Loading...
Parenting

Waktu Terbaik Menasehati Anak

Belakangan ini, saya sering kewalahan menghadapi tingkah polah putri kecil saya, Kinan (2 tahun, 9 bulan). Si kecil yang cukup aktif dan semakin kritis seringkali membuat saya harus punya banyak stok kesabaran. Belum lagi karena Kinan sedang toilet training dan kebetulan suami sedang cukup sering dinas keluar kota. Mungkin dua hal ini juga yang menyebabkan Kinan semakin sering menolak dan melakukan hal yang berlawanan dari yang saya minta.

Misalnya, menolak mandi dan malah sengaja bersembunyi di lemari, padahal sebelumnya sudah berjanji dan meyakinkan saya mandi sore itu akan kami lalui tanpa drama. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Mandi sore itu penuh drama dan air mata, sepertinya ekspektasi saya yang ketinggian. Berulang kali saya mencoba menasehati Kinan seketika setelah kejadian, sebagian berhasil, sebagian mental dan hanya menguras energi saya. Kinan cuek saja dan asyik bermain dengan apa saja yang ada di dekatnya.

Kemudian saya menyadari bahwa yang saya lakukan; waktu yang saya pilih untuk menasehati Kinan kurang tepat, sehingga menjadi kurang efektif bagi kami berdua. Alih-alih duduk manis mendengarkan, terkadang saya diabaikan begitu saja dan berujung kehabisan stok kesabaran. Namun saya selalu yakin semua akan ada solusinya, hingga saya membaca buku dan menemukan topik yang membahas mengenai waktu yang tepat untuk menasehati anak, supaya berkesan dan tepat sasaran.

Memberikan nasihat pada waktu yang tepat ternyata mempunyai pengaruh besar, baik bagi anak, maupun bagi kita, orang tuanya. Oleh sebab itu, sebagai orang tua, kita harus pandai memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan nasihat pada anak-anak kita. Dengan demikian, nasihat yang diberikan dapat berkesan dengan kalimat-kalimat yang kita ucapkan dan nasihat tersebut tidak hanya didengar, namun juga diterima hati anak-anak kita. Terdapat tiga pilihan waktu yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Untuk memberi nasihat kepada anak-anak:

1.Saat di perjalanan

Salah satu waktu yang tepat untuk menasihati anak adalah ketika sedang berada di perjalanan atau beda di kendaraan. Terdapat kisah ketika Rasullullah saw. “Jagalah Allah, kamu pasti dijaga-Nya…!” Sabda Rasulullah saw. Nasihat serius dan penuh makna tersebut disampaikan Rasul kepada Ibnu Abbas ketika sedang berada diperjalanan.

Hal ini cukup sering juga saya lakukan, ketika sedang bepergian (biasanya dengan mobil) saya sering mengajak Kinan mengobrol dan membahas apa saja yang kami temui di jalan. Dari situ, saya menyelipkan pelajaran untuk Kinan.

Tuh, Kak kotor banget ya trotoarnya, banyak sampah.”

“Kalau kayak gitu sholih nggak kira-kira? Harusnya gimana?”

Dimulai dari hal yang kecil dan sederhana namun saya berharap hal tersebut dapat membangun karakternya kelak.

2. Saat makan

Waktu makan adalah kesempatan terbaik bagi orang tua untuk memberi nasihat pada anak-anak. Banyak hal yang dapat disampaikan dan diamati pada waktu makan. Misalnya saja mengenai sopan santun ketika makan dan adab ketika makan. Seperti yang diriwayatkan H.R Bukhari dan Muslim:

Umar bin Salamah R.A berkata, “Ketika masih anak-anak, aku pernah dipangku Rasulullah saw. Tanganku melayang ke arah sebuah nampan berisi makanan. Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘Nak, bacalah basmallah, lalu makanlah dengan tangan kanan dan ambillah makanan yang terdekat denganmu!’ Maka seperti itulah cara makanku seterusnya”.

Kesalahan yang dilakukan anak-anak di meja makan dapat segera kita luruskan, supaya kebiasaan buruk tersebut tidak terbawa hingga dewasa. Tentu tidak dapat langsung terlihat hasilnya, namun kita harus sabar dan terus menerus mengingatkan anak kita. Selain itu, waktu makan adalah waktu berkumpul dan salah satu quality time di keluarga saya, sejak sebelum saya menikah. Kami terbiasa saling bertukar cerita di meja makan.

3. Ketika anak sakit

Kebanyakan orang, baik dewasa maupun anak-anak, akan menjadi lebih lembut dan sensitif perasaannya ketika sedang sakit.  Hal ini dapat dijadikan salah satu waktu pilihan untuk memberikan nasihat-nasihat. Untuk pilihan waktu yang ini, saya rasa lebih tepat dilakukan untuk anak-anak usia di atas 7 tahun. Bagi anak balita, agaknya kurang bisa saya terapkan.

 

Satu lagi waktu yang menurut saya pribadi cukup ampuh dan tepat untuk memberi wejangan kepada anak saya, yaitu waktu sebelum tidur. Saat sebelum tidur adalah waktu yang cukup tenang dan kondusif di rumah saya. Saya dan Kinan juga terbiasa bercerita tentang apa saja yang terjadi hari itu. Walaupun sebagian besar kami melalui bersama, kami tetap saling bercerita. Saya masih lebih banyak memancing Kinan bercerita, secara urut dan detail kemudian dari cerita tersebut saya selipkan nasihat-nasihat untuk Kinan, saya ulang beberapa kali, dan Kinan ceritakan kembali. Bagi kami, hal itu cukup efektif dan dapat memperkuat bonding kami berdua.

 

Referensi:
Buku Cara Nabi Mendidik Anak, karya Ir. Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, Penerbit Al I’tishom Cahaya Umat 2004

Leave a Reply