Menyiapkan Keluarga untuk “New Normal”

Pandemi Covid-19 ternyata memberi banyak pengaruh dalam kehidupan kita saat ini. Setelah tiga bulan sejak pertama kali masuk secara resmi ke Indonesia, pandemi ini seakan belum mencapai puncaknya. Bahkan menuju akhir masa kegawatdaruratan nasional yang ditetapkan oleh BNPB di tanggal 29 Mei 2020, pemerintah mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Di posisi ini, artinya kita sebagai masyarakat harus siap untuk berhadapan dengan beragam situasi yang terjadi karena pandemi ini sepertinya tidak akan berakhir dengan cepat. Apalagi persebaran virus sekarang sudah menjadi transmisi lokal, artinya ditularkan oleh orang-0rang yang berada dekat dengan kita.

Dalam situasi ini, tentunya menguatkan keluarga adalah satu-satunya jalan, agar bisa menjalani kehidupan “baru” sebagai sebuah kebiasaan baru. Kita harus mulai meninggalkan cara-cara lama yang selama ini sudah menjadi kebiasaan kita. Cara-cara baru ini mungkin sebenarnya bukanlah hal yang benar-benar baru apabila kita selama ini mulai menerapkan nilai-nilai keislaman secara kaffah dalam kehidupan kita. Apa saja hal baru itu?

  1. Penggunaan masker setiap bepergian. Sebagai seorang muslimah, cadar sudah menjadi pilihan untuk melindungi diri. Selama ini mungkin masih banyak yang menganggap aneh penggunaan cadar ini. Namun, ternyata di situasi seperti ini, bukan hanya sebagai muslimah harus menutupi wajah dengan menggunakan masker. Bahkan para lelaki, anak, maupun balita harus menggunakannya sebagai bentuk ikhtiar menjaga diri jika sedang beraktivitas di luar rumah. Ini menjadi sebuah kebiasaan baru yang bersifat normal untuk dilakukan demi menjaga diri dan keluarga dari tertularnya virus Covid-19.
  2. Membatasi diri untuk tidak bersalaman. Bersalaman dianggap menjadi salah satu faktor yang meningkatkan penularan Covid-19, sehingga himbauan ini sudah dilakukan sejak awal virus ini mulai menyebar. Dalam Islam, sebagai seorang muslim kita memang hanya diperbolehkan untuk bersalaman dengan orang-orang yang sesuai mahramnya. Tidak sembarangan menyentuh apalagi berbeda jenis kelamin. Namun, setidaknya ini menjadi pengingat kita untuk tidak sembarangan dalam menyentuh orang-orang yang bukan mahram kita.
  3. Perilaku hidup bersih dan sehat. Islam sudah mengajarkan hal ini di semua aspek kehidupan. Mulai dari kita yang harus bersuci sebelum memulai ibadah, menggunakan adab ketika makan, menjaga kebersihan lingkungan, dan makan makanan yang sifatnya halal. Berarti, sekarang adalah saatnya kita kembali menerapkan apa-apa yang sudah diajarkan dalam agama untuk mengembalikan kondisi kesehatan kita agar mampu melawan virus atau penyakit lain yang masuk ke tubuh kita.
  4. Tidak menyia-nyiakan waktu. Larangan untuk berkumpul dengan banyak orang sebenarnya bisa menjadi pengingat bahwa selama ini mungkin kita banyak berkumpul dengan orang-orang yang membuat kita menjadi lupa waktu. Apalagi mungkin perkumpulan yang kita ikuti tidak memberikan kemashlahatan bagi diri kita. Lebih banyak untuk bersenda gurau atau malah melupakan kewajiban. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah atau bersama keluarga bisa menjadi cara untuk meningkatkan kembali makna dari waktu yang dihabiskan selama ini. Kita bisa lebih memperhatikan keluarga serta kualitas ibadah kita. Jika selama ini lebih banyak ibadah dengan terburu-buru, maka mungkin ini saatnya lebih memaknai ibadah secara lebih baik lagi.
  5. Mengingat kematian. Meskipun dikatakan angka kematiannya hanya berkisar di angka 3-4 %, namun tetap saja ini bisa menjadi pengingat kita akan kematian. Sebab kita tak akan pernah tahu, bagaimana kondisi kita nantinya. Apakah kita akan terserang atau tidak. Kalaupun terserang, apakah kita berada dalam kondisi yang baik-baik saja atau malah harus berjuang menghadapi kematian. Kehidupan baru ini bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk terus mengingat kematian, seakan-akan kematian bisa datang kapan saja. Dengan demikian, kita dapat menyibukkan diri menambah bekal kita, sebelum ajal menjemput.

Lalu, bagaimana cara kita memperkuat keluarga berdasarkan lima hal di atas?

Menjadi Contoh Bagi Anak-anak

Sebagai orang tua, kita bisa mulai dengan mencontohkan kepada anak-anak kita mengenai protokol atau prosedur yang harus dilakukan sebelum bepergian ke luar rumah. Kita mengajarkan kepada anak, saat akan bepergian kita menggunakan masker, bisa ditambahkan dengan jaket atau pelindung lainnya. Begitu tiba di rumah kita mencontohkan untuk mencuci tangan menggunakan sabun, bahkan mandi apabila telah bepergian jauh dan lama dari rumah. Anak serta-merta akan mencontoh dan mengingat ini karena orang tuanya telah melakukan. Apabila kita sebagai orang tua saja abai dengan prosedur-prosedur kecil ini, anak-anak pun akan menganggapnya abai.

Memberikan Penjelasan Mengenai “Kehidupan Baru” yang Akan Dihadapi

Mau tidak mau kita harus mengajak anak-anak untuk menyadari adanya kehidupan baru di depan mereka. Kehidupan yang tidak bisa lagi sama seperti dahulu, misalnya tidak bisa bebas bermain ke pusat perbelanjaan, beraktivitas terlalu lama di tempat umum, atau berkumpul bersama teman-temannya. Diskusi ini dimaksudkan agar anak-anak memahami dengan baik, risiko yang bisa mereka dapatkan apabila melanggar ketentuan. Di sesi ini juga, orang tua bisa menerima masukan atau pertanyaan dari anak-anak, sehingga kita bisa mengakomodir juga kekhawatiran mereka. Tentunya diskusi ini dilakukan menggunakan bahasa yang disesuaikan dengan tingkat usia anak.

Mengajak Anak-anak untuk Meningkatkan Ibadah

Sebagai bekal yang harus disiapkan atas apapun yang bisa terjadi di dalam keluarga, peningkatan ibadah juga butuh digaungkan. Bisa dengan menambah solat sunah, melakukan solat berjamaah, menghapal ayat-ayat Alquran, dan sebagainya. Pilihlah ibadah yang cocok untuk ditambahkan satu per satu, sesuai dengan kondisi keluarga. Kita mungkin tidak bisa mengajarkan solat kepada anak kita yang masih balita, namun bisa makin sering diperdengarkan murotal Alquran. Di sisi lain, sebagai orang tua, kita pun harus menambah bekal ibadah untuk menghadapi beragam kondisi yang mungkin hadir ke depannya.

Mengatur Keuangan Keluarga

Di tengah semua situasi ini, tentu yang terberat adalah mengatur keuangan keluarga. Tidak sedikit di antara kita yang sudah mendapatkan pemberhentian kerja dari tempat kerjanya atau setidaknya pemotongan upah sebagai bentuk penyesuaian. Dengan demikian, mengatur dan mengelola keuangan secara lebih bijak butuh untuk dilakukan. Lebih mengenali kondisi keuangan keluarga dan menyiapkan beragam alternatif pendapatan bisa menjadi salah satu pilihan, demi bertahan di tengah pandemi. Tentunya dengan tidak putus berdoa kepada Allah swt untuk memberikan kemudahan bagi kita dalam menghidupi keluarga dalam kondisi saat ini.

Berpasrah dan Berdoa 

Kunci terakhir tetap dengan banyak berdoa dan berpasrah atas apapun yang mungkin terjadi ke depannya. Kita hanyalah makhluk Allah yang lemah, maka usaha terakhir yang bisa kita lakukan dalam menghadapi kehidupan baru ini adalah dengan berdoa. Bisa jadi, adanya pandemi ini adalah cara Allah agar kita kembali mendekat kepada-Nya untuk berdoa. Mungkin Allah sedang merindukan doa-doa kita, yang mungkin selama ini sering terlupakan untuk dipanjatkan. Selain itu, pasrah dan ikhlas atas semua rencana Allah menjadi jurus terakhir yang bisa kita lakukan, agar kita mampu menjalani kehidupan baru ini dengan lebih sabar.

Persiapan ini bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga. Namun, saya yakin kehidupan baru yang hadir di depan kita tak ubahnya kehidupan baru yang selama ini sudah kita jalani. Hanya saja menjadi berat karena bukan hanya satu-dua keluarga saja yang terdampak, melainkan seluruh umat manusia di dunia. Dengan demikian, semoga kita semua bisa melewati masa-masa baru yang ada di depan mata kita ini dengan tetap berpegang teguh pada keyakinan kita bahwa Allah selalu memberikan jalan dari tiap kesulitan hamba-Nya.

Editor: Agastya Harjunadhi

One thought on “Menyiapkan Keluarga untuk “New Normal”

  • June 12, 2020 at 1:29 am
    Permalink

    Keren Sob, menarik sekali artikelnya, semoga bisa menjadi bahan referensi untuk dicoba.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *