Loading...
Parenting

Jejak Kita di Hati Anak

Sayangilah mereka seperti saat mereka menyayangi aku di waktu kecil.

Sepenggal doa tulus yang diucapkan untuk orang tua setiap kali selepas menunaikan solat ini terkesan sederhana. Namun jika dimaknai secara baik sesungguhnya artinya sangat mendalam. Kita mengharap Allah menyayangi orang tua seperti yang sudah mereka lakukan kepada kita di waktu kecil. Sayang dan cinta kasih yang seharusnya diberikan orang tua kepada anak-anaknya. 

Mulai dari saat berada di dalam kandungan, dilahirkan, diasuh, dibesarkan, sampai anak tumbuh besar seperti sekarang, orang tua memiliki peran besar sebelum akhirnya anak lepas mengarungi kehidupannya. Peran orang tua menjadi penting untuk mengisi anak-anaknya dengan semua bekal yang bermanfaat untuknya kelak. Semua itu berawal dari cinta dan kasih yang ditujukan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan emosional anak-anak.

Akan tetapi, bagaimana jika kondisi ideal itu tak dapat tercapai? Entah karena anak kehilangan orang tuanya semenjak kecil atau harus terpisah jauh dari orang tuanya. Kalau kondisinya demikian, mungkin rasa cinta dan doa itu ditujukan kepada sosok pengganti yang mengasuh anak. 

Lalu bagaimana kalau kondisinya lebih buruk dari itu? Misalnya pada anak-anak yang tidak terpenuhi hak emosional dan keselamatan fisiknya karena orang tua yang bersikap abai atau melakukan kekerasan kepadanya? Perlakuan yang dilakukan dengan kedok “sayang” dan “demi masa depan anak” hingga menyisakan luka batin yang tersembunyi bisa sampai anak dewasa.

Hal ini sempat menjadi diskusi dengan orang-orang terdekat saya. Apakah kita sebagai anak layak mendoakan orang tua dengan cara demikian, padahal mereka sudah memperlakukan kita secara tidak baik semenjak kecil. Jika menaknai doa tadi, artinya sayang yang ditunjukkan oleh mereka lewat kekerasan itu, kita minta juga dikembalikan kepada mereka lewat doa kita. Pantaskah demikian?

Tentu jika mengingat apa yang sudah dilakukan mereka kepada anak dengan cara yang tak bisa diterima akal sehat, seperti memukul, merendahkan, menyudutkan, melarang dengan ancaman, dsb itu rasanya sungguh mengenaskan. Dendam yang mungkin tertinggal di dalam diri akibat semua peristiwa yang pernah dialami itu bisa saja membuat anak ingin orang tua kita diperlakukan dengan cara yang sama. Sungguhkah ini yang orang tua inginkan?

Makin menua, sudah secara alamiah orang tua ingin diperlakukan dengan cara yang baik oleh anak-anaknya. Anggapan karena sudah mengasuh dan menyayangi sang anak semenjak mereka masih balita membuat orang tua ingin dibalas jasa-jasanya secara maksimal pula. Akan tetapi, sudah sepantaskah sebagai orang tua menginginkan hal itu atas semua yang sudah dilakukan di masa lampau?

Tak akan ada yang bisa menggantikan masa lalu yang sudah terlewati, termasuk apa yang sudah dilakukan sebagai orang tua kepada anak-anaknya. Keras atau lembut, semuanya akan menyisakan bekas tanpa ganti pada masing-masing anak. Nah, bekas seperti apa yang ingin ditinggalkan bagi anak-anak itu nantinya? Hati yang penuh kasih atau penuh amarah kepada orang tua.

Memaknai doa ini layak untuk dipahami baik oleh orang tua maupun anak. Anak memahaminya agar lebih bijak dalam berdoa. Orang tua perlu tahu maksudnya agar lebih mawas dalam mendidik anak-anaknya. Sebab kita hidup berlandaskan pada kekuatan doa. Jika doa ini diulang-ulang oleh anak untuk kita para orang tuanya, maka bukan tidak mungkin Allah akan mengabulkannya. 

Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita sebaiknya menyadari pentingnya peran kita sebagai orang yang dititipi oleh Allah untuk mengasuh dan menjaga sang anak. Sudah seberapa besarkah kita ada di hati anak dan bentuknya bagaimana. Jangan sampai kita memang besar dalam hatinya, tetapi penuh dengan kemarahan dan dendam kepada kita. 

Kita butuh untuk menumbuhkan sosok terbaik kita di mata mereka. Menjadikan kebaikan kita memenuhi hati mereka sehingga mereka mampu memanjatkan doa itu dengan ketulusan yang sangat. Maka, apa yang dapat dilakukan agar itu terjadi.

  1. Terimalah kondisi bahwa kita sudah menjadi orang tua saat ini. Menerima ada anak yang berada dalam pengasuhan dan perlindungan kita, sehingga kita lebih mawas diri untuk terus meningkatkan kebaikan kita.
  2. Banyak belajar menjadi orang tua yang baik dalam memperlakukan anak. Bisa dengan mengikuti beragam kelas pengasuhan, membaca buku-buku pengembangan anak, dan lebih penting lagi berusaha menerapkan itu semua.
  3. Mengenali kekurangan diri dan mencoba mengatasinya seiring dalam pengasuhan anak. Tentu saat mengasuh, tanpa kita sadari akan membawa sebagian dari diri dan pengalaman masa lalu kita itu ke dalam pengasuhan kita. Maka, mengenalinya dan mengatasinya adalah kunci agar anak tidak mengalami keburukan yang mungkin pernah kita alami.
  4. Jangan pernah gunakan kekerasan, baik yang secara emosional maupun fisik. Tak ada kebaikan yang bisa diingat dari orang tua yang memperlakukan anaknya demikian. Bahkan Rasulullah saw pun tak pernah memperlakukan anak-anak secara buruk. Jadi, jika ingin menjadikannya teladan, mulailah dengan memperlakukan anak dengan baik. Kekerasan tak pernah bisa disamakan dengan rasa sayang. 
  5. Ajak anak untuk mengenal agama dan Allah semenjak kecil dengan cara yang menyenangkan. Menumbuhkan nilai-nilai Islami dengan baik akan membuahkan kebaikan pula untuk hati anak agar terjaga dari sifat-sifat yang menumbuhkan keburukan pada orang tua. 

Cara-cara itu adalah usaha kita untuk terus menumbuhkan dan mengisi hatu anak kita. Apapun itu yang penting kita sebagai orang tua mengupayakan agar mampu menjadikan kita sebagai yang utama di hati mereka dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih. Jangan sampai suatu hari nanti ada rasa keengganan dari anak kita untuk mendoakan kita dengan demikian bahkan mendendam kepada kita.

Walaupun demikian, tetap saja apapun yang telah orang tua perbuat, semakin menua usianya akan ada harapan-harapan agar anaknya kembali memberikan kepada mereka. Tetap saja kita harus mengamalkan “Berbuat baik kepada ibu dan bapak” karena tanpa mereka, anak tak akan pernah lahir ke dunia. 

Leave a Reply