Saat Menyapih, Dekap Erat Imanmu

Di zaman ini, banyak terlihat bagaimana keimanan semakin nampak tak berarti. Orang-orang bertindak seakan hanya ingin menyelesaikan tugasnya, tanpa peduli apakah yang dikerjakannya akan berdampak pada akhiratnya atau tidak. Setidaknya itu yang dapat saya simpulkan ketika kembali mundur ke masa sewaktu saya pertama kalinya berhadapan dengan saat menyapih Abdurrahman, putra pertama saya.
Sebagai “mahmud” alias mamah muda ketika itu, begitu banyak saran dari orang sekitar terkait dengan pengalaman mereka menyapih. Maksud mereka sebenarnya baik, ingin berbagi. Namun dalam hal ini, menerima maksud baik saja tidaklah cukup. Seorang ibu tentunya akan diminta pertanggungjawabannya kelak atas setiap keputusan yang dibuatnya, termasuk menyapih. Ketika itu, saran yang datang kepada saya adalah :
  1. “Dikasih yang pait-pait aja, anakku langsung kapok nggak nyusu lagi.”
  2. “Saya pakai plester, Mbak, jadi terus nggak mau lagi dia.”
  3. “Pakai obat merah aja, gampang itu, nanti langsung nggak mau anaknya.”
  4. “Saya ke ‘orang pinter’, Mbak, dikasih beberapa syarat biar nggak nangis anak’e pas disapih.”
Dan ada beberapa saran lainnya yang serupa tapi tak sama. Kalau dibaca kembali, poin nomor 1 hingga 4, yang mana yang paling membuat dada tak nyaman?
Poin nomor 4 buat saya itu adalah sebuah kenyataan sekaligus cerminan bagaimana sebuah keimanan begitu mudahnya tergadaikan. Mirisnya lagi, usaha yang penuh kesyirikan itu pun tak berhasil memberikan yang diharap si ibu. Naudzubillahi min dzalik. Sedih, miris, gemas, ingin marah, ketika mendengar saran itu diberikan oleh seorang ibu. Seperti tidak percaya. Kok bisa tugas mulia ini diakhiri dengan kebodohan?
Maaf jika saya memakai kata itu. Tapi menyekutukan Allah itu adalah sebuah dosa besar. Apa namanya kalau bukan kebodohan ketika tugas panjang bernilai ibadah, yang dikenal sebagai masa menyusui, diakhiri dengan kesyirikan?
Semoga Allah pahamkan kita akan maksud perkataan-Nya berikut ini:
وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسٰنَ بِوَا لِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَا مَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَا لِدَيْكَ ۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”
(QS. Luqman 31: Ayat 14)
Semulia itu tugasmu, Bu. Sampai Allah Sang Pencipta menegaskannya dalam beberapa ayat-ayat-Nya.
Jelas ini tugas pilihan yang hanya diberikan untuk yang terpilih. Jika dulu munajat panjangmu untuk dapat meminang buah hati. Lalu elokkah, ketika Allah telah mengabulkan permintaanmu, lalu penyapihannya engkau pilih dengan cara yang melanggar syariatNya?
Bu, penyapihan bukan “hanya” sebuah tugas yang perlu diselesaikan “asal beres”, bukan … Ini sebuah tugas yang ketika kembalinya kita nanti, akan ditanya. Insya Allah, sahabat Muslimah tidak akan memilih nomor 4 tadi. Tapi bukan berarti nomor 1-3 dapat dijadikan pilihan. Izinkan saya berbagi sedikit pengalaman ketika menyapih Abdurrahman dan adiknya, Hannah.
Mendengar berbagai saran, mulai dari yang sangat tidak pas di hati saya, hingga yang kekinian seperti ??????? ???ℎ ????, yang saya lakukan ketika itu adalah ??????? ???????? ???? ?????. Hal ini saya persiapkan setahun sebelum menyapih Abdurrahman. Meskipun saya bukan planner sejati, namun untuk hal mulai dari kehamilan, penyapihan hingga pengasuhan, saya sangat sadar akan minimnya ilmu saya. Sehingga keingintahuan saya sangat tinggi, lalu ‘kepo’ berlanjut untuk ??????? ???? ???? ?????? ???? ?????? ???????-???.
Alhamdulillah tak berselang lama, seorang sahabat di group WA membagikan artikel dari laman Parenting Nabawiyah, asuhan ustadz Budi Ashari, Lc. Sesaat setelah menyelesaikan membaca, hati kecil saya langsung merespon, “Ini dia jawabannya!” . Saya memutuskan untuk ???????? ?????? ??????????? ?????? ????????. Sambil bertujuan menyapih, juga mengenalkan Abdurrahman pada Sang Pencipta. Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui, biidznillah.
Ketika Abdurrahman berusia 18 bulan, hampir di setiap saat saya menyusui, saya selalu menyampaikan, “Nak, enam bulan lagi, Kakak sudah nggak nyusu Umma lagi, ya. Allah yang perintahkan. Kita ini hambanya Allah, jadi harus nurut dengan perintah-Nya.”. Saat itu, reaksinya hanya menyusu saja, seolah tidak paham apa yang saya sampaikan. Tapi saya yakin, Allah telah berikan fitrah keimanan akan seorang hamba yang taat pada syariat-Nya.
Alhamdulillah, hingga tanggal 15 Rajab, sehari sebelum usianya dua tahun, saya mengingatkan kembali, “Nak, besok usiamu sudah dua tahun, sudah ya menyusunya. Akan ada tugas lainnya dari Allah setelah itu.”
Keesokan harinya, saya mengingatkan kepada suami bahwa hari ini 16 Rajab. Kakak sudah berusia 2 tahun. “Semoga Allah mudahkan kita untuk sama-sama mendampingi si Kakak di hari pertamanya tanpa nyusu, ya Ba,” ujar saya. ??????????? ????? ?????-????? sangat diperlukan dalam proses ini. Pastikan restu suami tercinta pun sudah kita dapatkan sebelum mengeksekusi rencana penyapihan.
Allahu Akbar!
Allah memudahkan semuanya, telat di tanggal 16 Rajab, ia pun tidak menangis berkepanjangan. Ia menikmati minuman lainnya yang kami berikan. Saat itu, kami memilih memberikan ya air madu.
Sebagai penutup, izinkan saya berbagi sedikit tips penyapihan di saat kondisi “tidak ideal”. Tidak ideal bagi seorang manusia, tapi pastinya ini adalah takdir terbaik-Nya.
Ketika itu, qadarullah saya sakit, adiknya Abdurrahman masih berusia 14 bulan. Kami sama sekali tidak pernah merencanakan akan melakukan penyapihan dini, apalagi secara mendadak. Namun, ketika Allah berkehendak, apa yang tidak mungkin, sangat mungkin terjadi. Ketika itu, setiap saya memberikan ASI, karena cidera patah tulang plus hamil adik Kareem, saya menggigil dan demam. Akhirnya, dengan perasaan sedih, berusaha untuk rida kan takdir-Nya, saya dan suami memutuskan untuk menghentikan penyusuan.
Saya menangis dan terus ??????? ???? pada Hannah. Tak lupa saya sisipkan, “Nak, ini semua terjadi karena takdir-Nya, maafkan Umma, ya Nak. Umma terpaksa menyapih sekarang.”
Niat saya, ingin melanjutkan penyusuan setelah nyeri yang saya rasakan berkurang. Ketika mencoba memberikan ASI kembali selama beberapa kali, Hannah sudah tidak mau. Ia lebih memilih air mineral yang dicampur dengan madu. Qadarullah wa ma sya’a fa’al ….
Semoga sebagai orang tua, kita selalu dimudahkan untuk mensalihkan diri. Agar anak-anak kita menjadi anak-anak salih dan berbakti, serta selalu dalam penjagaan Allah. Semua dimulai dari kita, ayah dan bundanya.
Seorang tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-Musayyib rahimahullah pernah berkata, إني لأصلي فأذكر ولدي فأزيد في صلاتي
“Ada kalanya ketika aku shalat, aku teringat akan anakku, maka aku pun menambah shalatku (agar anak-anakku dijaga oleh Allah ta’ala).”
Hingga akhirnya tujuan akhir untuk bersama selamanya, bersama yang tercinta dapat tercapai.
Kelak di surga, Allah ta’ala pun akan mengumpulkan sang anak bersama orang tua mereka yang shalih, meskipun amalan sang anak tidak dibanding amalan orang tua.
“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath Thuur: 21).
Semoga segala pilihan kita mendapat rida-Nya, sehingga setiap lelah kita berujung keberkahan, ya Bu. Bimbing kami selalu, ya Allah.
Al-Faqir,
Lintang Putri Wibowo
#tulisanumma
#LPWtips
#menyapih
#WWL
#WeaningWithLove
#MenyapihDenganIman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *