Loading...
Parenting

Mengajarkan Anak Berkata Baik

Sejak si kecil mulai bersekolah, semakin banyak kosakata yang dimiliki. Hal ini bisa berarti hal baik atau sebaliknya. Pada dasarnya, memang usia anak prasekolah ini cenderung menjadi peniru. Apapun yang mereka lihat atau dengar di lingkungan sekitar akan dengan mudah ditiru. Ketika ada hal baru di sekitarnya, termasuk perilaku dan kata-kata kasar atau jorok, dapat dengan mudah ditiru mereka.

Padahal, pada umumnya anak-anak tersebut belum paham betul dengan kata-kata atau perilaku yang mereka tiru. Ketika mereka menirukan kata-kata kasar, mereka tidak bermaksud demikian. Namun hanya menirukan hal yang mereka dapat dari lingkungan sekitar, dalam hal ini adalah lingkungan sekolah. Hal ini juga terjadi pada putri kecil saya beberapa waktu lalu.

Awalnya, saya cukup shock, ketika mendengar kata-kata yang tidak baik dari bibir kecil putri saya. Namun, saya berusaha mengontrol diri saya dan menggali lagi mengenai dari mana ia mendapat kata baru tersebut, kemudian saya tanya apa artinya, setelahnya baru saya berikan penjelasan sederhana kalau kata tersebut tidak baik dan tidak perlu ditiru apalagi diulang lagi.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْكَانَيُؤْمِنُبِاللَّهِوَالْيَوْمِاْلآخِرِفَليَقُلْخَيْرًاأَوْلِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Al-Bukhari)

 

Sebagaimana dalam hadits tersebut, dalam Islam juga mengajarkan supaya kita hendaknya berkata yang baik. Sekiranya kita tidak dapat berkata baik, maka diam jauh lebih mulia. Kita sebagai orang tua memang tidak bisa selalu berada di samping si kecil. Peran lingkungan sangat besar mengenai hal ini. Mengurung anak dari lingkungan luar untuk menjauhkan mereka dari hal negatif bukanlah sebuah solusi.

Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus peka dan tidak boleh hanya berdiam melihat perilaku anak-anak. Tugas kita adalah kembali meluruskan dan mengajarkan kebaikan pada anak-anak kita. Apabila perilaku dan kata-kata yang tidak baik tersebut hanya dibiarkan saja, bisa-bisa anak kita menganggap hal tersebut adalah hal yang lumrah. Lebih buruk lagi bila hal tersebut menjadi kebiasaan.

Lalu, bagaimana menghadapi anak-anak yang sedang bereksplorasi dan suka meniru dari lingkungannya? Berikut beberapa hal yang saya juga terapkan pada putri kecil saya.

  1. Mengawasi dan mendampingi

Mengawasi dan mendampingi anak mungkin tidak dapat selalu kita lakukan 24/7. Bagi saya, dengan membiasakan si kecil untuk bercerita mengenai aktivitas di sekolah atau selama dia melakukan kegiatan tanpa saya, adalah cara saya untuk dapat mengawasi si kecil. Dari ceritanya, saya bisa tahu siapa teman-teman di sekolah, bagaimana sifat teman-temannya,  atau tentang bagaimana perasaannya hari itu, dan sebagainya. Tentu saja hal ini tidak dapat terjadi begitu saja. Perlu pembiasaan dan juga semacam pancingan sebagai awalan si kecil untuk dapat bercerita secara utuh dan runtut.

  1. Tidak bereaksi berlebihan

Pernah suatu ketika putri kecil saya mengucapkan kata dalam bahasa jawa yang menurut saya cukup kasar. Namun ia mengatakan hal tersebut sambil tertawa dan tentu saja tidak pas konteksnya. Saya yakin ia tidak paham maknanya dan tidak bermaksud mengatakan hal tersebut untuk memaki atau sejenisnya.

Sejujurnya saya terkejut, namun saya berusaha bersikap biasa saja, kemudian meminta penjelasan anak saya mengenai dari mana ia mendapat kata tersebut, apakah tahu artinya, mengapa ia meniru hal tersebut.

  1. Memberi penjelasan

Setelah mendengar keterangan dari si kecil, maka giliran saya yang meluruskan dan memberi penjelasan. Apa sebenarnya arti kata itu, kemudian juga menjelaskan bahwa kata-kata tersebut tidak baik, bisa menyakiti orang lain, membuat orang lain sedih, marah, dan sebagainya.

  1. Mencari penyebabnya

Sebagai orang tua, kita harus jeli dan teliti menghadapi berbagai perilaku si kecil. Saya meyakini bahwa semua perilaku si kecil pasti ada penyebabnya. Misalnya ketika ia mengucapkan atau melakukan hal yang tidak baik, bagaimana reaksi orang-orang di sekeliling? Apakah marah, diam saja, atau malah tertawa?

Hal ini bisa jadi menjadi penyebab si kecil semakin sering melakukan hal tidak baik misalnya karena ia merasa orang-orang di sekelilingnya menganggap hal tersebut lucu. Padahal, hal tersebut salah. Ketika saya mengalami hal tersebut, saya minta pada orang-orang sekitar (Uti, Kakung, saudara dan keluarga) untuk tidak mentertawakan si kecil ketika ia sedang berperilaku tidak baik.

  1. Konsisten

Hal ini penting, karena tentu saja tidak bisa hanya dengan memberi tahu di kecil hanya satu dua kali saja. Kita harus melakukan terus menerus, mengingatkan dan juga tentu saja jangan sampai kata-kata tersebut keluar dari mulut kita, orang tuanya. Karena kita harus menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita, bukan?

(ky)

 

Leave a Reply