Loading...
Parenting

Mengenali dan Menerima Emosi Anak

Mengenali dan menerima emosi anak sejak dini, bahkan yang paling sulit sekalipun, membuat anak menjadi lebih mudah untuk mengatur strategi bagi semua masalahnya. Misalnya saja ketika merasa kecewa, kemudian tersenyum dan mengatakan bahwa semuanya  baik-baik saja, ternyata bukan selalu menjadi tindakan yang tepat. Hal tersebut dapat dicontoh dan membingungkan bagi anak-anak kita. Hal ini bisa menjadi berbahaya karena seolah kita mengabaikan perasaan sebenarnya.

Oleh sebab itu, sejak awal saya mencoba mengenalkan berbagai jenis emosi dan mengajak si kecil untuk dapat menerima perasaan tersebut, dengan harapan nantinya si kecil dapat mengelola emosinya di kemudian hari.

Kebanyakan orang tua merasa lebih mudah mengenalkan dan mengelola perasaan senang si kecil. Namun untuk emosi lain yang lebih menantang, seperti kemarahan, agresi, dan kecemasan, pengelolaannya juga menjadi lebih sulit. Bagaimana kita mengenalkan ‘rasa’ dari masing-masing emosi, serta bagaimana cara menerima dan mengelola berbagai emosi tersebut membuat tantangan tersendiri bagi orang tua dan juga si kecil. Hal tersebut tidak bisa diajarkan dalam satu atau dua kali, namun perlu proses yang cukup panjang dan konsisten supaya si kecil bisa betul-betul memahami emosi dan mengelolanya.

Hal yang paling awal saya lakukan ketika si kecil berusia 0 bulan adalah dengan mendeskripsikan semua hal. Tidak hanya benda dan keadaan di sekitar si kecil, namun juga saya sudah mulai mengenalkan emosi. Ketika si kecil menangis karena haus, misalnya, atau ketika saya sedang senang karena suatu hal, saya ceritakan pada si kecil. Tanpa saya sadari hal itu menjadi kebiasaan.

Menjelang 1 tahun, saya membeli buku-buku yang isinya tentang pengenalan emosi. Ada berbagai ekspresi emosi, dan juga gambaran perasaan dari setiap emosi tersebut. Hal ini mempermudah saya dalam mengenalkan si kecil pada jenis jenis emosi lain. Misalnya bagaimana menggambarkan rasa takut, rasa jijik, sedih, marah, dan sebagainya.

Semakin bertambah usia si kecil, tantangannya semakin besar. Banyak hal yang ia lihat dan terkadang ia tiru pula. Misalnya ketika melihat anak lain marah sambil menangis dan berteriak, tau memukul dan melempar barang, pernah juga satu dua kali ditirukan. Mungkin sambil melihat bagaimana reaksi kami, orang tuanya. Untuk yang satu ini saya dan suami berusaha kompak dan konsisten sehingga hal tersebut tidak kebablasan dan menjadi kebiasaan.

“Orang kuat bukan diukur dengan bertarung. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saya berusaha menerima semua emosi si kecil. Tidak lantas melarangnya untuk marah, sedih, atau kecewa juga meskipun untuk emosi seperti itu pengelolaannya lebih sulit. Satu hal yang selalu saya katakan pada si kecil ketika ia sedang marah:

“Marah itu boleh, tapi marahlah dengan cara yang baik.”

Saya percaya dengan penerimaan setiap emosi dan empati dari kita, orang tuanya, maka si kecil akan lebih mudah mengenali dan mengelola emosinya kelak. Karena memiliki emosi yang sehat adalah model pengasuhan yang kuat, dan dapat memandu si kecil untuk menjadi berani dan jujur pada dirinya sendiri. Yuk kita jadi orang tua yang mencontohkan kejujuran pada si kecil dengan mengenali dan menerima semua emosi yang mereka miliki.

 

Ky.

Sumber bacaan:

Alexander, Jessica Joelle. The Danish Way of Parenting. 2018. Yogyakarta: B first

Leave a Reply