Loading...
Parenting

Menjaga Iman Sang Anak

Iman seseorang tergantung pada siapa temannya.

Kutipan itu menjelaskan bahwa bagaimana diri kita, bisa dilihat dari siapa saja orang-orang yang ada di dekat kita. Iman kita dapat menjadi naik ketika kita bisa berkumpul dengan orang-orang yang taat. Sebaliknya pun demikian. Jadi, tak ada yang salah jika kita mengatakan pergaulan dapat mengubah diri kita menjadi pribadi yang baik atau buruk.

Begitu pun untuk anak kita. Ketika kita menginginkan anak yang baik tentunya kita harus menyiapkan lingkungan yang baik untuknya pula. Mengkondisikan agar lingkungan membentuk dan menumbuhkembangkan anak kita menjadi orang yang seperti kita harapkan. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut.

Sebagai pengasuh utama, maka kita sebagai orang tua menjadi gerbang pertama untuk meletakkan dasar keimanan pada anak kita. Maka menjadi penting kita pun harus memperbaiki diri agar anak-anak kita sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ini merupakan wujud pembiasaan paling utama karena anak-anak mendapatkan contoh langsung dengan melihat bagaimana orang tuanya berperilaku. Misalnya, bagaimana kita bisa berharap anak kita akan rajin solat kalau orang tuanya tak pernah mencontohkan itu. 

Anak akan lebih banyak belajar dengan melihat apa yang dikerjakan oleh orang tuanya. Jika kita sebagai orang tua tidak mampu mengendalikan diri dan sering menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, maka tak dipungkiri anak pun dapat belajar dari hal itu. Perlu dipahami juga, konsistensi adalah hal penting dalam pembiasaan. Apabila kita sudah menegakkan satu peraturan maka terapkanlah itu secara konsisten. Jangan sampai kita membuat peraturan dan kita pula yang melanggarnya. Sebab itu dapat memunculkan keyakinan lain dalam diri anak, “Kalau orang tuanya saja melanggar aturan, mengapa saya harus menurutinya?” 

Sungguh berbahaya bila anak sudah berpikir demikian. Sebab artinya sang anak mulai meragukan fungsi aturan yang telah kita tetapkan. Bukan tidak mungkin pula ia akan menganggap nantinya aturan menjadi tak terlalu penting dan mudah untuk melanggar karena orang tuanya mencontohkan demikian.

Jika kita memang tak bisa memberikan pengasuhan langsung karena harus bekerja di luar membantu suami maka siapa pengasuh sang anak pun hendaknya diperhatikan. Memang mencari pengasuh yang baik tentu sangatlah sulit sekarang ini, namun bukan menjadi tidak mungkin. Bukankah Allah Maha Pengasih mendengarkan setiap doanya hamba-Nya. Kalau kita memang hendak memberikan yang terbaik kepada anak, mengapa kita tak mendoakan agar anak pun mendapatkan penjaga yang baik saat kita berada di luar rumah? 

Seorang teman pernah membuktikan doa menjadi cara termustajab untuk memberikan pengasuhan terbaik kepada anak. Ia berdoa agar mendapatkan pengasuh yang imannya terjaga untuk anak-anaknya. Ternyata doanya terkabul tanpa pernah ia sangka. Sang pengasuh mampu mengajarkan hal-hal baik, termasuk mengaji kepada anaknya. Ini bisa menjadi contoh kalau kita berniat baik tentunya akan diberi bantuan yang baik pula. 

Bukan hanya sekedar asal ada yang bantu jaga. Kita harus tahu setiap kebiasaan yang dilakukan oleh pengasuh anak kita. Alih-alih sang anak berperilaku yang seperti kita harapkan, sebaliknya mereka akan mengikuti apa yang pengasuhnya ajarkan kepada mereka. Satu perilaku kecil saja seperti pembiasaan berpakaian. Kita mungkin sudah membiasakan anak kita untuk berpakaian menutup aurat. Namun sang pengasuh tidak membiasakan hal itu kepada anak kita. Kira-kira apa yang akan terjadi? Padahal sang pengasuh lebih banyak menghabiskan waktunya bersama anak-anak dibandingkqn kita sendiri.

Terakhir adalah sekolah. Sedini mungkin kita memberikan pendidikan agama yang baik, bukan hanya di rumah tetapi juga di sekolah. Memilih sekolah menjadi penting karena itu bisa menjadi salah satu batu fondasi anak-anak kita kelak. Di masanya yang emas (usia 1-5 tahun), kita pun sebaiknya memilihkan sekolah yang sesuai dengan visi kita. Bukan hanya sekedar mengembangkan kemampuannya dalam mengolah otak dan raga tetapi juga menanamkan nilai-nilai akhlak yang berlandaskan pada Al-Quran dan Hadist. 

Jikalau memang tidak bisa mendapatkan sekolah yang sesuai dengan keseluruhan kriteria ideal dan harus memilih sekolah yang belum berlandaskan agama, maka perkuatlah di rumah. Bukan hanya mengikutkan si anak ke sekolah mengaji di sore hari, tetapi juga menguatkannya di rumah. Menjadi orang tua yang terus mengajarkan anak akan hal-hal dasar keagamaan yang seharusnya terpenuhi. Termasuk memilihkan pengasuh yang dapat mendukung kebaikan itu. Sebab sekali lagi, anak tumbuh sebab pembiasaan. Ia akan mengikuti bagaimana lingkungannya berperilaku dan bersikap.

Memang tak ada yang dapat menjamin anak kita akan tumbuh besar seperti apa. Namun, meletakkan fondasi-fondasi penting sedini mungkin adalah salah satu ikhtiar kita agar anak tumbuh dengan kecintaan pada agama yang tinggi. Selain itu, tetaplah kita harus berdoa kepada Allah agar anak-anak kita dilindungi dari semua kemudhoratan yang ada. Kedua hal itu penting karena anak tetap membutuhkan contoh konkrit yang ia lihat dalam kehidupan sehari-hari dan doa dari orang tuanya agar ia tumbuh menjadi anak yang baik.

Ini semua demi mendapatkan anak yang terbiasa dikelilingi oleh hal-hal yang dapat meningkatkan keimanannyq. Menjadi tidak terbiasa ketika ada hal-hal di luar ketentuan agama yang mulai merangsuk ke dalam kehidupannya. Artinya, pembiasaan yang terus-menerus dapat membuat anak menjadi sensitif mana yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Dengan demikian, ia dapat menjaga diri agar selalu dikelilingi lingkungan baik yang akan selalu menjaga imannya. 

Leave a Reply