Loading...
Parenting

Menyapih Dalam Islam

Kali ini saya akan sedikit berbagi cerita dari pengalaman menyapih putra pertama kami, Muhammad Alfatih Harjunadhi. Saya teringat, ketika Mas Alfath (panggilan putra kami) mendekati waktu penyapihan, saya pun berusaha mencari informasi tentang serba serbi penyapihan.

Ada sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya, kapan kah waktu yang sebenarnya untuk menyapih anak?

Berbagai pendapat berbeda disampaikan oleh dokter ataupun lembaga internasional. WHO dan UNICEF menyebutkan bahwa menyapih itu di masa usia 2 tahun atau lebih. Berbeda dengan American Academic of Pediatric, mereka menganjurkan menyapih di usia 1 tahun atau lebih. Beberapa dokter ada yang lebih memilih untuk melihat kesiapan anak, berapapun usianya. Nah, mana yang harus kita ikuti?

Sebagai seorang muslim, kami memilih untuk mengikuti bagaimana Islam memberikan teladan dan panduan. Dalam Alquran, panduan tentang menyapih anak dapat kita temukan secara eksplisit di dalam surat Al Baqarah ayat 233 dan Luqman ayat 14.

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (TQS Al Baqarah: 233)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (TQS Luqman: 14)

Tafsir Jalalayn menerangkan QS. Al-Baqarah: 233 tentang menyapih adalah bahwa para ibu hendaklah menyusukan anak-anak mereka selama dua tahun penuh, yaitu bagi orang yang ingin menyempurnakan penyusuan dan tidak perlu ditambah lagi. Tafsir Al Misbah menambahkan maksud dari menyusukan selama 2 tahun penuh adalah untuk menjaga kemaslahatan anak. Kemudian juga oleh tafsir Jalalayn, maksud dari QS Luqman:14 tentang “menyapihnya dalam dua tahun” adalah bahwa ibu tidak menyusuinya lagi setelah berumur 2 tahun.

Dari kedua ayat tersebut, dapat dengan jelas kita fahami bahwa menyusui selama genap 2 tahun adalah sempurna. Apabila kurang dari itu diperbolehkan dengan berbagai pertimbangan sesuai kesepakatan antara ibu dan anak, meskipun tentu sebaiknya tetap sesuai anjuran yakni sempurna 2 tahun. Penjelasan senada juga pernah penulis dapatkan ketika mengikuti akademi parenting islami.

Nah, setelah mengetahui kapan harus menyapih anak, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana caranya? Alhamdulillah, Mas Alfath disapih ketika usianya genap 2 tahun (hijriyah). Saat itu, beberapa bulan menuju usianya dua tahun, saya sudah mulai men-dawuhi/sounding ke Mas Alfath bahwa dia akan disapih ketika usianya dua tahun.

“Mas Alfath, ini sudah mau dua tahun, kata Allah Mas Alfath harus sudah selesai mimik susu ummi, sudah cukup” begitulah dialog saya kepada si kecil yang kemudian ia tanggapi dengan nada tegas “nggih mi… (iya ummi..)”. Meski saya yakin ia belum sepenuhnya mengerti.

Di dialog berikutnya saya mulai mengenalkan kata “sapih” kepada si kecil. “berhenti mimik susu ummi itu perintah Allah nang, namanya disapih. Jadi Mas Alfath itu disapih, stop mimik susu ummi.. nggih?” terang saya. Seperti biasa, jawaban si kecil nada tegas “oo,, nggih” :’D

Saya mulai mengurangi frekuensi Mas Alfath menyusu. Yang tadinya setiap kali mau tidur ia minta ASI, maka kemudian cukup ketika tidur malam saja. Ia pun mulai merasa ada perubahan. Di sinilah tantangan berlanjut. Mas Alfath semakin hari justru semakin sensitif, lebih mudah menangis, dan minta terus ditemani oleh saya. Saya pun terenyuh. Belum terbayang saat itu bagaimana ketika final hari penyapihan akan berlangsung bagaimana ia akan menangis merasa kehilangan sesuatu yang paling ia butuhkan. Karena sejak lahir hingga menjelang usia dua tahun, setiap malam ia baru akan tidur setelah menyusu. Every single day.

Namun saya terus memupuk keyakinan dan berdoa agar Allah berikan kemudahan dalam proses penyapihan ini. Ada kekhawatiran. Namun keyakinan saya akan pertolongan Allah lebih besar. Saya sangat yakin bahwa panduan dalam Alquran adalah yang terbaik dan pasti bisa dilaksanakan.

Mas Alfath saat usia 1 tahun

Hari penyapihan pun tiba. Alfath menangis beberapa hari ketika menjelang tidur dan saat tidur. Suaranya pun sempat parau. Hal ini wajar karena ada kebiasaannya yang harus berubah. Alhamdulillah abinya hadir, membantu memberi pengertian dengan baik kepada Alfath bahwa kini saatnya disapih. Juga membantu menenangkan saat tangisnya pecah.

Mas.. enget dawuhipun Allah kan, nen (menyusu) ummi namung dua tahun cekap. Sakniki, mulai dinten niki, Mas Alfath sampun dua tahun. Berarti sampun mboten nen ummi malih. Mas Alfath anak shalih, pinter nggih disapih ummi (Mas Alfath ingat Kata Allah, nen ummi hanya sampai dua tahun. Mulai sekarang, Mas Alfath sudah dua tahun, saatnya disapih, berarti tidak nen ummi lagi. Mas Alfath anak shalih, pinter ya disapih ummi)” Kira-kira begitu kami berulang kami menyampaikan pada Alfath.

Alhamdulillah tidak sampai satu pekan nampaknya Alfath sudah paham bahwa dia sudah disapih. Dia tidak lagi menangis minta ASI. Dia bisa tidur dengan minum susu pengganti ASI. Saat itu Alfath paling suka susu UHT rasa cokelat.

Alhamdulillah Allah mudahkan proses penyapihan perdana. Pengalaman pertama, ternyata tidak seberat seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Sungguh benar, ketika kita libatkan Allah semata-mata sebagai upaya untuk menaati tuntunan Alquran, pertolongan Allah datang. Alhamdulillah, Allah berikan kemudahan.

Oleh: Lisa Listiana (@listianaica)
yang masih terus belajar menjadi ibu yang baik

Leave a Reply