Loading...
Parenting

Memaknai Arti Anak dalam Kehidupan

Sebagai orang tua, tentu kita ingin memberikan semua yang terbaik untuk anak-anak kita. Semua upaya kita lakukan agar anak terpenuhi kebutuhannya dengan cara yang terbaik. Kita memberikannya asupan makanan, mengajarkannya pengetahuan, dan memilihkan sekolah yang terbaik, dengan harapan anak tumbuh menjadi anak baik, sesuai dengan pinta kita kepada Allah saat ia lahir ke dunia.

Namun, apakah semua itu menjamin anak tumbuh menjadi seperti harapan kita?

Semakin hari saat ini semakin banyak ilmu yang bisa kita dapatkan sebagai orang tua. Tak ada celah untuk berkata, “Saya tidak tahu caranya.” karena semua informasi bisa kita dapatkan dari genggaman kita. Akan tetapi, kecanggihan informasi itu apakah lantas membuat anak kita menjadi anak yang sempurna?

Harapan menjadikan anak tanpa celah adalah dambaan setiap orang tua. Atas semua lelah yang diberikan saat mengasuh dan membesarkan anak, akan terbayar saat anak menjadi orang sukses dan berakhlak baik. Sayangnya, ada saja harapan itu tak sejalan dengan kenyataannya.

Di antara kita mungkin ada yang bersedih, anak yang sudah dibesarkan dengan semua upaya dan cinta kasih, ternyata saat besar malah menjadi “tersesat”. Tersesat dalam artian menyimpang dari ajaran agama, terlibat dalam perilaku-perilaku yang merusak, dan hal-hal lain di luar ekspektansi kita orang tuanya.

Di titik ini kita harus kembali bijak memahami, apa makna seorang anak sebenarnya. Jamak kita dengar anak bisa menjadi pedang bermata dua, menjadi penyejuk atau malah jadi ujian untuk kita. Saat menjadi penyejuk, kita tak akan memungkiri betapa senangnya kita mendapati anak demikian. Sebaliknya, saat anak menjadi ujian, dunia seakan menjadi terbalik 180 derajat.

Ketika mendapati anak sebagai ujian, kita sebagai orang tua sebaiknya membuka mata lebih lebar. Memahami makna dari setiap jengkal ujian yang Allah beri melalui anak-anak kita.

Pertama, tentu kita harus memahami kalau setiap yang terjadi adalah jalan takdir yang diberikan Allah agar kita terus menjadi hamba-Nya yang beriman dan penuh perbaikan. Tak ada ujian tanpa tujuan. Begitu pula ketika anak menjadi ujian kita. Bukan lantas menyalahkan anak yang berjalan di jalan yang menyimpang atau menyesalinya sampai berlarut. Tugas kita sebagai seorang makhluk hanyalah menjadikan setiap takdir kita itu sebagai cara meningkatkan keimanan kita. Bahwa Allah menciptakan tiap kejadian hanya untuk menjadikan kita senantiasa ingat, ada penentu kehidupan di luar usaha kita itu.

Lantas yang kedua artinya kita harus mengoreksi diri, apa yang masih kurang dari kita. Sebab ujian yang ada bertujuan untuk memperbaiki kekurangan kita. Misalnya, kita mendapati anak yang sungguh keras kepala, tak mau mendengarkan kita sampai rasanya stok sabar kita habis. Mungkin memang artinya kita yang harus belajar kesabaran itu secara lebih luas. Bahwa kesabaran memang tak berbatas, tinggal kita tahu cara mendapatkannya bagaimana.

Kemudian, kita pun harus paham kalau Allah itu membebani kita untuk sesuatu, maka akan diringankan pula beban kita untuk hal lainnya. Bisa jadi tantangan terberat kita adalah mengasuh anak, tetapi kita diberi kemudahan dalam menjalin hubungan dengan mertua dan ipar kita. Bisa jadi, kemudahan itu bertujuan untuk mendukung kita menghadapi kesulitan kita dalam mengasuh anak. Allah Maha Adil, maka ia akan menyeimbangkan tiap beban kita agar memudahkan kita menghadapi semuanya.

Terakhir, tentu kita harus banyak berdoa. Usaha kita dalam mengasuh anak adalah bentuk ikhtiar dalam kebaikan. Maka iringan doa adalah senjata utama untuk menyeimbangkannya. Ibunda para ulama pun demikian. Menjaga kata-katanya saat mengasuh anak adalah penting sebab setiap ucapan kita terhadap anak bisa menjadi doa untuk mereka. Ini sungguh ampuh dibanding kita marah atau memaki saat anak tak sesuai keinginan kita. Kata-kata positif yang kita ucapkan mampu untuk meredakan emosi negatif yang membuncah akibat ulah anak.

Pada akhirnya memaknai kalau anak adalah titipan dari Allah seperti halnya benda-benda lain yang kita miliki, maka kita semakin tahu kalau anak pun bisa menjadi sumber tantangan untuk kita. Namun, tetap saja anak adalah modal terbesar kita untuk menuju surga-Nya. Oleh karena itu, sudah tugas kita untuk memaknai kehadiran mereka sebagai cara Allah untuk menjaga iman kita tetap pada jalannya.

Anak bukanlah sesuatu yang ditujukan untuk membuat kita berbangga-bangga atasnya. Sebaliknya, anak menjadi sarana kita untuk terus tawadu’ atas keberkahan yang diberikannya.

Leave a Reply