Loading...
Parenting

Menjadi Teladan Terbaik untuk Anak

Kadang kita suka menemui anak yang merundung anak lain, bersikap “bossy” dan sombong. Sebaliknya, ada anak yang luar biasa santunnya, tak tampak cela dari dirinya. Maka tengoklah bagaimana orang tuanya seperti kata pepatah, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Bagaimana laku sang anak tak akan pernah jauh berbeda dari orang tuanya, disadari ataupun tidak.

Karena anak belajar paling banyak dari apa yang ia lihat. Contoh sederhana kalau orang tuanya suka membuang sampah di bawah kursi angkutan umum atau membuangnya lewat jendela kendaraan, bukan tak mungkin anaknya meniru demikian. Mau diperintah sedemikian kerasnya, jika contoh nyata yang mereka lihat tak seirama dengan apa yang mereka dengar, apa yang dilihat akan lebih dilakukan. 

Jadi, jangan kesal jika anak banyak tidak menurutnya atas teguran yang kita berikan jika kita sendiri sebagai orang tua belum melakukannya. Kadang kita bersungut mengapa anak kita suka berteriak-teriak ketika bicara, koreksilah dulu bagaimana kita bicara. Lemah lembutkah dan santunkah? Atau lebih banyak bernada tinggi dan kurang hormat kepada pasangan kita, setidaknya.

Begitu pula jika bicara dengan sifat-sifat anak yang lebih mendasar. Anak yang mudah cemas berasal dari banyaknya kekhawatiran yang ditunjukkan orang tua kepadanya. Orang tua memberi batasan-batasan sehingga anak ikut menjadi cemas saat yang ia lakukan keluar dari batasan. Begitu pula saat ia bersikap sombong kepada anak-anak lain, coba telah kembali bagaimana kita bersikap kepada orang di sekitar kita. Mungkin tampaknya bukan kesombongan buat kita. Namun, pernahkah kita melebih-lebihkan diri atau menjelek-jelekkan orang lain di depan anak kita. Tanpa disadari sikap seperti itu yang terekam pada anak.

Anak akan meneladani kita sebagai orang tuanya karena kita adalah contoh terdekat. Sesuai dengan perkembangan kognitifnya yang memang baru bisa memahami contoh konkrit di depannya maka menjadi orang teladan adalah suatu keharusan. Jika memang kita ingin anak mengikuti ajaran agama, mulailah dari diri kita. Ingin anak lelaki ke masjid saat azan terdengar maka ajaklah ia demikian. Kita dulu yang harus rajin ke masjid. Serta semua kebaikan dan ibadah yang ingin kita ajarkan kepada anak kita, mulailah dari diri kita.

Bukankah kita memang diajarkan demikian dalam agama ini. Mengikuti apa yang diajarkan oleh teladan kita, Rasulullah saw. Jadi, agar anak-anak kita mampu mengikuti teladan itu, mulailah dengan menjadi teladan bagi anak-anak kita berdasarkan apa yang sudah diajarkan dalam Al-Quran dan Hadist. 

Selain itu, Rasulullah saw pun sudah mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya bersikap kepada anak-anak. Rasul tak pernah sedikit pun berbuat jahat kepada anak-anak sehingga setiap anak yang ada di dekatnya merasa aman berada di dekatnya. Jika kita juga bisa demikian kepada anak-anak kita, bukankah menjadi mungkin kita bisa menciptakan lingkungan sehat untuk tumbuh kembang anak kita, termasuk perkembangan kepribadiannya. Sebab kepribadian yang kurang baik disebabkan oleh lingkungan yang tak peka untuk mengakomodir kebutuhan para anak. 

Dengan demikian, kapan kita mau memulai untuk menjadi teladan bagi anak-anak kita? Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjadi orang tua teladan, yaitu:

  1. Menyadari sifat-sifat yang kita miliki, sehingga kita tahu mana yang butuh diperbaiki jadi tidak ditiru oleh anak-anak kita.
  2. Belajar terus-menerus untuk memperbaiki akhlak dan adab. Jika kita belajar mana yang benar maka dari mana anak kita akan belajar.
  3. Istiqomah menjalankan kebaikan. Terus pertahankan perilaku yang baik agar anak melihat secara konsisten perilaku itu terus-menerus. Perilaku yang berubah-ubah akan membuat anak bingung mana yang seharusnya ia tiru.

Jadi, sudah siapkah kita menjadi teladan terbaik untuk anak kita? 

Leave a Reply