Loading...
Parenting

Mencetak Generasi Cinta Ilmu

Hari ini, kita sebagai orang tua tengah mengalami badai informasi, baik seputar teori pengasuhan hingga pendidikan anak. Keberagaman teori tersebut mulai dari cara yang memiliki istilah kebarat-baratan hingga istilah yang tidak asing ditelinga. Tak jarang saking banyaknya arus informasi pengasuhan/pendidikan anak tersebut membuat banyak Ayah dan Bunda mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan, mana yang paling cocok diterapkan dalam keluarganya. Sebagai seorang muslim, kita tentu harus menggunakan panduan agama dalam membangun keluarga, sebab itu menjadi bukti keimanan.

Selain itu, dalam catatan sejarah juga membuktikan, bahwa belum pernah ada agama yang memiliki ajaran lengkap di berbagai bidang, kecuali agama Islam. Tidak ada pemikiran di dunia ini yang memberikan bimbingan kepada penganutnya seperti pemikiran (metodologi) Islam. (Suwaid. 2010:494)

Kehadiran ilmu dalam kehidupan kita sangat penting. Sebagaimana hadist yang juga pernah dimention dalam artikel The Real Ummi sebelumnya, Rasuullah Saw bersabda:

“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Menuntut ilmu merupakan ibadah terbaik sebagai media mendekatkan seorang hamba kepada Rabbnya. Oleh karena itu, masa kanak-kanak adalah masa paling subur untuk pembentukan ilmu dan pemikiran. (Suwaid. 2010:496)

Dalam lingkungan keluarga, kita mengambil peran penting untuk menyaring ilmu yang kemudian akan dididikkan kepada anak-anak kita. Pun juga kita sebagai orang tua, harus juga mampu menyaring dari mana ilmu kita ambil, kemudian tahapan ilmu apa yg menjadi prioritas orangtua untuk dicapai, khususnya yang baru memulai untuk anak-anaknya yang masih balita, dan umumnya, untuk semua orangtua muslim.

Salah satu pondasi dari pembentukan pemikiran (ilmu) adalah mengambilnya (belajar) dari sumber utama yakni Rasulullah saw dan mencintai beliau sepenuh hati. Karena Rasulullah sudah tiada, maka belajar dari ahli waris Rasulullah yaitu ulama. Jadi jangan sampai dalam benak dan pemikiran anak tidak mengenal rasulullah, atau ulama sebaga guru utama dan panutan ummat. Inilah dasar penting agar ilmu yang tertanam kelak adalah ilmu yang benar sekaligus diberkahi. Insya Allah kemudian akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang kepribadian anak baik secara pemikiran, psikis, mental bahkan fisik.

Mencintai Rasulullah dan meneladaninya adalah bagian dari akidah. Jika dasar ini kuat, maka anak akan ringan dalam mengamalkan Al Quran dan hadits. Keduanya ini adalah sumber ilmu pengetahuan yang menerangi akal dan menguatkannya. Mereka akan menjadi generasi yang cerdas di dunia berorientasi akhirat. Diantara kecerdasan akal dan hati anak bisa diperoleh melalui menghafal Alquran.

Ibnu Abbas mengatakan, “Barang siapa yang dapat menghafal al-Qur’an sebelum mencapai usia baligh, maka dia termasuk orang yang mendapatkan hikmah di masa kecilnya.” (HR. al-Baihaqi, ad-Dailami dan al-Hakim)

Para shahabat, tabi’in dan ahli hadits sangat sadar bahwa aktivitas anak-anak dalam belajar memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam perkembangan pengetahuannya. Menanamkan hal-hal baik, seperti Al Qur’an dan hadist menjadikannya lebih hafal dan tertancap kuat diingatannya dibandingkan seseorang yang mempelajarinya setelah dewasa.

Kita juga bisa menanamkan keutamaan menuntut ilmu kepada anak sejak dini. Diantaranya seperti sabda Rasulullah Saw:

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682)].

Melalui narasi sabda nabi tersebut di atas, sangat mungkin membuat mereka bersemangat mencari ilmu. Betapa tidak, ikan-ikan di laut yang jumlahnya begitu banyak dan wujudnya sangat mudah dicerna oleh anak, mendoakan para penuntut ilmu. jika dijelaskan dengan baik, insya Allah sangat memotivasi anak-anak bahkan kita sebagai orang tua untuk belajar.

Setelah rasa cinta menuntut ilmu tertanam kuat pada diri anak, selanjutnya orangtua akan lebih mudah memberikan dukungan baik moral, spiritual dan materiil. Sungguh nikmat rasanya apabila anak kita mau belajar Al Qur’an dan Hadist serta ilmu-ilmu lain secara suka rela dan penuh semangat. Anak-anak yang benar-benar mendapatkan hikmah.

Setelah menanamkan kecintaan kepada nabi Saw dan pewarisnya, serta menjelaskan keutamaan menuntut ilmu, langkah berikutnya yang perlu diperhatikan oleh orangtua adalah memilihkan guru/ustadz yang tepat untuk ananda. Karena guru yang bertaqwa, shalih dan berakhlak mulia, insya Allah akan memberikan teladan terbaik dalam setiap langkah pendidikannya. Segala gerak-gerik, tutur-kata sang guru pastinya menjadi cermin bagi si anak.

Sepatutnya anak memiliki guru yang pandai, taat beragama, berakhlak mulia, mengerti kemauan anak, bersahaja, berwibawa, tidak sering bercanda, tidak suka marah, tidak suka membentak dan mengeluarkan kata-kata yang tidak layak di hadapan anak, tidak keras dan kasar, murah senyum, cerdas, enak dipandang, bersih dan rapi. (kitab as-Siyasah bab “Siyasatur Rajuli Waladahu”)

Selanjutnya, sebagai bentuk dukungan orangtua dalam perjalanan anaknya menuntut ilmu, orangtua dapat membuatkan perpustakaan pribadi.

“Juga saya sebutkan tentang pentingnya rumah memiliki perpustakaan walau kecil sekalipun. Buku-buku koleksinya harus dipilih berupa buku sejarah Islam, biografi ulama salaf, kitab-kitab akhlak, hikmah, ekspedisi islam, peperangan, dan lain sebagainya. Kalau kotak obat-obatan dan P3K di rumah penting untuk mengobati badan, maka perpustakaan Islam penting untuk memperbaiki pola pikir. Orangtua harus berusaha menghalangi masuknya buku-buku yang tidak bermanfaat dan koran-koran atau tabloid-tabloid yang merusak anak mereka. Ini dilakukan tidak dengan melarang dan mengancam, karena justru akan membuat si anak penasaran. Akan tetapi, dengan mengarahkannya untuk mengonsumsi kitab-kitab yang bermanfaat dan menarik baginya.”
(Imam asy-Syahid dalam risalahnya Anja’ul Wasa’il fi Tarbiyyati an-Nas’i Tarbiyyatan Islamiyyatan Kha’ishah)

Lalu tak kalah pentingnya, sebagaimana metode ini telah digunakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam, orangtua juga dapat mempengaruhi pola pikir anak dengan mengkisahkan orang-orang hebat seperti kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an, kisah para Nabi dan Rasul, hingga para ulama salaf. Metode ini dapat digunakan untuk merencanakan masa depan berdasarkan apa yang telah mereka ketahui dari masa lampau.

“Kalau orang hebat hari ini berpikir 250 tahun ke depan, kita dibiasakan oleh Islam berpikir sangat sangat jauh; Sesudah kematian!” (استاذ Budi Ashari, Lc)

Siap berperan, mendampingi calon orang hebat di dunia hingga akhirat? 🙂

Semoga selalu اَللهُ bimbing…

Wallahu a’lam bis shawab.

 

Malang, 30 Januari 2019
Lintang Putri Wibowo
Edited : Agastya Harjunadhi

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply