Loading...
Parenting

Jangan Berkata Bohong pada Anak

Anak-anak adalah para peniru ulung. Mereka senantiasa memperhatikan perilaku kita, orang tuanya baik dalam tindakan maupun perkataan. Sebagai teladan, maka kita harus selalu ingat dan menjaga tindak tanduk kita, terutama di depan anak-anak. Salah satu keteladanan yang diperintahkan oleh Rasulullah adalah mengenai bersikap jujur.

Rasulullah saw. Bersabda,

“Barangsiapa berkata kepada anaknya ‘Kemarilah! (nanti kuberi)’ kemudian tidak diberi maka dia adalah pembohong.” (h.r. Ahmad dari Abu Hurairah)

Kisah lain dari Abdullah Ibnu ‘Amir menyebutkan, bahwa pada suatu hari, saat Rasulullah berada di rumahnya, ibunya memanggil, “Kemari! Saya ingin memberimu.”

“Apa yang akan kamu berikan?” tanya Nabi.

“Saya akan memberinya kurma.” jawab Ibu Abdullah.

Nabi bersabda, “Ingat! Jika kamu tidak memberinya apa-apa, maka kamu akan tercatat sebagai pembohong. (h.r. Abu Dawud).

Berbohong adalah akhlak buruk yang paling dibenci oleh Rasulullah. Dari kedua riwayat di atas sangat jelas bahwa dengan tegas Rasulullah melarang kita sebagai orang tua untuk berkata dusta, kepada anak-anak walau mengenai hal remeh sekalipun. Dikhawatirkan anak-anak akan meniru dan menganggap berbohong adalah hal yang wajar.

Meskipun dalam Islam dalam keadaan tertentu memberi kelonggaran terkait dengan berkata bohong, namun alangkah baiknya kita sebagai orang tua mengajarkan kebaikan sedini mungkin pada anak-anak kita.

 

Berkata jujur pada anak

Meski terkadang kenyataan itu pahit dan awalnya membuat tidak nyaman, namun usahakan tetap berkata jujur. Saya sendiri berusaha untuk selalu berkata jujur pada putri kecil saya. Ketika anak saya harus minum obat dengan rasa yang pahit, saya juga akan bilang kalau obat ini sedikit pahit. Suatu ketika karena keperluan medis dan akan diambil darah dengan jarum suntik, saya berusaha tidak menutupi, kalau memang prosesnya akan sedikit sakit, dan ia berhak tau.

“Nanti sakit sedikit karena jarum, tapi nggak apa sayang, nggak akan lama. Ibu temani kakak, ibu peluk kakak di sini, ya.”

 

Mungkin karena hal-hal kecil tersebut, putri kecil saya jadi sangat percaya pada saya. Tadinya saya merasa akan sangat menyenangkan ketika dipercaya sebegitunya oleh anak saya. Tapi ternyata saya malah jadi merasa harus menjaga agar tidak merusak kepercayaan yang sudah diberikan pada saya. Demikian pula yang dilakukan anak saya yang selalu dengan ringan berkata apa adanya, khas anak kecil. Dia tidak ragu menyampaikan perasaannya dengan jujur.

 

Menepati janji

Jangan mudah membuat janji pada anak. Pastikan dulu kita dapat memenuhi janji tersebut, kalaupun tidak bisa bukan karena sengaja dan tahu di awal memang tidak dapat memenuhi janji. Kalau ternyata memang ada suatu hal dan belum bisa menepati janji, jelaskan dengan jujur dan sungguh-sungguh, kemudian pastikan untuk dapat membayar janji tersebut di lain kesempatan, misalnya.

Hal ini juga kami terapkan pada putri kecil kami. Setiap janji yang terucap selalu kami usahakan untuk ditepati. Karena sudah sepakat dengan suami, maka kami saling mengingatkan satu sama lain. Pernah suatu ketika suami berjanji untuk membawakan susu UHT kesukaan putri kami sepulang dari kantor. Namun kebetulan hari itu suami lupa, sampai di rumah putri kami menanyakan janji ayahnya. Suami saya minta maaf dan menjelaskan kalau memang lupa membeli dan meminta putri kami menunggu sebentar, kemudian suami saya kembali ke minimarket dan menepati janjinya. Mungkin terdengar konyol dan sepele, namun hal ini sangat penting untuk membangun kepercayaan dan juga menjadi contoh bagi anak-anak.

 

Memberikan penjelasan dengan bahasa anak-anak yang sederhana, membuat anak-anak dapat mengerti dan memiliki rasa empati. Mereka ini sangat pintar, jadi saya berusaha tidak pernah sekalipun menganggap remeh anak-anak. Saya selalu mengingat kata-kata ini:

Children see children do. They’re imitating us.

 

Mata kecil anak-anak selalu mengamati kita yang ada di sekitarnya. Hal ini juga sebagai pengingat saya untuk terus belajar dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Marilah kita bersama-sama belajar menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita.

Leave a Reply