Loading...
Parenting

Mendidik Anak Remaja yang Pemarah

Memiliki anak remaja yang tempramen tinggi dan suka marah terkadang sangat melelahkan. Mendidik anak yang pemarah merupakan salah satu hal penting untuk menjadikan kehidupan keluarga lebih baik.

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah berkhotbah di hadapan kami setelah shalat Ashar, ‘Ketahuilah sesungguhnya, marah adalah kerikil yang terselip di dalam diri anak Adam yang paling dalam. Marah tidak bisa dilihat secara kasat mata dan bentukya sangat samar. Apabila salah satu dari kalian bertemu dengan marah itu maka kalian bisa dibuai olehnya. Sesungguhnya, sebaik-baik orang adalah orang yang lambat marahnya dan cepat memberi ridha. Sebaliknya, sejelek-jeleknya orang ialah orang yang cepat marah dan lambat memberi ridha. Apabila ada seseorang yang lambat dalam marah maka ia tidak cepat berada dalam bayang-bayang marah. Dan, jika seseorang itu cepat marah, maka ia akan cepat berada dalam bayang-bayang marah.” (H.R. Ahmad).

Amarah dapat membahayakan diri sendiri apabila tidak dikendalikan. Perasaan marah dapat membuat hidup menjadi tidak tenang, penuh prasangka buruk, dan menimbulkan kerusakan bahkan kehancuran. Oleh karena itu sebagai orang tua kita wajib memberikan pendidikan yang tepat tentang bagaimana bersikap ketika marah agar lebih terkontrol sehingga bisa diarahkan ke hal-hal yang baik dan positif.

Berikut ini beberapa hal sederhana yang harus dilakukan sebagai orang tua untuk mengarahkan amarah pada anak remaja.

1. Menjadi Teladan Bagi Anak

Orang tua adalah role model terdekat bagi anak. Interaksi sehari-hari membuat anak banyak sekali meniru sehingga kemudian memiliki sikap dan karakter yang sama/mirip dengan orang tua. Terkadang anak yang memiliki tempramen tinggi, bisa jadi disebabkan karena melihat orang tuanya yang sering marah-marah. Benih amarah ini tertanam sejak kecil. Jika orang tua tak memperbaiki sikap, anak bisa mewarisinya.

Selain faktor internal keluarga, ada juga faktor eksternal yang berasal dari lingkungan pergaulannya. Si anak salah paham meniru gaya temannya yang mungkin jika marah lalu melakukan tindakan yang jagoan, terlihat hebat, dan keren. Sudah pasti ini pergaulan yang tidak baik.

Oleh karena itu, sebagai orang tua, cara memperbaiki dan mendidik anak tentang marah harus mulai dari diri sendiri (orang tua). Menjadi Teladan.

Pada saat kita marah, jangan sampai meluapkan emosi secara membabi buta kepada anak. Jelaskan keinginan atau kehendak kita dengan lebih bijaksana agar anak memahami apa yang sedang kita permasalahkan. Yaitu dengan menggunakan komunikasi yang produktif, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeluarkan pendapatnya mengapa berbeda dengan kehendak kita. Dengan begini, orang tua bisa lebih bijak dan anak tak menjadi korban amarah yang nanti ia melampiaskan kepada yang lain.

Sebagai orang tua sudah kewajiban kita untuk menjadi pendidik yang baik bagi anak-anak kita. Menjadi teladan yang digugu dan ditiru. Jangan sampai anak lebih sering melihat sisi pemarah pada diri kita dan kemudian mencontohnya.

2. Memberikan Nasihat dan Peringatan yang baik Kepada Anak

Marah merupakan salah satu respon diri kita ketika ada suatu hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Untuk anak seusia remaja, sudah semestinya mampu menelaah nasihat dengan baik karena akalnya yang telah tumbuh dan berkembang, bahkan mungkin sudah baligh. Maka nasihat yang baik, salah satunya adalah dengan memberikan penjelasan tentang dampak buruk/mudharat dari amarah. Seperti, bisa melukai hati orang lain jika mulut tidak dijaga, bisa melukai badan sendiri dan orang lain jika tubuh (tangan/kaki) tidak dikendalikan, yang pada akhirnya justru akan menimbulkan penyesalan.

Di sela-sela memberikan peringatan/nasihat kepadanya, menyisipkan pesan rasulullaah saw sehingga menambah penyadaran kepada anak remaja agar menahan/mengendalikan amarahnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, “Ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah Saw., ‘Berilah nasihat kepadaku.’ Maka beliau menjawab, ‘Jangan Marah.’ Orang itu mengulangi permintaannya kembali dan beliau memberi jawaban yang sama, ‘Jangan Marah.” (H.R. Bukhari).

Di hadist lain disebutkan: “Orang yang hebat bukanlah orang yang selalu menang pertarungan. Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri ketika sedang marah” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadist ini boleh jadi sangat cocok dengan jiwa muda anak remaja yang meluap-luap dan labil. Kita bisa mulai menanamkan bahwa hebat bukanlah dengan sok jagoan di luar sana, kemudian menang dalam perkelahian. Hebat adalah yang mampu mengendalikan amarah. Dengan begini kita bisa hindarkan anak dari kenakalan remaja seperti yang terjadi pada umumnya remaja hari ini.

3. Mengajarkan Anak untuk Meminta Perlindungan Kepada Allah SWT

Memperkenalkan Allah dan Rasulullah semenjak kecil merupakan hal penting. Hal ini agar anak terbangun rasa kedekatan hatinya kepada Allah dan rasulullah. Sehingga ketika anak remaja kita marah, hatinya akan mudah mengingat Allah dan rasulNya. Dengan demikian mudah pula bagi kita untuk memasukan anjuran-anjuran dari Allah dan rasulullah kepadanya tentang bagaimana menyikapi amarah.

Salah satu anjuran dari rasulullaah ketika kita marah adalah dengan cara membaca doa ta’awudz, yakni meminta perlindungan dari Allah atas setan yang terkutuk yang berusaha menguasai diri kita melalui amarah.

Diriwayatkan dari Mu’adz, ia berkata, “Ada dua orang yang saling mencaci di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kami tengah duduk-duduk di sekeliling beliau, salah seorang dari keduanya mencaci yang lainnya seraya marah-marah dengan wajah yang merah, lalu Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat, apabila ia mengucapkannya maka apa yang didapatkannya (marah) itu akan hilang, yaitu apabila ia mengucapkan, ‘أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Era medsos hari ini telah membuka seluas-luasnya ruang diskusi dan interaksi kita, juga pada anak-anak remaja. Bahkan tanpa pengendalian, mereka terlibat saling caci maki, ujaran kebencian, ketika marah. Doa yang diajarkan rasulullah saw tersebut di atas harus sering kita perdengarkan kepada anak-anak kita agar terjaga dari keburukan rayuan setan.

4. Mengevaluasi Amarah Anak Bersama-sama

Apabila anak remaja sedang marah, diamkan sejenak hingga mereda dan bisa diajak diskusi. Tanyakan mengapa ia marah dengan nada bersahabat bukan menghakimi. Berikan ruang dan dengarkan curhatannya. Orang tua harus beremphati dalam menghadapi dan berusaha memberikan pemahaman kepada anak atas kemarahan yang terjadi. Kemudian, ajak anak kita bersama-sama lebih dalam merenungi peristiwa kemarahan tersebut termasuk efek psikologisnya. Yaitu kita akan lelah lebih dari biasanya, baik fisik pikiran maupun hati. Kemudian kita akan mengalami gangguan komunikasi keharmonisan dengan orang lain, juga bisa salah melakukan pekerjaan dan membuat keputusan.

Pada akhirnya, ajak anak untuk beristighfar bersama, berdzikir dan saling memaafkan jika memang peristiwa kemarahannya melibatkan kita sebagai orang tua. Atau memaafkan orang yang terlibat pertengkaran dengannya, apakah itu saudara kandungnya, teman sekelasnya atau mungkin sahabatnya. Jangan sampai mengikuti nafsu amarahnya yang bisa mengganggu pikiran dan hatinya sendiri.

Kita juga bisa memberikan kisah-kisah motivasi tentang bagaimana beruntungnya orang yang mampu mengendalikan amarah. Sehingga anak remaja kita semakin matang mentalnya dalam menghadapi konflik yang memicu kemarahan. Pada akhirnya anak remaja kita akan lebih banyak lagi mendapatkan hikmah yang tertanam dalam benaknya, sehingga berbuah sifat-sifat mulia yakni kesabaran, ketulusan, kebijaksanaan.

Perasaan marah memang ada di dalam diri manusia. Namun sudah seharusnya kita dapat mengontrolnya. Sebagai orang tua kitalah yang harus memberikan teladan pertama dan utama agar mengendalikan amarah. Kemudian kita harus selalu menjadi pemberi solusi yang baik ketika anak marah. Yakinkan bahwa keburukan dari amarah, hanya akan mendatangkan keburukan yang lain bahkan murka Allah. Ingatkan pula bahwa Allah Maha Rahmah, Maha Pengasih dan Penyayang. Rahmat dan kasih sayangNya hanya bisa dijemput dengan bersikap rahmah pula, bukan dengan marah-marah.

Oleh: Siva Fadillah & Agastya Harjunadhi

Leave a Reply