Loading...
Parenting

Mengenali Bakat Anak dengan Cara Sederhana

Salah satu yang dianjurkan dalam pengasuhan nabawiyah setelah anak menginjak usia 4 tahun adalah mengasah bakatnya. Hal ini penting agar anak mampu mengembangkan dirinya sesuai fitrahnya dengan baik, serta memberikan bekal bagi anak untuk masa depannya. Namun, mengenali bakat ternyata mungkin tidak semudah itu. Terkadang kita sebagai orang tua masih mencampurkan keinginan kita menjadi anak seperti apa, dengan kemampuannya yang sebenarnya.

Mengenali bakat memang tidak mudah, tetapi tidak pula sulit dilakukan apabila kita mengenali dan memperhatikan anak-anak kita dengan seksama. Jika memang kesulitan, kita dapat mendatangi ahli, seperti psikolog anak, untuk mendapatkan gambaran mengenai kemampuan anak. Meskipun demikian, cara terbaik adalah orang tua yang mampu menajamkan instingnya mengenai bakat sang anak karena orang tualah yang nantinya akan berperan dalam pengembangan ini. Jadi, walau sudah mendapatkan hasil tentang bakat anak, orang tua yang harus mampu menerapkan metode pengasuhan paling tepat bagi anak-anaknya.

Dalam mengamati bakat anak, orang tua harus bebas dari prasangka terlebih dahulu. Memahami kalau tiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda serta perkembangan yang berbeda pula. Maka tidak menutup kemungkinan jika kita memiliki tiga anak akan menampilkan perilaku berbeda. Kita tak dapat menyamaratakan semua anak sama karena lahir dari orang tua yang sama. Bahkan adakalanya mungkin kita sudah menyiapkan atau berangan-angan anak kita harus bagaimana, tetapi ternyata ia tidak sesuai harapan kita itu.

Kunci dalam menemukan bakat adalah kesabaran. Bakat sendiri memang paling mantap muncul atau terlihat di usia lebih dari tiga tahun, menurut sebagian ahli. Jadi, apabila anak kita di bawah usia itu masih memperlihatkan minat yang berbeda-beda itu adalah hal yang wajar sebab mereka masih mengekplorasi lingkungannya. Namun, bukan berarti kita tidak bisa melakukan pengamatan sedini mungkin kepada anak-anak kita. Bakat adalah sesuatu yang terbawa atau diturunkan kepada sang anak. Jadi, bukan tidak mungkin kita bisa melihatnya sedikit demi sedikit sedari kecil.

Cara paling sederhana yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah melakukan pengamatan terhadap perilaku sang anak. Beberapa tips yang dapat diikuti seputar melakukan pengamatan itu, yaitu:

  1. Beri kesempatan anak untuk mengekplorasi beragam permainan atau aktivitas, sehingga ia terpapar pada kegiatan yang beragam. Anak yang berbakat adalah anak yang dapat melakukan suatu aktivitas lebih cepat dibanding anak lainnya. Selain itu, anak juga menubjukkan kepandaian yang berbeda. Terkadang saat mereka melakukan eksplorasi, mereka dapat melakukan dengan sendirinya tanpa banyak diajarkan. Misalnya pada anak yang bakatnya pada kegiatan-kegiatan berbau fisik, akan lebih mudah dalam memainkan sepeda atau alat-alat lainnya. Mereka juga lebih suka untuk bergerak terus-menerus mengeksplorasi kekuatan fisiknya. Jadi, butuh dicermati, anak banyak gerak apakah memang dalam rangka mengembangkan bakatnya atau memang sebagai tanda adanya patologis lainnya.
  2. Merangsang anak melalui beragam metode atau modul. Anak menerima stimulus lewat semua indra yang mereka miliki, mata, telinga, kulit, lidah, dsb. Mereka mengenali semua stimulus itu dengan baik bisa lewat satu indra yang lebih unggul atau lebih. Misalnya ada anak-anak yang bisa cepat menghapal dan menirukan sesuatu cukup dengan mendengarkan apa yang dikatakan orang tuanya. Artinya ia bisa jadi lebih unggul menguasai sesuatu lewat perintah yang disampaikan, bukan dengan melihat.
  3. Memahami tahap perkembangan anak. Pada tiap tahap perkembangan anak, akan ada kemampuan yang bertambah dan menghilang. Sebagai orang tua, kita wajib mencari tahu dan mengenali anak kita sudah dalam tahap perkembangan apa. Sebagai contoh, saat anak memasuki usia 3 tahun akan tampak ia berubah dalam mencermati benda-benda di sekitarnya, berbeda dengan tahapan sebelum usia itu. Dengan memahami tahap perkembangan anak, orang tua dapat tahu apa yang sudah berkembang dan apa yang belum. Jika ia lebih cepat pada satu hal, bisa jadi ia memang lebih berbakat untuk itu.

Tips paling penting dalam mengamati bakat anak adalah kesabaran orang tua untuk terus mengeksplorasi kemampuan anak. Tidak berhenti hanya pada apa yang tampak, tetapi juga pada apa yang belum tampak. Ini menjadi penting karena bisa jadi nantinya anak kesulitan belajar, bukan karena ia tidak pintar, melainkan bakatnya mengarahkannya pada metode belajar yang berbeda dari kebanyakan anak.

Kita tak bisa memaksa anak menjadi sama seperti anak lain karena setiap anak memiliki keunikannya. Ada yang pintar berhitung, berbahasa, menjalin pertemanan, menyukai alam, peka dalam merasa, dsb. Bakat ini membuat tiap anak memiliki cara yang berbeda dalam menyerap informasi, sehingga sudah sepatutnya mereka punya metode belajar yang berbeda.

Amat bahaya jika orang tua melewatkan pengamatan ini. Sebab, cara terbaik menjadi orang tua adalah mampu menjadi fasilitator terbaik untuk anak-anaknya. Bukan mengarahkan anak sesuai keinginan orang tua, yang belum tentu sesuai dengan bakat dan kemampuan anak.

Anak adalah aset, tetapi bukan untuk meneruskan kegagalan orang tuanya di masa lalu. Akan tetapi, untuk dikembangkan sesuai apa yang sudah digariskan Allah untuknya. Sudah sebuah kewajiban bagi kita orang tua, untuk mengenali tanda-tanda itu agar anak kita dapat bermanfaat untuk agama dan masyarakat yang lebih luas.

Leave a Reply