Manajemen Keuangan dalam Sustainable Living

Seperti yang sudah kita bahas beberapa waktu lalu di artikel Manajemen Emosi dalam Sustainable Living, miskonsepsi yang sering terjadi terkait sustainable living adalah bahwa hal ini merupakan gaya hidup baru yang mahal. Padahal jika kita menilik makna kata sustainable adalah “berkelanjutan”, sehingga sustainable living bermakna gaya hidup yang memiliki life span yang panjang. Hal ini yang menjadi tolak ukur, pembeda utama dari gaya hidup instan yang sudah mewabah saat ini. Kemasan plastik sekali pakai, diaper, pembalut, tisu, sedotan, alat makan plastik, semua barang itu adalah hasil cipta manusia, hasil dari teknologi, yang pada awalnya tentu bertujuan baik dimaksudkan untuk membantu manusia, namun ternyata dampak buruknya lebih berat daripada manfaatnya.

Mengapa kemudian gaya hidup sustainable living ini seolah menjadi hal yang baru? Padahal kalau kita memahami sejarah, manusia sejak jaman dahulu survive sesuai fitrahnya, tanpa barang-barang hasil teknologi di atas. Mengapa seolah terlihat mahal? Bisa jadi karena memang pada dasarnya bahan-bahan hasil alam ini bernilai lebih tinggi, dibandingkan produk-produk yang kita pakai saat ini yang komposisi bahan sintetisnya lebih tinggi daripada bahan natural. Namun demikian, jika kita mencermati life span yang panjang ini, value yang kita keluarkan di awal akan bernilai lebih ekonomis dibandingkan menggunakan barang-barang sekali pakai.

Nah, Apa saja yang bisa kita lakukan untuk kembali ke gaya hidup fitrah tanpa merasa terbebani secara finansial? Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan:

  1. Mengganti popok sekali pakai dengan cloth diaper atau popok kain, tisu basah dengan lap kain, pembalut dengan menstrual pad atau menstrual cup. Sudah banyak perhitungan dilakukan yang membuktikan bahwa menggunakan cloth diaper atau menstrual pad lebih hemat daripada popok dan pembalut sekali pakai.
  2. Mengisi air dengan botol minum sendiri saat bepergian, tentunya sangat meminimalisir pengeluaran. Uang yang digunakan untuk membeli air mineral dalam kemasan dapat digunakan untuk hal lain yang lebih penting, misalnya investasi pendidikan.
  3. Mengurangi membeli makanan secara online, perbanyak masak sendiri karena kita bisa memaksimalkan ikhtiar dengan membawa wadah sendiri saat berbelanja bahan makanan dan memilah sampahnya setelah selesai. Jika memang tidak sempat memasak dan harus membeli, usahakan mengutamakan membeli dari tetangga atau lingkungan terdekat. Selain tetap bisa memakai wadah sendiri, membeli dari yang terdekat juga berarti less carbon footprint. Yang bisa dihemat lebih banyak tentu saja harga makanan, serta biaya jasa dan kirim. Saat kita ingin menjajal kuliner terbaru pun, kita bisa datang langsung dan makan di tempat, atau takeaway dengan wadah sendiri. Mengurangi pesan delivery makanan tentu bukan bermaksud melarang, namun alangkah baiknya jika kita memiliki batasan atau jatah yang kita tentukan sendiri setiap bulannya.
  4. Mengganti produk toiletries dan bahan makanan dengan membeli dari pengusaha lokal. Saat ini, sudah banyak sekali pengusaha lokal yang memproduksi sabun, sampo, pasta gigi, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan bahan makanan, ada banyak pengganti tepung terigu, keju kemasan, yang lebih thayyib dari segi gizi. Produk toiletries dan bahan makanan yang diproduksi pabrik besar memang biasanya komposisi bahan sintetisnya lebih tinggi. Maka tidak heran harganya lebih murah dari barang-barang yang dihasilkan pengrajin dan pengusaha lokal yang benar-benar memakai komposisi bahan alami lebih banyak dalam produknya. Selain itu, dilihat dari segi ekonomi makro, hal ini akan mendukung ekonomi masyarakat kita. Mengurangi pembelian dari perusahaan besar yang menyokong pendanaan Israel, juga bisa menjadi salah satu cara kita mendukung Palestina. Memang barang-barang kebutuhan pokok yang dijual lokal terkadang lebih mahal, namun ketika kita mengetahui alasannya insya Allah tidak sulit untuk berpindah.
  5. Tidak bermudah-mudah membeli barang. Menanamkan mindset untuk reuse, sewa, atau pinjam sebelum membeli memang sulit di awal, namun apabila sudah terbiasa, kita akan kaget dengan betapa memudahkannya konsep crowdsourcing dan sharing economies ini.
  6. Apabila kelima hal di atas merupakan sisi penghematan dari usaha kembali ke gaya hidup berkelanjutan, terakhir justru ada pengeluaran baru yang bisa timbul dari gaya hidup berkesadaran ini. Biaya kirim setoran sampah. Saat ini, sudah menjamur instansi yang menerima sampah anorganik untuk didaur ulang. Begitu banyak jenisnya, ada yang bisa menjemput, ada yang harus dikirim, ada yang menyediakan dropbox di titik-titik tertentu. Semuanya bisa jadi membutuhkan biaya untuk bertanggung jawab atas sampah kita. Biaya menjemput sampah untuk yang dijemput, biaya kirim untuk yang dikirim, maupun biaya transportasi jika kita memilih dropbox. Semuanya bisa digunakan, dan sudah seharusnya dijalankan sebagai bentuk tanggung jawab kita atas sampah anorganik, namun untuk menghematnya kita bisa menerapkan budgeting seperti pada pos finansial lain. Jatah seberapa banyak anda “boleh menyampah” dalam sebulan, dan kalkulasi biaya pertanggungjawabannya. Hal ini selain dapat menghemat pengeluaran, juga secara tidak langsung memaksa anda untuk reduce barang-barang sekali pakai.

Hal-hal kecil seperti contoh di atas adalah yang dapat kita lakukan di kehidupan sehari-hari. Dampaknya mungkin memang tidak signifikan, apalagi jika tidak didukung dengan aturan dari pemerintah. Namun demikian, terus lakukanlah, contohkan kepada orang lain, minimal keluarga kita sendiri. Meski dampak kita kecil, setidaknya kita tidak berkontribusi pada kerusakan.

Nah, beberapa hal di atas adalah yang bisa kami sampaikan untuk membantu sahabat pembaca thru. Apakah sahabat punya ide lain? Sampaikan dalam kolom komentar di post instagram kami, dan dapatkan bingkisan untuk ananda tercinta. Dua ide paling menarik yang terpilih akan diumumkan pekan depan. Semoga bermanfaat!

Wallahua’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *