Kelaparan: Solusi di antara Dua Kutub

Rasa lapar adalah tanda dimana seseorang memerlukan asupan makanan untuk menunjang kerja tubuh. Sebagai muslim yang pernah menjalani ibadah puasa tentu memahami “apa” itu lapar, karena salah satu syarat diterimanya ibadah puasa adalah dengan “menahan haus dan lapar”. Begitu juga menjadi seorang ibu, tentu ia terbiasa menerima “sinyal” lapar dari sang buah hati.

Bayi yang baru lahir akan memberikan tanda-tanda jika dirinya sedang lapar, apakah dengan merengek atau dengan gerakan mulut juga tangan. Bagi seorang ibu tentu menjadi sensitif untuk segera merespon rasa lapar si buah hati dengan asupan terbaik, halal lagi thayyib (baik) adalah bentuk cinta sekaligus tanggung jawab atas nikmat diberikannya keturunan.

Namun apa jadinya jika rasa lapar terjadi secara masif, dialami oleh sebagian besar umat manusia? Di mana terdapat populasi yang mengalami kerawanan pangan (Food insecurity) pada tingkat yang parah sehingga mereka harus menjalani hari-harinya tanpa ketersediaan makanan baik itu diakibatkan oleh tidak adanya daya beli (uang), tidak adanya akses terhadap makanan atau sumberdaya lainnya, sebagaimana yang didefinisikan oleh UN dalam Global Hunger Report. Tentu menjadi sangat krusial untuk ditelusuri apa akar penyebabnya juga bagaimana solusi terbaiknya.  Berikut adalah sebagian data dan fakta utama tentang kelaparan di dunia menurut laporan FAO,2020 “The state of Food and Nutrition in The World”:

  1. Berdasarkan data terakhir sebelum pandemi COVID-19 melanda, terdapat sekitar 690 juta jiwa atau 8.9% dari populasi dunia yang mengalami kelaparan. Artinya 1 dari 12 orang tetangga kita tidur dalam kondisi kelaparan.
  2. Angka kelaparan meningkat sebanyak 10 juta jiwa setiap tahunnya dan sudah hampir mencapai 60 juta jiwa dalam lima tahun terakhir.
  3.  Di tahun 2019, terdapat 750 juta jiwa atau 1 dari 10 orang yang terdampak kerawanan pangan yang sangat parah (severe food insecurity).
  4. Pada tingkat kerawanan pangan moderat (sedang), terdapat sekitar dua juta jiwa yang tidak memiliki akses terhadap makanan yang aman, bernutrisi dan cukup di dunia.
  5. Jika tren kelaparan berlanjut maka akan mustahil bagi dunia untuk mencapai “Zero Hunger” di tahun 2030 sebagaimana yang dicanangkan UN pada Sustainable Development Goals 2015, justru diestimasikan sekitar 840 juta jiwa akan mengalami kelaparan di tahun 2030.
  6. Pandemi COVID-19 memungkinkan untuk menambah angka kelaparan sekitar 83 hingga 132 juta jiwa pada tahun 2020 tergantung pada skenario pertumbuhan ekonomi.
  7. Terdapat 21.3% (144 juta jiwa) anak-anak di bawah usia 5 tahun yang mengalami stunting yakni ganggungan pertumbuhan tinggi badan akibat kekurang gizi kronis, 6.9% (47 juta jiwa) mengalami wasting atau terjadinya penurunan berat badan secara akut meskipun tinggi badan tetap bertambah,  dan 5.6% (38.3 juta jiwa) mengalami kelebihan berat badan (overweight).

Mencengangkan bukan? Ini hanya sebagian data dan fakta yang dilaporkan oleh lembaga terkait, realitas kehidupan dunia yang mungkin luput dari pandangan kita. Lantas apakah yang menyebabkan angka kelaparan sedemikan tingginya?

Kemiskinan, konflik dan perubahan iklim masing-masing memiliki korelasi yang kuat dalam meningkatnya kelaparan dunia. Kemiskinan menghambat seseorang untuk bisa mengakses makanan yang layak (sehat dan bergizi), akses terhadap air bersih, sistem sanitasi yang baik, fasilitas kesehatan juga pendidikan. Selanjutnya konflik juga menjadi kunci utama dalam penyebab kelaparan. Menurut UN Security council pada tahun 2018, konflik memperparah kondisi korban kelaparan dan kurang nutrisi jika berlangsung dalam waktu yang lama juga diikuti institusi yang lemah. UN menggestimasikan ada sekitar 122 hingga 144 juta anak-anak yang tinggal di negara terdampak konflik.

Adapun penyebab lain adalah perubahan iklim. Hal ini memiliki dampak serius terhadap kondisi kelaparan dunia karena secara langsung berkontribusi terhadap supply chain ketersediaan makanan. Yaitu khususnya di negara yang bertumpuh pada sumberdaya minyak atau fokus pada komoditas ekspor tertentu sehingga menurunkan akses masyarakat terhadap makanan.

Meskipun demikian, sebenarnya bumi memiliki hasil produksi yang cukup untuk memberi makanan bagi seluruh manusia di atasnya. Fenomena food waste yang telah dibahas pada artikel “Food Waste: Sebuah Anomali bagi Muslimin sebelumnya telah memaparkan angka yang cukup signifikan untuk mengentaskan kelaparan hanya dengan mengkonversi nilai food waste dengan jumlah dana yang dibutuhan United Nation (UN). Ini belum termasuk dari sumber dana yang lain seperti zakat bagi kaum muslimin yang secara spesifik diatur oleh Allah untuk mereka yang kurang beruntung. Apalagi jika potensi infak, shodaqoh dan wakaf bisa dioptimalkan dalam pengentasan kelaparan, maka bukan mustahil isu ini bisa diselesaikan. Bukankah di zaman khalifah Umar Bin Abdul Aziz, pemimpin adil yang memimpin kurang dari 29 bulan tersebut diberikan nikmat kesejahteraan bagi rakyatnya, bahkan tidak ada yang menerima zakat karena semuanya merasa tercukupi. Masyaa Allah.

Kemudian, para petani kecil, peternak juga nelayan memproduksi sekitar 70% dari Global food supply namun sayangnya mereka adalah yang paling rentan terhadap kerawanan pangan dan kemiskinan di antara populasi rural area. Artinya ada yang tidak normal dalam sistem makanan dunia hari ini.

Sebagaimana yang diketahui bersama bahwa ada dua sistem ekonomi yang mendominasi di dunia, kapitalis dan sosialis. Sederhananya, Sistem ekonomi kapitalis bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan, sehingga produksi pangan akan difokuskan pada konsumen yang memiliki daya beli saja. Sistem produksi berdasarkan penekanan biaya produksi atau menetapkan harga jual yang relatif lebih tinggi untuk memaksimalkan keuntungan.

Kesejahteraan pekerja, kerusakan alam , nutrisi dalam produk bukanlah prioritas. Karena tujuannya adalah eksploitasi sumberdaya untuk maksimalisasi keuntungan. Maka jangan heran, semakin berkembangnya sistem ini, semakin tinggi pula tingkat kemiskinan dan kelaparan. Karena masyarakat miskin tidak memiliki daya beli, atau kalaupun bisa membeli maka pangan yang diperoleh adalah pagan dengan kualitas buruk, tidak menyehatkan, miskin nutrisi, sehingga kelaparan akan tetap menjadi isu di sistem ini. Di sisi lain, kelebihan pangan di “pasar” akan menjadi foodwaste  karena tidak terserap konsumen.

Adapun sistem ekonomi sosialis, sistem yang bertumpuh pada kekuatan mutlak pemerintah. Pemerintah berhak menentukan jenis tanaman apa yang perlu diproduksi, dan dibeli dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Sistem ini membuat petani sengsara, karena mematikan produktifitas petani. Selain itu konsumen akan kesulitan mengakses ketersediaan pangan, yang pada akhirnya kelaparan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem ini. Lihat saja bagaimana Venezuela, negara kaya minyak namun masyarakatnya harus mengantri lebih dari lima jam untuk memperoleh bahan makanan.

Lalu bagaimana posisi Islam di antara dua kutub ekstrem ini terkait isu kelaparan?

Ekonomi yang berdasaran nilai Islam, pasar berjalan melalui mekanisme pasar. Pemerintah hanya bertugas memastikan bahwa tidak ada fakto-faktor yang bisa merusak kerja pasar. Artinya, setiap produsen dan konsumen memilik hak yang sama untuk bisa mengakses pasar dengan harga yang adil. Produsen pangan menjadi produktif karena zakat (jika muslim) baik itu di sektor pertanian maupun perdagangan sama sekali tidak memberatkan. Yakni, 5% sd 10% untuk hasil pertanian tergantung jenis pengairannya dan 2.5% untuk perdagangan setelah dikurangi beban.

Angka tersebut di atas akan dialokasikan untuk delapan golongan penerima hak termasuk orang-orang yang miskin yang paling terdampak kelaparan. Maka jika hari ini 70% pangan dunia dihasilkan oleh para petani kecil, artinya secara kasar ada sekitar 7% hak orang miskin disana termasuk para petani itu sendiri. Ini belum termasuk instrumen Islam lainnya yang bisa dioptimalkan. Dengan demikian baik konsumen yang memiliki daya beli ataupun tidak, akan memperoleh hak yang sama terhadap pangan.

Dalam sistem produksi, Islam juga memerintahkan umatnya untuk memproduksi dengan cara yang tidak merusak. Artinya tidak ada eksploitasi, tanah wajib dimakmurkan dengan cara yang sustainable bukan dengan sistem pertanian berbasis kimia (pupuk dan pestisida) sehingga  lingkungan akan tetap sehat, hasil produksi yang dikonsumsi konsumen juga sehat dan kaya nutrisi (halal dan thayyib). Selain itu, dari sisi konsumen, Islam melarang manusia untuk mengonsumsi secara berlebih-lebihan dan dianjurkan untuk memilih gaya hidup zuhd (sederhana). Artinya, konsumen memiliki kesadaran yang tinggi saat melakukan kegiatan konsumsi yang mana akan berdampak pada kesehatan diri juga kesehatan lingkungan juga sosial. Ini hanya sekilas yang bisa penulis paparkan, karena sesungguhnya ilmu dalam Islam begitu luas, semakin dipelajari semakin menginspirasi kebaikan, solutif untuk setiap umat di setiap zaman.

Dengan demikian isu kelaparan bukan hanya masalah yang penting untuk diselesaikan bersama, namun juga cara Allah menunjukan betapa komprehensifnya Islam dalam mengatasi masalah tersebut. Dan tugas kita sebagai muslim adalah bagaimana mendekatkan diri dengan Islam agar menjadi bagian dari solusi terbaik berbasis wahyu (Alquran dan Assunnah).

“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan di hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” QS. Al Balad: 12-16

Ini segelintir dari banyak ayat dan hadith yang berbicara perihal keutamaan memberi makan pada orang yang kelaparan. Semoga ayat ini menginspirasi kita semua untuk lebih sensitif dengan keluarga, kerabat, tetangga, umat manusia pada umumnya juga alam sekitar dalam menjadi bagian dari solusi yang nyata.

Berikut adalah sedikit tips sederhana untuk mereka yang ingin berbagi :

  1. Jika memiliki kelebihan, ibu boleh menjadikan kegiatan bulanan untuk memasak dan berbagi dengan warga sekitar yang membutuhkan.
  2. Lebih praktis, ibu bisa memesan makanan untuk dibagikan, tapi usahakan untuk memesan dari warung-warung kecil (hanya contoh) seperti warteg atau warung padang. Setidaknya bukan dari restoran junkfood yang miskin nutrisi dan tidak menyehatkan.
  3. Ibu bisa mengajak keluarga untuk berdonasi langsung baik itu zakat atau shodaqoh sunnah lainnya di lembaga-lembaga yang amanah pada program sosial terkait.
  4. Ibu juga bisa mencari informasi komunitas petani organik lokal (Community Supported Agriculture) di sekitar tempat tinggal ibu untuk menjadi konsumen dari mereka. Dengan begitu ibu tidak hanya menyehatkan keluarga dengan makanan yang halal dan thayyib tapi juga ikut menyehatkan lingkungan juga ekonomi petani
  5. Why not to grow your own food? Lahan sekecil apapun jika dikelola dengan baik akan memberikan manfaat untuk kita. Perlahan, nikmati prosesnya. Sudah banyak komunitas home edible graden lho yang siap untuk membekali ibu dengan ilmu menanam di lahan sempit.

Wallahua’lam

Sekian, tetap semangat, semoga bermanfaat. Barakallah fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *