Loading...
Parenting

Tentang Cara Pandang: Menjadi Ibu Profesional

the-real-ummi

Saya ingat dulu pernah baca salah satu artikel tentang Ibu Septi dan sepak terjangnya dalam mendirikan Institut Ibu Profesional (IIP). Namun mungkin karena saat itu saya belum menjadi ibu aktif (baca:belum punya anak) jadi belum tertarik membaca lebih dalam. Belakangan setelah menjadi seorang ibu, saya coba membaca kembali dan mencari tahu tentang IIP dan berbagai programnya. Dari informasi yang saya peroleh di salah satu website parenting, titik balik Bu Septi yang memutuskan diri untuk serius menjadi ibu professional berawal dari dilema yang dihadapi oleh beliau. Berdasarkan pengalaman pribadi dan curhatan beberapa kawan, agaknya dilema semacam ini masih menghinggapi para wanita yang memutuskan untuk fokus menjalani perannya sebagai ibu. Kenapa? Karena sepertinya sampai sekarang masih ada anggapan bahwa menjadi ibu itu seolah tidak bekerja, ada anggapan bahwa menjadi ibu itu sebuah “hanya” yang tak dapat dibanggakan.

Anggapan tersebut menurut saya kurang tepat. Kenapa? Mungkin karena sudut pandang yang dipakai kurang adil dan tidak sesuai porsinya. Lalu bagaimana caranya untuk meminimalisir anggapan semacam ini? Yuk kita coba mulai dengan memperbaiki sudut pandangnya. Karena dalam hampir segala hal, sudut pandang menjadi awal yang menentukan. Sudut pandang yang benar menimbulkan perasaan yang benar menimbulkan sikap yang benar. Setuju?

Almarhumah Cumlaude

Belajar dari kisah Ibu Septi, mau tau bagaimana cara pandang beliau yang berhasil mendidik ketiga anaknya menjadi pemuda pemudi muslim inspiratif dan produktif? Menurut Ibu Septi, anak adalah malaikat kecil yang dihadirkan Allah SWT untuk memandu jalan hidup beliau. Dan beliau senantiasa menunaikan hak dan kewajibannya sebagai ibu dan istri semaksimal mungkin karena beliau ingin memperoleh titel almarhumah secara cumlaude ketika harus meninggalkan universitas kehidupan. Menjadi seorang ibu profesional. Menurut saya, ini adalah salah satu cara pandang yang sangat inspiratif, menempatkan sesuatu secara adil dan sesuai porsinya.

Dengan cara pandang ini, beliau bisa menempatkan prioritas. Dengan cara pandang ini, beliau mampu menepis anggapan kebanyakan orang. Jadi yuk, coba kita evaluasi cara pandang kita selama ini. Bagaimana cara pandang kita tentang anak?  Tentang keluarga? Tentang tujuan dan cita-cita terbesar dalam hidup ini? Bagaimana cara pandang kita tentang tujuan dan cita-cita terbesar dalam hidup setelah di dunia ini? Tidak ada kata terlambat. Yang terpenting dari sebuah evaluasi adalah mengambil satu langkah nyata (perbaikan) dari evaluasi yang kita lakukan. Semoga kita senantiasa dimampukan Allah SWT menjadi ibu dan istri yang menjaga fitrahnya, yang menunaikan kewajiban dan hak sebagaimana seharusnya seorang muslimah dalam menjadi ibu dan istri. Aamiiin 🙂

@listianaica

Leave a Reply