 9: 44)

Ya, baik dalam keadaan sadar maupun tidak, ternyata di saat Allah memilihkan segala yang baik untuk manusia dengan keluasan ilmu-Nya lantas manusia ingin memilih yang buruk dengan segala keterbatasan ilmunya. Di saat itulah letak ujian kita sebagai hamba dalam memenuhi hak Allah, menjalankan kewajiban sebagai hamba yang berusaha menyadari besarnya kekuasaan Allah serta ketidakberdayaan kita sebagai manusia.

Ketika syaitan secara eksplisit, menyatakan misinya dalam kehidupan, untuk menyesatkan anak Adam hingga hari kiamat, di saat itulah manusia mau mendeklarasikan bahwa setan adalah musuhnya untuk kemudian terus belajar berupaya membentengi diri dengan ilmu. Menjaga diri dan keluarga dari segala bentuk godaan setan berupa fitnah syubhat dan syahwat yang membinasakan. 

Ilmu yang bermanfaat adalah makanan yang baik untuk ruh, cahaya yang menuntun pada segala kebaikan. Ruh yang kuat akan membuat raga tunduk, tidak memilih kecuali yang Allah pilihkan.

Kestabilan ekonomi tidak akan lahir dari  sistem ribawi. Peradaban generasi mulia tidak akan lahir dari hubungan yang haram. Kesehatan tubuh tidak akan lahir dari makanan yang tidak halal dan tidak thayyib. Kehormatan manusia tidak akan lahir dari hilangnya rasa malu. Dan kemenangan sejati tidak akan lahir dari rasa takut akan musuh.

(Dialah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. – (TQS Al-Mulk : 2)

Maka kemudian, yuk kita dan keluarga kita, berlatih untuk senantiasa memilih pilihan Allah. Karena memilih pilihan Allah adalah sebuah konsekuensi penghambaan kita kepada-Nya. Itulah pilihan yang menjadi sebuah ibadah, amal shalih yang akan kita tuai pada waktu yang sudah ditentukan. Berjuanglah wahai diri, berjuanglah wahai kita semua bersama sekeluarga untuk mencapai ridha-Nya.

Semoga bermanfaat, Barakallah fiikum

KL, 14 Juli 2021 oleh Mega-Ummu Ibrahima @ibuperubahan
Editor: Abu Alfatih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *