Loading...
Parenting

Teladan Rasulullah Bersama Si Kecil

Dalam buku Manhaj at Tariyyah an-Nabawiyyah lith Thifl, yang diterjemahkan menjadi “Prophetic Parenting: Cara Nabi Mendidik Anak”, rasulullah SAW adalah sosok penyayang anak-anak. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid menulis beberapa bagian yang mengulas tata cara dan sunnah Rasul SAW saat berinteraksi dengan anak-anak. Rasulullah mengucapkan salam terlebih dulu saat beliau lewat di hadapan anak-anak. Rasulullah bermain, berbagi makanan, mencium dan menggendong anak-anak. Rasul tidak membiarkan anak-anak sendiri. Nabi SAW biasa mengajak anak-anak hadir dalam majelis, undangan atau perayaan yang dibolehkan syariat. Dalam uraian agenda rasulullah bersama anak-anak tersebut, dapat kita ambil beberapa sudut pandang pendidikan.

Pertama, rasulullah mengajarkan doa keselamatan kepada si kecil sebagai sapaan pertama/memulai pembicaraan. Hal ini kadang terlewat oleh kita. Umumnya orang menyapa anak kecil dengan “halo, hai adik”. Padahal telah kita fahami bahwa anak-anak itu suci/fitrah, maka siapapun mereka dan dari keluarga manapun berhak mendapatkan sapaan salam dari kita. Bahkan jika ada waktu, perlahan kenalkan betapa mendalam makna salam kepada anak-anak sesuai bahasa mereka.

Kedua, Bermain bersama. Dunia anak adalah dunia bermain. Semua yang ia temui akan dipahaminya sebagai suatu permainan. Rasulullah sering mencandai anak-anak, ikut mereka bermain, mengusap kepala mereka dan memanggil dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Terkadang sebagian dari anak-anak itu menaiki punggung Rasulullah. Bahkan ketika shalat pun, rasulullah rela memperlama sujudnya tersebab ada hasan dan husain sedang naik ke punggung beliau. Ketika ditanya sahabat setelah shalat, beliau menjawab “anakku (cucuku) ini menunggangi aku, dan aku tidak ingin terburu-buru agar dia puas bermain.” 1). Juga ketika menggendong cucu beliau sewaktu shalat, rasulullah dengan penuh kelembutan tetap menjaga kenyamanan si kecil. 2)

Di luar masjid, rasulullah pun sangat antusias dalam menggembirakan anak-anak. Rasulullah segera menghampirinya (ketika husein bermain) di hadapan banyak orang. Beliau membentangkan kedua tangannya lalu anak itu lari ke sana kemari dan Nabi mencandainya agar tertawa sampai beliau (berhasil) memegangnya lalu beliau letakkan salah satu tangannya di bawah dagu anak tersebut dan yang lain di tengah-tengah kepalanya kemudian Rasulullah menciumnya, dan mendoakannya. 3)

Ketiga, rasulullah berbagi makanan kepada anak-anak. Hal yang lumrah bagi kita semua bahwa kebutuhan dasar manusia/anak-anak adalah makanan. Bahkan ketika di majelis ada hadiah makanan/yang lainnya, rasulullah akan memberikan pertama-tama kepada anak-anak yang hadir di majelis tersebut. Ketika kita telah memenuhi kepuasan si kecil, mereka pun nyaman bermain (tidak menangis) sehingga kemudian dengan tenang bisa menerima/memahami nilai-nilai yang kita tanamkan. Namun di satu sisi, Abu Hurairah pernah meriwayatkan suatu ketika Hasan dan Husain bermain-main di dekat kumpulan kurma untuk sedekah. Salah satu dari mereka memasukkan kurma ke mulut. Saat Rasulullah melihat, Rasulullah mengeluarkan kurma dari mulut mereka dan mengatakan Muhammad dan keturunannya tidak memakan sedekah.

Sudah menjadi ketentuan agama bahwa keluarga nabi tidak boleh memakan harta halal bersumber dari sedekah/zakat, apalagi harta haram tentu terlarang. Ini catatan penting pendidikan kepada anak dan orang tua agar hati-hati dalam memilihkan makanan untuk buah hati. Kita harus mampu menjamin halal dan thayyibnya makanan yang kita berikan, karena akan berpengaruh pada keberkahan tumbuh kembang anak.

Rasulullah juga pernah memberikan peringatan kepada Umar ibnu Abu Salamah saat mereka makan bersama beberapa Muslim dewasa. Bukhari meriwayatkan kala itu Umar ibnu Abu Salamah menyentuhkan tangannya di berbagai makanan. Melihat itu, Rasulullah memintanya mendekat dan bersabda, ”Bacalah Bismillah sebelum makan, gunakan tangan kananmu dan makanlah apa yang ada di hadapanmu,”. Dengan tutur kata yang lembut, pendidikan adab, akhlak tetap harus ditegakkan kepada anak-anak.

Keempat, mencium dan menggendong, sekaligus memeluk adalah ekspresi kasih sayang yang paling dekat. Karena ungkapan cinta ini disertai dengan sentuhan fisik yang mampu menghangatkan jiwa dan raga si kecil. Kenyamanan hati menjadi kunci tumbuh kembang anak-anak secara lebih optimal dan sempurna. Rasulullah tak segan melakukannya kepada siapapun anak kecil yang ada di dekatnya. Padahal adat bangsa Arab ketika itu, bermain bersama anak-anak adalah aib dan menghilangkan wibawa. Rasulullah merubah mindset peradaban.

Dan ini kemudian terbukti penelitian Linda Ji Wei, seorang psikolog perkembangan menyatakan bahwa anak yang tumbuh dengan sering dipeluk, dicium, digendong orang tuanya maka ketika dewasa beresiko lebih kecil untuk terkena pergaulan bebas, LGBT, dll. Simpelnya apabila sang anak cukup mendpat pelukan di rumah, ia tak akan mencari pelukan lain di luar rumah.

kelima, rasulullah meneladankan kepada kita agar mengajak si kecil ke majelis, perayaan islam atau acara semisal. Sejak dini, teladan ini adalah cara memberikan pendidikan kepada anak agar cinta terhadap ilmu dan syiar Islam. Selain itu, di dalam majelis juga akan ada kesadaran ukhuwah, mendidik anak untuk mencintai teman-temannya, menghormati yang tua serta mencintai guru. Kesadaran berilmu ini penting karena Allah tegas menyatakan adanya kemuliaan dan derajat yang tinggi kepada mereka yang berilmu. Dalam artikel berjudul “Mencetak Generasi Cinta Ilmu” yang pernah dipublikasikan di website kita bersama therealummi.com, pernah disampaikan bahwa ilmu mememiliki keutamaan yang sangat tinggi dalam Islam.

Kembali kepada teladan nabi khususnya tentang ilmu. kita bisa memberikan dengan berbagai cara bersama si kecil untuk menanamkan kecintaan kepada ilmu, diantaranya:

  1. Mengagendakan secara rutin menghadiri kajian bersama keluarga. Tentunya, kita memilih kajian yang sesuai dengan lokasi dan waktu sesuai preferensi dan tentu dalam jangkauan kita. Dengan membiasakan si kecil menghadiri kajian sejak kecil, semoga meninggalkan jejak di hati putra-putri kita bahwa kita menjadi teladan bagi mereka untuk mencintai ilmu.
  2. Mengajak si kecil ke perpustakaan terdekat domisili kita berada. Biasanya beberapa perpustakaan menyediakan fasilitas ataupun ruang membaca untuk anak kecil. Selain buku-buku sesuai usianya, beberapa perpustakaan menyediakan berbagai mainan edukasi untuk si kecil. Meskipun putra-putri kita tidak selalu membaca selama berada di perpustakaan, setidaknya mereka dapat mengenal dan merasakan suasa perpustakaan.
  3. Ketika kita memiliki agenda tertentu, sebisa mungkin si kecil turut serta. Selain meningkatkan bonding, kebersamaan dengan si kecil memungkinkan kita untuk menanamkan dan menyelipkan nilai dan nasehat ketika dalam perjalanan, atau jeda-jeda aktifitas. Kami sendiri, sejak awal sepakat untuk sebisa mungkin mengajak si kecil bermobilitas bersama. Dan ada kalanya hanya bersama salah satu dari kami, saling bergantian. Dengan demikian, tumbuh kembang si kecil bisa maksimal terdampingi oleh minimal salah satu dari abi atau umminya.

Oleh: Lisa Listiana

referensi hadist: Rumah Fiqih dan berbagai sumber

Note:

  1. )Dari Syaddan Al-Laitsi radhiyallahuanhu berkata,”Rasulullah SAW keluar untuk shalat di siang hari entah dzhuhur atau ashar, sambil menggendong salah satu cucu beliau, entah Hasan atau Husain. Ketika sujud, beliau melakukannya panjang sekali. Lalu aku mengangkat kepalaku, ternyata ada anak kecil berada di atas punggung beliau SAW. Maka Aku kembali sujud. Ketika Rasulullah SAW telah selesai shalat, orang-orang bertanya,”Ya Rasulullah, Anda sujud lama sekali hingga kami mengira sesuatu telah terjadi atau turun wahyu”. Beliau SAW menjawab,”Semua itu tidak terjadi, tetapi anakku (cucuku) ini menunggangi aku, dan aku tidak ingin terburu-buru agar dia puas bermain. (HR. Ahmad, An-Nasai dan Al-Hakim).
  2. )Dari Abi Qatadah radhiyallahuanhu berkata, Aku pernah melihat Nabi SAW mengimami orang shalat, sedangkan Umamah binti Abil-Ash yang juga anak perempuan dari puteri beliau, Zainab berada pada gendongannya. Bila beliau SAW ruku’ anak itu diletakkannya dan bila beliau bangun dari sujud digendongnya kembali (HR. Muslim)
  3. )Dari Ya’la bin Murrah ia berkata, “Kami keluar bersama Nabi lalu kami diundang untuk makan. Tiba-tiba Husain sedang bermain di jalan, maka Rasulullah segera (menghampirinya) di hadapan banyak orang. Beliau membentangkan kedua tangannya lalu anak itu lari ke sana kemari dan Nabi mencandainya agar tertawa sampai beliau (berhasil) memegangnya lalu beliau letakkan salah satu tangannya di bawah dagu anak tersebut dan yang lain di tengah-tengah kepalanya kemudian Rasulullah menciumnya,”(HR. Bukhari).
Leave a Reply