Dongeng untuk Anak?

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, dongeng termasuk dalam metode komunikasi persuasif yang disukai anak-anak karena memuat dunia cerita yang menakjubkan dan anak-anak bebas berimajinasi. Dongeng adalah cerita fiksi dan non fiksi yang dinarasikan umumnya kepada anak-anak untuk menyampaikan nilai-nilai moral, baik dari sisi agama, sosial, dan budaya. Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dongeng adalah: cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh). Contohnya: anak-anak gemar mendengarkan dongeng seribu satu malam, dongeng Sangkuriang, atau dongeng sikancil yang cerdik.

Dalam dunia dongeng, cerita yang disampaikan umumnya memang cerita fiksi (belum tentu nyata terjadi), baik latar cerita, maupun tokoh-tokohnya. Subyek dalam dongeng pun bisa bermacam-macam sesuai imajinasi pembuatnya. Bisa berupa manusia, hewan atau bahkan benda mati yang kemudian diberikan ekspresi karakter sehingga menjadi alur cerita yang bertujuan menanamkan hikmah, dan pesan-pesan mulia. Semua itu dikemas dengan tujuan agar lebih mudah difahami oleh anak-anak.

Mendongeng adalah kegiatan berkisah atau bercerita. Metode ini, menjadi salah satu metode favorit para guru maupun orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Karena indera terbaik yang berfungsi secara optimal dari anak-anak semasa awal-awal pertumbuhannya adalah pendengaran kemudian penglihatan. Dengan rangkaian cerita yang menarik, ditambah intonasi suara yang pas serta visualisasi yang sesuai, dalam sekejap anak-anak biasanya sangat antusias mengikuti bahkan sambil membayangkan keterlibatan mereka dalam alur cerita dongeng.

Pendekatan dongeng ini sangat efektif untuk mengasah daya imajinasi anak. Mulai dari isi cerita yang mudah dicerna dan dibayangkan oleh anak, dongeng disebut dapat menjadi sarana untuk membentuk karakter anak. Selain itu, manfaat dongeng lainnya adalah untuk menjaga pembiasaan agenda baru maupun lama bagi anak, juga bisa menjadi sarana trauma healing bagi anak.

Namun sebagai keluarga muslim, ayah bunda perlu cermat memilih konten dongeng yang akan disampaikan kepada si kecil, mengingat banyak sekali cerita yang fiksi dan nilai-nilainya tak sesuai dengan prinsip agama Islam. Kita harus memastikan bahwa cerita dongeng senantiasa berkelindan dengan ajaran agama kita. Bahkan jika tak mau repot berimajinasi mengarang cerita, kita bisa langsung mengambil banyak kisah inspiratif dan penuh hikmah dari dalam Alquran dan Hadist. Demikian juga dengan berbagai kisah para sahabat dan salafussalihin (orang-orang saleh) dalam khazanah peradaban Islam masa lalu, sangat banyak. Tergantung seberapa piawai kita sebagai orang tua mengemasnya dalam bentuk kisah yang menarik di depan anak-anak.

Ahad lalu, saya menemani si kecil untuk menhadiri acara dongeng anak yang dibawakan oleh pendongeng nasional dari Indonesia. Ceritanya adalah tentang hujan yang lama tidak turun di istana kodok. Karena lama tidak turun hujan, kekeringan melanda. Akhirnya sang raja mengadakan sayembara, bagi siapa yang bisa menurunkan hujan, akan menjadi raja menggantikan dirinya. Kodok pertama mencoba memanggil hujan dengan menari, hujan tidak berhasil turun. Kodok kedua melakukan berbagai jenis tepuk dan nyanyian dan hujan masih tidak turun. Hujan tak kunjung turun, sampai terdengarlah cerita bahwa ditempat lain, hujan lebat turun.

Sang Raja mendatangi tempat tersebut dan mencari tahu, apa yang menyebabkan hujan turun. Hingga akhirnya bertemulah sang raja dengan kodok kecil. Sang raja melihat kodok kecil terus berdoa. Sang raja yang sudah berjanji akan memberikan posisinya pun hendak memberikan kerajaan kepadanya. Namun sang kodok kecil, sambil meneteskan air mata menyampaikan bahwa dia berdoa secara tulus ihklas dan sabar semata-mata karena Allah, bukan untuk ingin mendapatkan imbalan menjadi raja.

Dari dongeng ini, kakak pendongeng ingin menyampaikan agar anak-anak rajin berdoa kepada Allah, karena Allah lah yang Maha Mengabulkan doa. Tentu doa yang baik, khusyuk dan ikhlas. Kakak pendongeng membawakan hikmah kisah tersebut dengan penuh penghayatan tanpa mengurangi rasa antusias anak-anak. Anak-anak dibuat terpana sehingga ingin sekali meniru sang kodok berdoa dengan tulus dan ikhlas. Bahkan sempat diajak untuk praktik berdoa di depan teman-temannya untuk diaminkan.

Tak disangka, salah seorang anak ketika berdoa, kemudian memanjatkan keinginannya untuk bisa menghafal al-quran dengan meneteskan air mata. Anak tersebut ingin menghadiahkan mahkota terbaik kepada kedua orang tuanya kelak di surga. Tak terasa, semua hadirin ikut meneteskan air mata kekaguman sekaligus kebahagiaan, betapa anak-anak jika tersentuh hatinya, akan mendoakan secara tulus bahkan mampu menangis karena kekhusyukannya.

Mungkin sebagian dari kita tak sepakat mengapa memilih tokoh karakter kodok. Kita tentu bisa mengubahkan dengan tokoh lain yang kita anggap lebih sesuai. Namun dalam kesempatan acara dongeng tersebut, ternyata anak-anak sangat berkesan tentang pentingnya doa yang ikhlas dan berharap hanya ridho Allah. Tokoh kodok hanya entry point agar semua anak menyimak dengan lebih muda, senang dan seksama. Misi utama adalah bagaimana mereka mendapatkan esensi pesannya. Bahkan kemudian akhirnya mereka berjanji akan lebih rajin lagi untuk memanjatkan doa. Dongeng sangat mungkin menjadi sarana bagi kita untuk mengajarkan akhlak dan nilai-nilai Islam kepada anak-anak kita dengan menyenangkan. Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *