Loading...
Parenting

Menghargai Anak dengan menerapkan Positive Parenting

Suatu hari, Kinan menumpahkan air dari gelas minumnya di lantai, kemudian ia terpeleset karena air tumpahan tersebut. Alih-alih memarahi dan menghukumnya, saya memilih untuk memeluk dan menenangkan Kinan yang baru saja jatuh terpeleset. Setelah tenang, baru saya tanya apa yang membuat ia terpeleset. Kemudian, saya minta Kinan untuk membersihkan tumpahan air minumnya.

Terdengar sepele dan sudah menjadi insiden sehari-hari para ibu dengan toodler, tapi pilihan saya untuk bersikap demikian tidak datang tiba-tiba. Butuh proses dan membaca berbagai metode parenting, salah satunya seperti yang saya lakukan adalah positive parenting.

Barangkali sudah banyak yang pernah mendengar atau bahkan sudah mempraktekkan positive parenting. Metode ini banyak diklaim sebagai metode parenting yang lebih baik dan efektif di era milenial seperti sekarang ini. Prinsipnya, dalam positive parenting adalah bagaimana kita sebagai orang tua, menghargai anak.

Dalam Islam juga telah diriwayatkan dalam sebuah hadits:

سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ

Terjemahan:

Aku mendengar Anas bin Malik memberi hadits dari Rasulullah s.a.w., Beliau bersabda: “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaguslah akhlak mereka”. (H.R. Ibnu Majah).

Kalau boleh saya menyimpulkan, positive parenting ini pada dasarnya adalah mendidik anak tanpa kekerasan dan hukuman. Karena tidak semua anak bisa kembali menurut dengan hukuman, namun tidak semua anak juga harus dididik dengan “kekerasan”. Karena kita yang orang dewasa saja, tentu tidak nyaman ketika ada orang yang menghardik, berteriak, atau mempermalukan kita. Begitu pula dengan anak-anak kita. Namun, semuanya kembali lagi pada nilai-nilai di keluarga masing-masing, juga tergantung pada karakter si kecil. Siapa lagi yang lebih mengenal si kecil kalau bukan kita, orang tuanya.

Saya sendiri sedikit banyak sudah menerapkan metode positive parenting. Ternyata metode ini cukup efektif bagi kami. Saya dan suami jadi lebih tenang ketika menghadapi si kecil. Kami tidak pernah dan tidak perlu berteriak pada si kecil. Cukup mendekatkan diri pada si kecil, menyejajarkan pandangan mata, dan memberikan pilihan serta memberi tahu akibat dari perbuatannya bila tetap ia lakukan. Dan, jreng! Alhamdulillah, cara ini cukup mempan. Si kecil jadi dapat menentukan sikap mana yang harus ia pilih, setelah saya beri penjelasan konsekuensinya.

Cara tersebut juga sekaligus bisa mengajarkan anak-anak untuk dapat mengambil keputusan, serta bertanggung jawab dengan keputusan yang ia ambil. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui!

Hal yang paling sering dan paling mudah kita temui yang dapat segera dicoba untuk diterapkan dalam metode positive parenting adalah melalui kalimat-kalimat. Perkataan sehari-hari bersama si kecil yang mungkin seringkali tidak kita sadari, ternyata sangat berpengaruh juga, dan menjadi hal yang penting dalam positive parenting.

Berikut beberapa kalimat positif yang bisa diterapkan dalam metode positive parenting.

Daripada berkata: Kakak kenapa menangis?
Lebih baik: Kakak sedih ya? Kalau mau ibu peluk boleh, nanti kalau sudah tenang mau cerita juga boleh.

Daripada berkata: Bagus sekali itu!
Lebih baik: Wah, sekarang kakak mewarnainya mulai penuh, warnanya juga macem-macem.

Daripada berkata: Jangan nakal ya, di sekolah!
Lebih baik: Have fun di sekolah, ya kak!

Daripada berkata: Nggak boleh beli mainan.
Lebih baik: Hari ini bukan saatnya beli mainan, nanti kalau sudah waktunya beli mainan, kakak pilih sendiri mau yang mana, ya!

Namun, positive parenting bukan berarti kita tidak boleh marah sama sekali pada anak, lho. Karena saya dan suami juga sepakat bahwa tidak masalah kita marah pada anak, asal ada alasan yang jelas, dan marah dengan cara yang baik.

ky.

Note:

Tentang metode parenting, dalam berbagai kajian keluarga diungkapkan bahwa tidak ada metode mendidik anak yang paling fix dan sempurna. Karena setiap keluarga pasti memiliki perbedaan yang khas. Metode X misal cocok untuk keluarga A, namun belum tentu cocok dengan keluarga B. Yang terpenting adalah kurikulumnya sesuai dengan keyakinan kita sekeluarga. Dalam hal ini tentunya kurikulum berbasis parenting yang diteladan oleh rasulullaah saw. Kemudian penerapannya kembali lagi sangat bergantung pada kondisi keluarga. Banyak faktor yang mempengaruhi sehingga memungkinkan banyak sekali metode yang berbeda dan variatif. Semuanya (metode) memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Wallahualam bishawwab ~ ThRU Family 🙂

Leave a Reply