Loading...
Parenting

Perbedaan Mendidik Anak Lelaki dan Anak Perempuan (1)

Merawat dan mendidik anak adalah dua pekerjaan yang berbeda. Merawat anak saja tanpa memikirkan pendidikannya bisa disebut sebagai ‘having child’, hanya sekadar memiliki anak. Namun untuk bisa disebut ‘being parents’, kita perlu dapat merumuskan kurikulum pendidikan yang akan diberikan pada anak-anak kita.

Mendidik anak memang tidak mudah, level kesulitannya meningkat seiring dengan tumbuh kembang anak yang beranjak menjadi laki-laki dan perempuan dewasa. Saat masih anak-anak, dengan teori yang sama, kita masih bisa memperlakukan mereka dengan sama atau serupa. Namun hal ini tidak dapat dilakukan dalam jangka waktu lama, karena fitrah laki-laki dan perempuan memang berbeda sehingga akan ada pola atau kurikulum yang berbeda pula sesuai fitrahnya.

Semasa Kecil

Anak lelaki dan perempuan memiliki perbedaan mulai dari fisiologi hingga psikologi. Apabila kita sebagai orang tua tidak teliti (gagal) memahami pendidikan anak sesuai gender, dapat berdampak negatif hingga anak dewasa. Anak dapat mengalami kebingungan peran gender, orientasi seksual, depresi, atau bingung akan konsep diri dan perannya di dunia. Untuk itu diperlukan pendekatan yang tepat, yang customized sesuai karakter dan gender anak.

Sebagai fondasi, mendidik anak dalam Islam telah disampaikan dalam Al Qur-an dan hadits. Yaitu penenaman tauhid, mengetahui siapa Tuhannya yakni Allah SWT dan bagaimana cara mengimaniNya secara sederhana. Kemudian, termasuk dalam penanaman dasar tauhid /akidah adalah tentang rukun Islam, rukun Iman, serta meneladani utusanNya, rasulullah shalallahu alayhi wasallam.

Setelah itu, penting pula untuk memperkenalkan anak pada kodrat laki-laki sebagai imam dan perempuan sebagai makmum. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’ : 34)

 

Selain Rasulullah SAW sebagai idola terbaik/uswatun hasanah, kita sebagai orang tua juga bisa mengenalkan uswah/idola lain seperti shahabah dan shahabiyah Nabi kepada anak-anak. Kita dapat menceritakan kisah sahabat-sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Umar bin Khattab, dan lainnya kepada anak laki-laki untuk memupuk jiwa ksatria, tanggung jawab, ketegasan dan kepemimpinannya.

Untuk perempuan, kita dapat menceritakan kisah tentang Khadijah, Aisyah, Fatimah dan sahabiyah lainnya, untuk memotivasi mereka menjadi sebaik-baik perhiasan dunia, dengan menjadi perempuan shalihah. Si kecil juga akan memahami peran apa saja yang bisa dilakukan sebagai perempuan baik lingkungan keluarga maupun masyarakat sehingga mampu menjadi salah satu unsur penting membangun peradaban.

 

Beranjak Dewasa

Antara lelaki dan perempuan memiliki perbedaan mendasar baik psikis maupun fisik, maka perlu bagi orang tua untuk menjelaskannya. Anak perempuan, penting dijelaskan tentang perubahan organ sekundernya seperti payudara dan ia akan mengalami menstruasi. Begitu pun dengan anak laki-laki, perlu dijelaskan tentang munculnya jakun, perubahan suara, serta mimpi basah.

Perubahan ini dalam islam menandakan datangnya masa aqil baligh (pubertas), yaitu masa di mana seseorang telah wajib bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Pemahaman ini tentunya akan mampu dicerna oleh akal anak-anak kita apabila sebelumnya telah diberikan pendidikan yang cukup tentang konsep agama dan kehidupan. Sehingga kemudian anak-anak memiliki kesiapan mental menghadapi segala konsekuensi syariatnya.

Dalam perjalanannya tentu akan ada masa-masa gelisah, bingung, takut, malu, gamang, atau yang lainnya sehingga membutuhkan bimbingan dan pendampingan selalu dari orang tua dan guru. Sebab, beberapa anak yang sedang mengalami masa aqil baligh, umumnya tidak berani atau malu dalam bertanya atau curhat tentang apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Berkaitan dengan waktu, ada sedikit perbedaan antara anak perempuan dan laki-laki. Biasanya anak perempuan aqil balighnya lebih awal, sehingga orang tua perlu bersiap-siap lebih awal pula dalam memberikan pendidikan terkait kematangan seksual ini.

Setelah anak menyadari perubahan fisik yang dialami serta perbedaan gendernya, orang tua dapat menekankan pentingnya menutup aurat. Sejak kecil, perbedaan aurat laki-laki dan perempuan sebaiknya sudah harus diajarkan agar anak mengenal rasa malu. Hal ini meliputi bagian mana saja yang boleh dilihat orang lain, serta siapa saja yang boleh melihat aurat mereka.

Setelah memasuki usia baligh, hal ini diingatkan lagi untuk menekankan pentingnya menutup aurat karena sekarang apapun yang mereka lakukan akan dipertanggungjawabkan masing-masing. Pada masa ini, anak juga mulai dapat dijelaskan tentang kesehatan reproduksi, organ-organ reproduksi, serta cara merawat dan membersihkan bagian-bagian vital. Pentingnya thaharah ini dicerminkan dalam hadits Rasulullah shalallahu alayhi wasallam.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersihkanlah diri dari kencing. Karena kebanyakan siksa kubur berasal dari bekas kencing tersebut.” Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni.

Perbedaan selanjutnya adalah dari segi komunikasi. Anak laki-laki cenderung lebih sulit untuk mengungkapkan perasaannya dengan bahasa, tidak seperti anak perempuan. Dalam buku ‘Parenting for Girls’ yang ditulis Misran Jusan, Lc., M.A. dan Armansyah, Lc., M.H., disebutkan terdapat perbedaan ukuran otak laki-laki dan perempuan yang mempengaruhi cara berpikirnya.

Bersambung…

Editor: Agastya Harjunadhi

Leave a Reply