Loading...
Parenting

Bersama Bunda, Menjadi Pembelajar Sejati

ilustrasi foto ig @ninafitria_ dokumentasi ThRU Awards 2017

Bunda saya dulunya seorang bidan desa. Ia rela dijemput kesana kemari membantu persalinan. Tidak peduli siang atau malam, dipanggil keluarga kaya atau miskin, beragama muslim atau non muslim, melalui jalanan aspal atau bebatuan, raut ikhlas di wajah Bunda tersirat setiap menyambut panggilan ‘emergency’ tersebut, demi membantu kehadiran wajah-wajah baru nan mungil yang sangat dinanti oleh keluarganya.

Beberapa tahun kemudian, selain karena bidan telah banyak ditempatkan di desa-desa,  juga kondisi keamanan di Aceh yang sedang tidak kondusif selama dilanda konflik berdarah, Bunda kemudian memutuskan menerima pasien di rumah saja. Salah satu kamar di rumah kontrakan kami dijadikan ruang bersalin. Maka sejak kecil, saya sering mendengar tangisan pertama bayi dari luar ruangan bersalin.

Kata Bunda, anak-anak yang baru lahir seperti malaikat, jiwanya suci tanpa dosa. Ia adalah sebaik-sebaik tamu yang harus dijamu. Bunda selalu mempertemukan saya dengan setiap bayi yang lahir. Sekarang saya baru tahu, di momen itu Bunda sedang memberikan saya pelajaran tentang mencintai sepenuh hati, tentang menghormati orang lain meski dia bukan keluarga inti, tentang menjadi kakak yang baik untuk adik-adik saya nanti.

Masih lekat di ingatan, ketika saya kecil, Bunda tidak pernah memaksa saya untuk belajar, tidak mengomeli saya untuk membaca, tidak memangkas jam bermain saya. Akan tetapi keteladanan yang Bunda berikan membuat saya justru keranjingan belajar, membuat saya malu jika banyak bermain lalu tidak mengerjakan PR, membuat saya justru hingga membaca koran pembungkus cabai yang dibawa pulang dari pasar, membuat saya selalu bertekad untuk bisa meraih juara setiap mengikuti lomba. Tanpa diminta. Ya, sama sekali tanpa diminta dengan kata-kata. Bahkan, saya belajar membaca karena rasa ingin tahu saya yang begitu menggebu terhadap isi buku-buku yang ada dirumah. Saya melahap buku-buku bacaan anak sejak TK, lalu penasaran membaca buku kesehatan tentang nutrisi, tentang kehidupan janin dalam kandungan milik Bunda.

Meski Bunda adalah wanita karir, kesibukannya bekerja tak pernah membuat ia lupa akan kewajibannya sebagai seorang ibu. Bunda sendiri yang mengajarkan saya shalat, mengaji, puasa, dan amalan wajib lainnya. Bunda tetap memperhatikan makanan, gizi, dan kebersihan.

Selain itu, satu dari banyak hal yang saya kagumi dari Bunda adalah jiwa pembelajar sejati yang ada dalam dirinya. Walaupun sudah punya banyak pasien dan pengalaman kerja di beberapa rumah sakit, Bunda masih terus ingin menambah pengetahuan. Bunda saya hanya tamatan SPK (setara dengan sekolah menengah atas) Bunda sering cerita bagaimana pahitnya ketika ia sekolah dulu, ketika ayahnya Bunda (kakek) rela menjual tanah sawah sepetak demi sepetak hingga habis tak bersisa untuk membayar uang sekolah Bunda.

“Perjuangan Kek Aji gak boleh berhenti,” Begitu kata Bunda suatu hari ketika kami sedang menyeruput teh hangat di beranda. Bunda yang kini punya penghasilan sendiri tidak ingin hanya menimbun pundi-pundi itu, “biarlah kita hidup sederhana, tapi kaya ilmu,” lanjut Bunda dengan mata berkaca. Dengan tekad yang kuat, Bunda pun melanjutkan kuliah D3 kebidanan ketika saya dan adik-adik saya juga sudah mulai bersekolah.

Seiring berjalannya waktu, saya tahu keinginan bunda untuk kembali melanjutkan studi masih menggebu, tapi anak-anaknya semua sedang kuliah dan tentu saja butuh biaya besar. Hingga ketika saya telah selesai S1, adik saya juga kemudian selesai S1,  di usianya yang sudah lebih dari setengan abad sekarang, Bunda kembali berniat untuk melanjutkan kuliah lagi. Keinginan Bunda itu membakar semangat saya agar juga mampu melanjutkan S2. Maka saya berjuang mencari beasiswa. Dan Bunda pun mendukung sepenuh jiwa.

Motivasi terbesar yang saya dapatkan dari Bunda bukan hanya melalui kata-kata, tapi juga gerakan nyata. Walau saya sudah berkeluarga, sudah punya anak, Bunda sendiri yang mengantarkan saya ke luar kota untuk tes tahap akhir beasiswa. Bunda menunggui saya selama proses interview hingga sore. Ketika saya bertanya apa saja yang Bunda lakukan selama menunggu saya? Bunda hanya menjawab satu hal, berdo’a untuk kemudahan urusan saya.

Seketika air mata saya luruh menderas. Saya menyadari betapa prestasi yang telah saya raih selama ini, dari kecil hingga sekarang ternyata tak lain bersebab dikabulkannya do’a Bunda. Do’a tulus yang terangkai dari hati seorang ibu telah menghapus segala sekat hambatan yang ada.

Hingga akhirnya, 1 tahun kemudian, di bulan yang sama, saya dan bunda resmi merangkul gelar mahasiswa kembali. Saya lulus seleksi beasiswa LPDP dan melajutkan S2 ke Jakarta, sedangkan Bunda dengan menyisihkan gajinya sendiri melanjutkan D4 kebidanan di Medan.

Maka sekarang, setiap kali saya merasa sulit melalui perjalanan kuliah, saya selalu meminta doa dari Bunda. Setiap kali saya ingin menyerah, saya akan ingat kegigihan Bunda dalam menuntut ilmu tanpa kenal usia. Setiap kali saya merasa hampa karena merantau jauh dari keluarga, saya akan ingat Bunda yang membuktikan bahwa keluarga bukanlah penghalang untuk belajar.

Apa yang dikatakan Imam Syafi’i Rahimahullah dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i sungguh mengandung makna yang cukup dalam, “Jika Kamu tidak dapat menahan lelahnya belajar, Maka kamu harus sanggup menahan perihnya Kebodohan.”

Pada akhirnya saya hanya mampu bersyukur, telah dilahirkan dari rahim seorang ibu yang luar biasa memperjuangkan long life education seperti yang diajarkan Rasulullah, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.”

 

Jakarta Timur, 5 Januari 2018.
Oleh: Syarifah S. Malem
Masih dalam status pembelajar sejati.

Leave a Reply