Loading...
Parenting

Cara Sederhana Menghargai Anak

 

Menghargai anak dengan cara yang sederhana dapat berdampak baik bagi perkembangan diri si kecil. Anak-anak dalam tubuh kecilnya, sering kali juga dikecilkan dan dianggap remeh. Padahal, dalam dirinya, sedang mulai tumbuh bibit kemandirian dan kepercayaan dirinya. Salah-salah perlakuan meremehkan yang sering dilakukan dapat membekas dan terbawa hingga ia dewasa.

Menghargai dan menghormati anak-anak dalam pandangan Islam, terdapat dalam riwayat hadits,

Rasulullah saw bersabda, “Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua yang dituakan diantara kami.” (HR. Tirmidzi).

Lima cara sederhana untuk menghargai dan menghormati si kecil ini bisa kita terapkan dalam keseharian kita bersama si kecil.

  1. Berbicara sejajar dengan kedua matanya.

Postur badan si kecil tentu berbeda dengan kita, orang dewasa. Tinggi badannya juga setengah dari tinggi badan kita. Begitu juga dengan level pandangan si kecil. Ketika Saat kita menundukkan pandangan dan berbicara dengan cara menyesuaikan tinggi dan sejajar dengan kedua matanya, si kecil akan merasa dihargai, karena ia tidak perlu mendongakkan kepala saat berbicara dengan kita. Kita bisa menunduk, atau berjongkok untuk dapat sejajar dengan mata si kecil. Dengan melakukan cara ini, si kecil juga lebih fokus dan mendengarkan perkataan kita.

  1. Menggunakan intonasi yang normal.

Hal ini cukup sulit, terutama bagi orang tua yang ekspresif. Ketika melihat si kecil jatuh, terpeleset, pada umumnya kita secara spontan akan berteriak karena terkejut dan khawatir. Sayangnya, hal tersebut tidak selalu berdampak baik bagi si kecil, bisa jadi si kecil jadi kaget dan menjadi panik melihat reaksi kita. Bahkan, meskipun kita mendapati ia melakukan kesalahan, tidak perlu berteriak untuk menegurnya. Karena teriakan tidak akan menyelesaikan masalah, bisa jadi berteriak malah membuat si kecil terluka dan membekas hingga terbawa sampai ia dewasa.

Meski sulit, saya juga menerapkan cara ini. Berusaha selalu tampak tenang di depan si kecil, dengan harapan ia juga dapat ikut tenang ketika menghadapi masalah.

  1. Menepuk pundak atau menyentuhnya saat memanggil.

Sebisa mungkin hindari berteriak berulang-ulang saat memanggil namanya. Kita coba posisikan diri sebagai si kecil, ketika kita sedang asyik dan fokus dengan suatu hal, kemudian dipanggil dengan cara berteriak dan berulang-ulang, tentu tidak nyaman. Sama seperti kita, si kecil juga akan merasa tidak nyaman diperlakukan demikian. Apalagi, di usianya yang memang penuh rasa penasaran dan ingin bereksplorasi dengan banyak hal. Seringkali perhatiannya terpusat pada kesenangannya, dan sehingga suara kita tidak terdengar olehnya. Dengan menepuk pundak atau menyentuhnya dengan lembut, maka ia dapat menyadari kalau kita sedang memanggilnya tanpa ia merasa tidak nyaman dengan teriakan kita.

  1. Tidak memaksa untuk bersalaman dengan orang.

Hal ini juga cukup sering kita temui, ketika si kecil ‘dipaksa’ untuk bersalaman atau mencium orang tuanya, bahkan sanak saudara yang lain. Kebanyakan anak-anak belum memahami bahwa bersalaman adalah cara untuk menghormati orang dewasa, mencium orang tua adalah salah satu bentuk mengungkapkan rasa sayang. Sebaiknya, hindari memaksa si kecil, dan berikan pemahaman pada sanak saudara bahwa si kecil sedang tidak mau bersalaman.

Hal ini saya yakini juga dapat membangun rasa kepercayaan diri si kecil, dan membuat merasa dihargai karena ia memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri (untuk bersalaman atau tidak). Kita sebagai orang tua juga dapat menerima dan menghargai pilihannya. Meski demikian, hal ini dapat perlahan-lahan disampaikan sebagai pengertian pada si kecil bahwa bersalaman adalah salah satu bentuk dan cara kita untuk menghormati orang lain.

  1. Menghargai sekecil apapun usaha si kecil.

Memuji usaha dan proses yang dilakukannya, karena hal yang kita anggak sepele, bisa jadi adalah hal yang sulit dan ia berusaha sungguh-sungguh untuk dapat melakukannya dengan baik. Kita bisa mengatakan kalimat-kalimat yang spesifik, alih-alih hanya mengatakan “Wah hebat!” lebih baik lagi kita ucapkan kalimat semacam ini, “Masya Allah, Ibuk tadi lihat kakak bisa ambil minum dan mengembalikan gelas ke meja sendiri, loh.” Sehingga, si kecil menjadi terpacu untuk melakukan hal lain dan merasa bahwa usaha kerasnya dihargai oleh orang tuanya.

 

 

Nah, sudahkah kita melakukan cara-cara tersebut untuk menghargai anak-anak kita?

 

(ky)

Leave a Reply