Loading...
Parenting

Perbedaan Mendidik Anak Lelaki dan Perempuan (2)

Anak laki-laki cenderung lebih sulit untuk mengungkapkan perasaannya dengan bahasa, tidak seperti anak perempuan. Dalam buku ‘Parenting for Girls’ yang ditulis Misran Jusan, Lc., M.A. dan Armansyah, Lc., M.H., disebutkan terdapat perbedaan ukuran otak laki-laki dan perempuan yang mempengaruhi cara berpikirnya. Anak laki-laki cenderung menganalisis secara logis, sedangkan perempuan cenderung menganalisis unsur bahasa, sehingga anak laki-laki lebih fokus dalam berbicara, sedangkan anak perempuan lebih fasih dan lancar berbahasa.

Anak perempuan juga cenderung menggunakan perasaannya dalam berkomunikasi, sehingga orang tua perlu betul-betul memahaminya dengan menggali fakta lebih jauh agar tidak bersikap subjektif. Perbedaan seperti ini dapat direspon berbeda oleh orang tua, seperti menekankan pentingnya keseimbangan logika dan perasaan. Anak laki-laki dapat dilatih dan dibiasakan untuk mengekspresikan perasaan sayangnya seperti banyak dicontohkan Rasulullah SAW, pun anak perempuan juga dapat selalu diajak berpikir melatih logikanya.

Dengan mengetahui perbedaan cara komunikasi ini pula, orang tua dapat memilih teknik komunikasi yang sesuai dengan masing-masing anak, sehingga anak tetap merasa direspon dengan baik oleh orang tuanya. Anak akan lebih mudah menyampaikan pendapatnya apabila merasa dipahami, yang akan mengkokohkan keyakinan mereka untuk selalu berbagi cerita pada kita meskipun sudah beranjak dewasa.

Orang tua yang memiliki hubungan baik dengan anaknya tidak akan takut perannya tergantikan oleh teman-temannya, karena orang tua akan menjadi yang pertama dicari oleh anak untuk diajak berbicara. Hal ini juga untuk menghindar anak mencari pelampiasan lain dalam menyalurkan emosinya, seperti pacaran sebelum menikah, pergaulan bebas yang terlarang, dan lainnya.

Dari aspek emosi, anak perempuan memang cenderung memiliki kebutuhan emosional yang besar. Maka pastikan orang tua memenuhi kebutuhan emosinya, seperti meluangkan waktu berkualitas lebih lama, menemani dan mendengarkan ceritanya, serta mengekspresikan rasa sayang dengan pelukan, ciuman, dan mengelus kepalanya. Apabila kebutuhan emosionalnya kurang, anak bisa saja mencari pemenuhannya di luar keluarga. Hal ini yang perlu dihindari karena dapat membawa pengaruh negatif masuk dari luar rumah.

Anak perempuan juga cenderung lebih senang dipuji. Hal ini dapat kita temukan sesederhana dari banyaknya remaja perempuan yang senang selfie dibandingkan laki-laki. Hal ini apabila dilihat dari segi yang positif berarti perempuan dapat menghargai dirinya sendiri. Citra dirinya yang baik terbangun dengan pujian yang diberikan padanya, sehingga ia menjadi lebih percaya diri. Namun demikian, penting bagi kita untuk berhati-hati meletakkan pujian, agar jangan sampai anak perempuan merasa ia berharga hanya dari segi fisik saja. Hindari pujian yang bersifat tampak, seperti “Wah bajunya bagus ya!” atau “Kamu cantik pakai jilbab itu,” karena dapat membuat mereka merasa berharga hanya apabila memakai barang yang bagus.

Dalam video yang dibuat oleh ‘The Parenting Junkie’ di Youtube yang berjudul ‘10 Things to STOP Saying to Girls’, hal nomor satu yang perlu kita hentikan adalah: “You’re so pretty. I love your hair/nail/dress, etc.” Dalam video yang dibuat oleh The Parenting Junkie tersebut, Avital menyebutkan, “The huge emphasis on little girls’ look above anything else just reinforces an overly external and materialistic approach to women in general.” Pesan yang tersirat dari pujian fisik adalah bahwa penampilan mereka adalah yang membuat mereka berharga, dan bahwa penampilan adalah hal paling penting yang harus mereka perhatikan.

Dalam pendekatan Islam, kita dapat memberikan pujian lain yang menargetkan internal strength mereka, seperti “Terima kasih shalihah, sudah mau berbagi dengan temanmu,” atau “Wah kamu hebat sudah berani jujur pada ibu.” Penghargaan terhadap tubuh memang perlu, namun jangan sampai perhatian pada penampilan lebih menyerap sebagian besar energinya dan waktunya daripada hal-hal lain yang jauh lebih penting.

Leave a Reply