Loading...
Parenting

Memaknai Golden Age

Golden age, atau periode emas, adalah periode usia anak di awal kehidupannya, di mana masa perkembangan anak pada saat itu sangat pesat. Biasanya golden age ini berkisar antara rentang usia 0-5 atau 0-6 tahun. Pada masa ini, informasi apa pun akan diserap anak tanpa melihat baik atau buruknya. Informasi ini akan menjadi dasar pembentukan diri sang anak sehingga tahun-tahun pertama ini akan menjadi tahun-tahun yang sangat penting dalam menentukan kehidupan anak. Ibarat tanah liat, anak dapat “dibentuk” dengan mudah di periode emas ini.

Mengingat pentingnya masa emas ini, kita sebagai orang tua perlu sangat berhati-hati dalam bertindak dan memutuskan apa saja yang ingin kita berikan dan tanamkan pada dalam golden age-nya. Secara garis besar, golden age sering dibahas dalam tiga ranah ini: agama, nutrisi, dan stimulasi. Mari kita bahas satu per satu.

*

AGAMA

Tidak dapat dipungkiri lagi, hal pertama yang wajib kita kenalkan pada anak adalah Allah. Menurut Ustadz Harry Santosa dalam bukunya Fitrah Based Education, fitrah keimanan telah terpasang dalam setiap anak. Tidak ada anak yang tidak mencintai Tuhan, kecuali disimpangkan oleh pendidikan yang salah. Keimanan ini yang harus senantiasa kita jaga, dan golden age anak dalam usia 0-6 tahun ini harus dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menanamkan tauhid kepada anak. Mengapa hal ini yang utama? Karena nikmat iman jauh lebih berharga daripada dunia dan seisinya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Semua bayi dilahirkan di atas fitrah, kemudian kedua orang tuanya menjadikannya beragama Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhâri, no. 1359 dan Muslim, no. 2658)

Cara pikir anak-anak yang belum konkrit akan sangat mudah menerima hal yang ghaib seperti Allah, malaikat, alam kubur, surga, neraka, dan lain sebagainya, sehingga konsep iman dapat ditanamkan sejak dini. Iman merupakan hal yang pertama diajarkan kepada anak, sebelum adab dan ilmu lainnya. Buah dari mengajarkan keimanan ini meliputi akhlak kepada Allah dan akhlak lainnya. Seseorang yang imannya kuat niscaya adab dan akhlaknya pun akan mengikuti, sehingga dari menanamkan keimanan, kita sekaligus menanamkan pendidikan karakter sejak dini.

 

*

NUTRISI

Menurut website Departemen Kesehatan Republik Indonesia, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Bahaya stunting tidak hanya berefek pada postur tubuh namun juga mempengaruhi aspek kognitif anak karena kurangnya gizi baik dapat mempengaruhi perkembangan otak. Saat ini awareness mengenai stunting sudah mulai meningkat seiring dengan menjamurnya gerakan Indonesia bebas stunting di social media.

Tinggi badan anak yang lebih rendah atau pendek seringkali dikaitkan dengan genetik orang tua, sedangkan masih menurut website yang sama, kondisi genetik hanya berpengaruh kecil dibandingkan faktor perilaku, lingkungan, dan layanan kesehatan, sehingga hal ini sangat mungkin untuk dicegah. Menurut Menteri Kesehatan, Nila Farid, terdapat tiga hal yang dapat diperhatikan untuk menghindari stunting, di antaranya pola makan, pola asuh, dan sanitasi.

Stunting dapat dicegah dengan memberikan asupan gizi yang baik dalam masa 1.000 hari pertamanya. Pemberian nutrisi yang baik untuk anak dimulai sejak janin berada dalam kandungan, sehingga ibu hamil pun harus membiasakan perilaku makan sehat. Periode penting pencegahan stunting ini berlangsung hingga anak berumur 2 tahun. Pemerintah pun semakin gencar mengampanyekan gerakan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan, dilanjutkan dengan MPASI dengan standar WHO. Asupan nutrisi yang kurang bisa jadi karena kurangnya edukasi orang tua. Anak membutuhkan asupan karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral yang memadai untuk perkembangan tubuhnya, karena itu pemberian makanan dengan asupan gizi yang lengkap serta metode yang tepat sudah dapat dilakukan mulai hari pertama anak makan, seperti yang dianjurkan dr. Ratih Ayu Wulandari yang menginisiasi kelas Menjadi Ibu di menjadiibu.com.

 

*

STIMULASI

Laju pertumbuhan dan perkembangan anak memang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, namun secara garis besar dapat dirumuskan kemampuan apa saja yang seharusnya sudah dicapai anak dalam rentang usia tertentu. Perkembangan anak usia dini ini secara garis besar dibagi dalam tiga aspek, yakni perkembangan fisik, kognitif (meliputi sensori-motor dan bahasa), dan sosio emosional, yakni perkembangan kepribadian yang meliputi emosi dan pemikiran yang berhubungan dengan hubungan sosial.

Saat ini sudah banyak fasilitas yang membantu orang tua mengawasi tumbuh kembang anaknya, seperti Rumah Lebah yang mengeluarkan buku berisi ceklis perkembangan anak sampai usia 2 tahun, atau Rumah Dandelion yang mengeluarkan buku stimulasi anak sampai usia 5 tahun. Selain itu, orang tua juga dapat menggunakan aplikasi PrimaKu yang dikeluarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) atau aplikasi Chai’s Play, di mana kedua aplikasi tersebut memberikan panduan cara-cara menstimulasi anak usia dini yang sesuai dengan usianya. Panduang-panduan ini sangat berguna bagi orang tua agar dapat mengidentifikasi sejak dini apabila ada keterlambatan, dengan memperhatikan tanda bahaya atau red flags perkembangan anak.

*

Menjadi orang tua dan membesarkan anak-anak adalah sebuah proses, tentu dengan tujuan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat lahir batinnya. Hanya bergantung pada periode golden age saja tentu kurang bijak, karena perjalanan masih panjang dan orang tua sudah seharusnya terus belajar untuk membangun keluarga yang diimpikan. Namun demikian, segala perlakuan kita kepada anak dalam masa golden age-nya adalah salah satu bentuk ikhtiar kita dalam menjaga amanah yang telah diberikan kepada Allah. Semoga kita senantiasa dibimbing oleh-Nya dalam menjalankan tugas ini.

 

*

 

Sumber:
https://almanhaj.or.id/5613-tauhid-adalah-aqidah-bawaan-manusia.html

http://www.depkes.go.id/article/view/18040700002/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi-2-.html

Leave a Reply