Loading...
Parenting

Mendidik Anak Agar Amanah

Bukan satu-dua kali mungkin kita mendengar ada anak yang ketika dititipkan oleh orang tuanya uang bayaran sekolah malah menggunakan uang itu untuk keperluan lain, seperti membeli hadiah ulang tahun teman, membeli ponsel, dsb. Atau cerita lain yang mengisahkan seorang anak yang ketika dipercaya untuk memegang keuangan sebuah acara sekolah, malah menggunakan uang itu untuk acara pribadinya. Tidak ada rasa bersalah yang muncul di diri anak-anak ini saat menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan pribadinya. Padahal orang tua atau teman-temannya yang sudah mempercayakan uang itu kepadanya tentu akan sangat marah jika tahu ia telah menyelewengkan uang itu.

Padahal benih-benih seperti ini bisa terbawa hingga nanti sang anak beranjak dewasa. Jika hal sederhana yang sudah jelas tujuannya tidak ia jaga dengan baik, bagaimana pula ia bisa dipercaya untuk mengemban tugas-tugas lebih besar. Bukan tidak mungkin apabila dibiarka, korupsi bisa saja dilakukan. Karena tidak ada rasa tanggungjawab bahwa barang yang diberikan kepadanya itu bukanlah kepunyaan kita pribadi. Artinya sang anak menjadi tidak amanah atas apa yang dititipkan kepadanya.

Amanah merupakan salah satu sifat yang penting dimiliki oleh seorang. Seperti Rasulullah saw yang dijuluki sebagai Al Amiin, maka hendaklah kita pengikutnya ini mengikuti jejaknya agar menjadi manusia yang mampu dipercaya oleh orang lain. Begitu pula anak-anak kita yang menjadi generasi penerus Islam, perlu ditanamkan sifat ini sedini mungkin agar mendarah daging. Sebab sifat amanah penting dalam menjadikan anak seorang yang bertanggungjawab, baik untuk dirinya sendiri maupun kepentingan orang banyak.

Mendidik anak agar menjadi seorang yang amanah bisa dilakukan semenjak belia. Saat anak sudah mulai menyadari benda-benda di sekitarnya dan kepemilikannya akan suatu barang, mereka sudah mulai bisa diajarkan menjadi orang yang amanah. Contoh sederhana, kita bisa mengenalkan anak bahwa barang-barang yang ia miliki sebenarnya adalah titipan yang diberikan oleh Allah melalui kita orang tuanya. Anak diajarkan untuk menjaga dan merawat mainan yang dimilikinya dengan baik. Tidak merusak mainan maupun tidak menghilangkannya.

Contoh kedua, kita bisa mengajarkan anak untuk menanyakan dahulu apakah sebuah barang temannya boleh dipinjam atau tidak. Ini untuk menanamkan konsep kalau dia tidak bisa sembarangan mengambil barang temannya. Lebih jauh lagi ini menanamkan kalau ada barang yang kepemilikannya bukan di dirinya sehingga ia paham kalau tidak semudah itu mengambil barang orang lain.

Pengajaran ini juga mencontohkan kalau ia diberikan barang lain, ia harus dapat menjaganya karena barang itu bukanlah miliknya. Kemudian, kita dapat menjelaskan kalau setiap mainan temannya yang telah ia mainkan, haruslah dikembalikan. Ini lagi-lagi menanamkan konsep kalau tidak semua barang adalah miliknya.

Dengan demikian, anak belajar untuk bertanggungjawab atas barang kepunyaannya maupun kepunyaan orang lain. Ada pula konsep mengembalikan barang yang bukan haknya kepada pemilik sesungguhnya. Selanjutnya, kita dapat mengajarkan anak mengenai konsep tidak semua barang bisa ia miliki dengan mudah. Ini dapat kita ajarkan jika anak sudah lebih besar dan sudah memahami konsep adanya usaha untuk mendapatkan sesuatu.

Misalnya, ketika ia ingin membeli sebuah makanan, kita mengajarkannya untuk mengatakan sendiri apa yang diinginkannya kepada penjual. Kita dapat pula memberikannya sejumlah uang untuk ia berikan kepada sang penjual. Setelah selesai transaksi penjualan, kita bisa meminta ia untuk memberikan kembaliannya kepada kita. Kita juga bisa menambahkan pertanyaan seputar berapa uang yang dihabiskan untuk membeli makanan/barang yang sudah dibeli. Jadi, anak paham ada tanggungjawab atas uang yang sempat diberikan kepadanya.

Bentuk lain dalam menanamkan sifat amanah adalah dengan memberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu untuk kepentingannya, misal mengambil minum, mencuci piring sehabis makan, atau menyiapkan barang sekolahnya. Di sini kita melatih sang anak untuk mandiri dan bertanggungjawab atas kewajibannya. Untuk latihan ini tentunya orang tua pun mengambil peran. Sebab orang tua jugalah yang mengajarkan anak apakah ia dapat amanah atau tidak.

Peran orang tua amatlah besar terutama dalam menerapkan kemandirian untuk mengajarkan tanggungjawab. Masih banyak orang tua yang merasa tidak “betah” membiarkan anaknya belajar melakukan sendiri dengan alasan apapun. Padahal ikut campurnya orang tua untuk hal-hal yang menjadi kewajiban anak akan membuatnya lalai bertanggungjawab.

Sebagai contoh, tidak sedikit orang tua yang memanjakan anak dengan menyiapkan semua peralatan sekolah sang anak sehingga anak cukup berangkat ke sekolah saja. Termasuk dalam urusan mengerjakan PR, orang tua yang sepenuhnya mengerjakan, bukan sang anak. Ini akan semakin menumbuhkan sikap lalai pada anak yang berujung pada tidak amanahnya sang anak di kemudian hari. Karena sang anak tidak merasa memiliki, baik barang sekolah maupun tugas-tugasnya sendiri.

Intinya pengajaran mengenai sifat amanah ini adalah agar anak sadar ada tanggungjawab yang dibebankan kepadanya. Baik tanggungjawab atas kepemilikannya sendiri maupun orang lain.  Kita sebagai orang tua harus mampu memandirikan anak agar mereka tahu bagaimana rasa bertanggungjawab atas semua perbuatannya, termasuk dalam bentuk tidak secara buta membela anak apabila melakukan kesalahan. Amanah yang terbeban pada anak adalah bentuk dirinya mampu memikul hal kecil maupun besar dalam kehidupannya. Jika tidak dibiasakan sedari kecil, kapan lagi mereka merasa demikian.

Jangan sampai masa mendidik amanah ini terlewat karena kita memanjakan anak dengan alasan “masih kecil” atau “kasihan”. Kedua alasan yang tampaknya ringan itu hanya akan membuat anak terlena dan lupa, saat mereka sudah memasuki masa baligh mereka sudah bertanggungjawab penuh atas perbuatannya. Jadi, sudahkah kita mulai untuk mendayakan anak kita agar mereka menjadi amanah dalam kehidupannya?

Leave a Reply