Food Waste: Sebuah Anomali Bagi Muslimin

Food Waste dan Food Loss adalah dua istilah yang beberapa tahun terakhir ini cukup viral di kalangan masyarakat, terlebih saat muslimin menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Di Jakarta sendiri, sampah makanan meningkat hingga 20% dari biasanya sebagaimana berita yang dipublikasikan oleh Republika.co.id bulan April lalu.

Bagaimana bisa Food Waste dan Food Loss yang konotasinya negatif disandingkan dengan bulan semulia Ramadhan. Tentu, fenomena in i bukanlah hal yang normal. Karena cukup banyak ayat dan hadits yang berbicara tentang pola konsumsi berkelanjutan (sustainable consumption), di mana perilaku Ishraf dan Tabzir adalah hal yang terlarang, tidak disukai Allah.

Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih dalam, mari kita kenali apa itu Food Waste dan Food Loss. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), Food Waste adalah makanan yang masih layak untuk dikonsumsi namun karena alasan tertentu tidak dimanfaatkan lantas dibuang dan berakhir di TPA. Sedangkan Food Loss merupakan makanan yang rusak sebelum konsumen dapat menikmatinya, biasanya ini terjadi dalam rantai distribusi dari produsen ke konsumen. Keduanya memiliki dampak yang serius bagi kesehatan bumi dan manusia jika tidak dikelola dengan bijak.

Menurut data FAO (2011), rata-rata setiap tahunnya, 1/3 hasil produksi makanan secara global berakhir sebagai Food Waste or Loss, angka ini setara dengan 750 juta dollar Amerika atau setara dengan 11,2 Triliyun rupiah. Lebih dari itu, apabila 1/3 makanan yang terbuang ini disimpan, maka sudah cukup untuk mengatasi tingkat kelaparan dunia. Maasya Allah.

Baik, selanjutnya penulis akan menggunakan istilah Food Waste untuk mewakili keduanya dalam artikel ini.

Lantas apa saja dampak dari Food Waste terhadap bumi beserta isinya?

Gas metana yang dihasilkan oleh Food Waste merupakan contributor terbesar kedua pada greenhouse gas, pencetus global warming. Gas ini 21 kali lebih tinggi tingkat pemanasannya dibandingkan karbon dioksida (CO2). Artinya, semakin banyak gas ini dihasilkan akan semakin tinggi proses pemanasan global. Selain itu, tumpukan Food Waste bisa menyebabkan ledakan di lokasi sampah tersebut yang bisa mengancam hidup manusia dan lingkungan sekitar. Sebagaimana yang terjadi pada tahun 2005, ledakan gas metana akibat Food Waste menyebabkan longsor sampah dan menelan 157 korban jiwa serta dua desa hilang tergulung longsoran sampah, tragedi ini terjadi di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Mengerikan bukan? Disaat yang sama, Food Waste juga menjadi sumber penyakit yang mengancam ekosistem bumi, seperti polusi tanah, air dan udara. Tentu ini akan menganggu keseimbangan siklus hidup spesis di dalamnya, termasuk manusia.

Jika dicermati lebih dalam, sebenarnya ada fakta yang lebih menarik dari fenomena Food Waste ini. Tentang adanya sebuah anomali antara Food Waste dan kaum muslimin terlebih di bulan Ramadhan yang mulia.

Menurut data Food Sustainable Index, tiga negara yang paling banyak menghasilkan Food Waste adalah USA, Indonesia dan UEA dengan total angka 277 kg, 300kg dan 427kg per orang setiap tahunnya.  Angka ini cukup menjadi bahan introspeksi untuk seluruh muslimin yang berada di dua negara ini. Indikator tentang jarak yang lebar antara muslimin dari panduan hidupnya, literatur terbaik, Alquran dan Assunnah yang secara rinci mengatur tentang pola konsumsi kaum muslimin.

Secara eksplisit Allah ta’ala menyatakan di berbagai ayat tentang larangan Ishraf dan Tabzir, yakni pola hidup berlebih-lebihan yang menyerupai perilaku syaitan, berikut beberapa ayat yang membahas tentang larangan perilaku konsumtif :

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al-A’raf : 31)

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur? hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al-Isra’: 26-27)

Terlebih, di saat muslimin ditempa oleh Allah untuk naik kelas menjadi orang-orang bertakwa, puncak aktualisasi sebagai orang beriman dengan disyariatkannya bulan ramadhan. Justru, perilaku konsumtif semakin meningkat. Padahal berpuasa di bulan ramadhan tidak hanya tentang menahan lapar dan haus, tapi menahan diri dari semua perbuatan buruk dari menyakiti diri sendiri, orang lain dan alam sekitar. Puasa adalah media untuk melatih spiritualitas muslimin untuk kembali pada fitrah penciptaanNya. Sungguh ironi, di bulan yang penuh kebaikan itu ternodai dengan fenomena Food Waste yang semestinya berkurang.

Syukur Alhamdulillah, saat ini mulai banyak komunitas yang aktif mengkampanyekan isu Food Waste serta turut memberikan solusi pengelolaan sisa organik secara bijak, yakni salah satunya dengan mengompos.

Mengompos adalah solusi kuratif yang tepat, karena dengan mengompos, sisa organik akan “naik kelas” menjadi pupuk. Baik berbentuk padat atau bisa juga dalam bentuk cairan multiguna yang bisa dimanfaatkan kebutuhan pertanian juga rumah tangga.

Namun ada langkah yang lebih powerful dalam mengatasi Food Waste, yakni dengan gerakan konsumsi yang didasari oleh iman, berkesadaran akan dampaknya terhadap kesehatan diri juga lingkungan. Ini akan meminimalisir sisa organik secara masif. Mengonsumsi berkesadaran artinya mengonsumsi seperlunya dengan cara menyediakan porsi makanan sesuai kebutuhan harian atau biasa dikenal dengan metode food preparation. Dengan demikian proses ini dapat mencegah terjadinya kerusakan bahan makanan sebelum dikonsumi dan juga menekan sisa organik pasca konsumsi. Sisa organik hanya akan bersumber dari kulit buah, sayuran, telur juga tulang protein hewani. Bukan lagi dari sisa makanan yang masih layak konsumsi.

Coba ibu bayangkan, dengan jumlah populasi Indonesia yang mencapai 271 juta jiwa, jika setiap penduduk Indonesia meninggalkan satu biji nasi saja per hari, maka akan ada 4,238 ton beras yang terbuang setiap harinya. Padahal dengan angka ini cukup memberi makan 14,132 orang sebanyak tiga kali sehari. Bayangkan jika ada lebih banyak makanan yang terbuang setiap harinya?

Dengan demikian, Ibu memiliki peran yang sangat penting dalam isu ini. Karena sunnatullahnya atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat kita, Ibu yang berperan dalam mengelolah makanan di rumah, mulai dari membeli, memasak, menyajikan hingga membereskannya. Jika dalam prosesnya Ibu memahami betul kebutuhan makanan keluarganya, tentu Food Waste dapat dicegah dari setiap piring anggota keluarga.

Menyemangati anggota keluarga untuk senantiasa menghabiskan makanan adalah bentuk edukasi dari Ibu dalam rangka merawat bumi Allah sekaligus menanamkan karakter kepada anggota keluarga untuk senantiasa bersyukur dan bertanggung jawab atas rezeki yang telah Allah berikan kepada anggota keluarga.

Adapun sisa organik yang tidak layak konsumsi dapat dikelolah dengan beberapa cara mengompos yang disesuaikan dengan kondisi rumah tangga masing-masing. Ibu bisa menyediakan tempat terpisah untuk sisa organik di dapur. Selanjutnya ibu bisa memilih metode apa yang paling tepat untuk mengelolahnya. Bagi yang memiliki lahan tanah, metode biopori cukup efektif dan efesien untuk proses pengomposan. Adapun untuk mereka yang tinggal di flat atau apartemen, ibu mungkin bisa memilih metode bokashi atau menyimpannya sementara di freezer untuk setelahnya disalurkan ke pusat kompos terdekat. Dengan demikian, Food Waste bisa dimanfaatkan kembali oleh manusia dalam proses merawat bumi Allah.

Dan yang terpenting adalah bagaimana ibu mampu mengambil peran untuk menumbuhkan sensitifitas anggota keluarga untuk mereset pola konsumsi yang lebih berkesedaran sebagai bagian dari amal sholih menjalankan peran hamba sekaligus khalifa di muka bumi.

Semoga ayat berikut dapat menginspirasi kita untuk semakin berkesadaran dalam kegiatan konsumsi, sehingga tidak menjadi bagian dari apa yang Allah larang.

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS Al-An’am : 141)

Wallahua’alam

Tetap semangat, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *