Loading...
Parenting

Mengasah Kemandirian Anak

Secara fitrah, anak-anak kita adalah makhluk yang pembelajar, peniru ulung. Kemampuan pembelajarannya ini harus diiringi dengan kecakapan orang tua dalam melatih, menumbuhkan dan bersabar dengan prosesnya. Anak-anak kita biasanya sangat antusias dalam mengeksplorasi banyak hal. Ketika mereka menemukan satu aktivitas yang baru, di usia 1-3 tahun, anak-anak cenderung ingin mencoba melakukannya sendiri. Meskipun begitu, mereka sesungguhnya masih membutuhkan pertolongan kita. Misalnya belajar makan dan minum sendiri. Kita bisa memberikan pengajarannya dengan cara bermain restoran bersama. Kemudian kita memberikan contoh cara makan yang baik, dan menunggu si kecil berproses menirukannya. Sudah pasti akan memakan waktu yang cukup lama dan berceceran makanan, namun, bersabarlah untuk tidak menolongnya.

Kita bisa membubuhi setiap pembelajaran dengan dialog ringan namum mendalam bersama si kecil, dengan tujuan memberikan pemahaman betapa pentingnya bisa hidup mandiri. Karena ia tak selamanya akan bersama ayah bundanya. Mungkin si kecil belum bisa langsung mengerti, tapi lama-lama ia akan mampu memahaminya.

Tak lupa setelah makan, mengajarinya untuk meletakkan piring di tempat cucian piring kotor. Tentu saja jangan sampai terlewat berdoa sebelum dan sesudah beraktifitas agar si kecil mulai faham keterkaitan antara semua aktifitasnya dengan agamanya. Ini menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan kepada dirinya dan keluarga. Aktifitas lain yang bisa kita latih adalah melepas dan memakai pakaian, membuka toples, menuang air, memakai dan melepas sepatu, dan lain-lain, sesuai tahap usianya.

Diantara yang bisa kita lakukan dalam menyiapkan kemandirian anak di usia 1-3 tahun adalah, pertama, kita harus mau meluangkan waktu untuk membersamai sepenuh hati segala aktifitas anak. Kedua, kita harus mau untuk repot, seperti membersihkan makanan tercecer, mainan yang selalu berantakan. Jangan lupa untuk melibatkan anak mencuci/memberesin kembali dalam rangka menjaga kebersihan. Ketiga, di usia ini kita sedang mengenalkan pola, nilai-nilai moral kepada anak yang kelak ia akan memahaminya sebagai sebuah aturan bahkan prinsip hidup.

Kita juga mulai mengajarinya komitmen terhadap aturan yang telah dibuat bersama-sama, dan konsisten untuk mentaatinya. Misalkan: Di rumah ada ini bersepakat bahwa tidak akan ada yang berhasil meminta sesuatu dengan cara menangis guling-guling atau teriak-teriak. Hanya anak yang berbicara baik-baik saja, yang akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Semua permintaan harus diutarakan dengan sopan dan baik.

Dalam praktiknya, sesekali mungkin masih gagal, yaitu si kecil menangis dalam meminta sesuatu. Kita pahamkan lagi pelan-pelan bahwa caranya harus berkata dengan baik, bukan menangis. Lama-lama, si kecil akan mengenali pola tersebut bahkan kemudian bisa membalikkannya. Hal serupa juga terjadi pada anak kami (usia 3 tahunan). Di usia ini, si kecil sudah memiliki kemampuan berbicara dengan baik, teratur, cukup sistematis bahkan mampu membuat perbandingan keadaan.

Jika pada usia di bawah 3 tahun cenderung banyak kita dampingi, maka pada rentang usia 3-5 tahun, fitrah anak-anak adalah sudah memiliki inisiatif sendiri untuk meniru segala macam aktifitas orang dewasa. Ketika kita sedang mencuci, ia ingin bantu mencuci.  Ketika kita memasak, ia ingin ikut memasak. Ketika kita sedang berada di depan laptop, ia pun ikut-ikutan ingin bermain laptop. Pernah si kecil tiba-tiba duduk di depan laptop abinya, lalu saya spontan bertanya “Mas Alfath sedang apa? mainan laptop abi?”. Si kecil menjawab: “Mas Alfath sedang kerja, kayak abi”. 😊

Tugas kita sebagai orang tua dalam rentang usia 3-5 tahun ini adalah menghargai apa yang menjadi keinginan anak-anak. Kedua, mengapresiasi prosesnya. Ketiga, berbagi peran dengan anak. Keempat, menerima apapun hasilnya. Dan yang  kelima, lakukan dengan bermain. Contoh ketika saya setrika, ia berinisiatif membantu. Maka saya berikan tugas kepada si kecil untuk melipat hasil setrikaan baju, kemudian meletakkannya di almarinya. Awalnya mungkin agak berantakan, tapi harus kita hargai hasil karyanya. Saya beri apresiasi bahwa dia sudah sangat hebat membantu umminya.

Perlu digarisbawahi juga bahwa ketika si kecil membantu, meski berantakan, jangan pernah kita ulang hasilnya. Itu adalah karya si kecil, yang ketika diapresiasi, akan meningkatkan rasa percaya diri. Jika ia senang menyapu, maka kita beri apresiasi sebagai direktur kebersihan di rumah. Si kecil pasti melaksanakannya dengan menganggapnya sebagai sebuah agenda bermain. Kita pun menemaninya dengan bermain, agar selama si kecil melakukan inisiatif kegiatannya sendiri ini, merasa enjoy, gembira, dalam menyelesaikan perannya. Sehingga ia tidak merasa bahwa itu adalah sebuah beban kewajiban. Treatment ini bisa selalu kita gunakan untuk agenda lain.

Begitu juga dengan shalat, si kecil di rumah pasti telah seringkali meniru shalat ayah atau bunda. Saat mendengar adzan, jika sejak awal telah kita kenalkan, maka anak-anak akan peka bahwa itu tanda panggilan menuju masjid untuk shalat. Kita tunjukkan dengan penuh kegembiraan menyambut panggilan shalat, lalu berangkat menuju masjid dengan semangat. Ini akan menstimulus kepada anak-anak bahwa ibadah itu menyenangkan. Shalat itu menggembirakan.

Bersambung.

Oleh: Lisa Harjunadhi

Leave a Reply