Loading...
Parenting

Batas Trauma Antara Orangtua dan Anak

Dalam buku karangan Mohammad Fauzil Adhim berjudul “Segenggam Iman untuk Anakku” (Pro-U Media, 2013), ada satu bab yang amat saya sukai, yaitu “Mengatasi Trauma Orangtua.” Bab ini menjadi menarik karena menceritakan kita sebagai orang tua wajib untuk tidak menjadi trauma dengan apa yang telah terjadi pada anak. Misalnya, anak yang terjatuh dan terluka tentu akan membuat kita sebagai orang tua amat sedih. Namun, apakah ini menjadi alasan bagi kita untuk terus-menerus menyalahkan diri atas musibah yang menimpa anak kita? Apalagi musibah itu mungkin menyebabkan anak kita terluka parah atau bahkan tak lagi bernyawa.

Mungkin hal ini terdengar sepele. Namun, kalau kita banyak mendengar kabar mengenai orang tua-orang tua yang terus menyalahkan diri atas ketidakberuntungan yang dialami anaknya, hal ini menjadi sebuah hal yang serius. Seorang kenalan saya yang baru saja kehilangan cucunya yang masih berusia 5 tahun akibat demam berdarah, terus-menerus meratap dan menangisi kepergian cucunya ini. Ia menyalahkan diri karena tidak mampu mengawasi dengan baik kesehatan cucu yang diamanahkan kepadanya karena kedua orang tua si anak harus bekerja. Ini membuat ia tak mau keluar rumah atau bertemu dengan orang. Kesedihan telah menggenggam hatinya dan membuatnya berkubang dalam kedukaan yang mendalam.

Ini adalah hal yang nyata terjadi. Memang tak semua orang bisa dengan mudah menerima peristiwa buruk yang terjadi dalam kehidupannya, apalagi jika itu menyangkut permaslaahan anak. Namun, menyalahkan diri dan terus meratap adalah hal yang dibenci oleh Allah swt. Jadi, sudah seharusnya kita menyadari ada trauma yang kita alami saat memang keburukan terjadi pada anak kita. Trauma yang berujung pada keburukan lainnya.

Tentu semenjak anak-anak kita lahir ke dunia, kita sebagai orang tua ingin sekali menjaganya dengan penuh kesungguhan. Lebih lagi kalau proses untuk mendapatkan anak itu terasa sulit dan membutuhkan waktu lama. Layaknya harta yang tak ternilai, anak itu akan kita jaga dengan sebaik-baiknya. Kita tak ingin ia terluka, sakit, menderita, hidup dalam kesusahan, dsb. Apapun dilakukan agar kita bisa melihat anak kita tumbuh dewasa tanpa kekurangan satu apapun. Namun, bijakkah kita ketika kita mengambil sikap selayaknya anak itu adalah permata yang tak boleh tersentuh oleh kotoran sama sekali?

Jelas itu adalah hal yang tak mungkin terjadi. Sepanjang hidup, kita akan selalu diberikan banyak ujian atau cobaan dari Allah untuk menguji seberapa besarnya tingkat keimanan kita, baik itu dalam bentuk harta, tahta, waktu luang, dan anak. Kita pun tak pernah tahu, kapan dan di mana Allah akan memberikan cobaan itu. Sesuatu yang kita ketahui hanyalah, apapun itu bentuknya, kita harus selalu siap sedia menerima semua rintangan kehidupan itu.

Sayangnya, ketika rasa sayang itu terlalu berlebihan kepada anak, kadangkala kita tidak bisa memberikan batasan antara diri kita dan anak. Misalnya saja, anak yang jatuh karena terluka, kita yang merasa trauma dan terus dibayang-bayangi oleh peristiwa luka anak. Kemudian, malah melarang anak kita melakukan hal-hal yang bisa membuatnya terluka lagi. Tidak boleh melakukan ini dan itu, hanya agar kita sebagai orang tua tidak lagi merasa khawatir hal buruk dapat menimpa anak-anak kita. Lalu sebenarnya larangan kita itu tujuannya untuk apa? Melindungi anak atau melindungi diri kita sendiri.

Sekarang coba kita renungi kembali. Setiap larangan yang telah kita berlakukan kepada anak, apakah sungguh untuk melindungi anak dari sesuatu yang akan mencelakakannya atau hanya untuk melindungi diri kita dari kekhawatiran yang terjadi akibat luka yang mungkin terjadi pada anak kita.

Sebagai contoh, kita melarang anak kita naik sepeda karena ia pernah sampai masuk gorong-gorong dan terluka hebat di kepalanya. Kita yang merasa sedih terhadap kondisi anak kita yang harus menanggung sakit akan hal tersebut, akhirnya melarang anak kita untuk bermain sepeda lagi. Alasannya agar ia tak lagi terluka.

Contoh lainnya, kita melarang anak untuk bermain naik-turun tangga di rumah kita yang berlantai dua. Alasannya tetap sama, nanti jatuh dan terluka. Padahal si anak belum pernah mencoba sekalipun. Atau saat anak naik kursi untuk melihat barang-barang di atas meja makan. Kita selalu memaksanya turun dan berkata, “Nanti isi mejanya berantakan.” Begitu seterusnya untuk hal-hal serupa.

Mari kita renungkan ketiga contoh di atas. Benarkah memang larangan itu sepenuhnya untuk anak. Secara tampak luar memang iya. Kita mencoba melindungi anak kita agar mereka tak jatuh dan terluka. Kita mencoba menjaga agar ia tidak merasa derita akibat harus merasakan sakit kalau nanti terjadi hal yang tak diinginkan. Namun, jika itu dilakukan bahkan di saat anak belum pernah mencobanya, apakah memang akan melindunginya?

Ketidakmampuan kita untuk membedakan antara trauma sebagai orang tua dan trauma anak sesungguhnya akan membuahkan hal-hal buruk bagi anak. Seperti contoh di atas maka sang anak akhirnya tidak memiliki kesempatan untuk mengekplorasi kembali kemampuan dan lingkungannya. Hal ini pun dapat terus berlanjut hingga sang anak dewasa. Kita tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk mencoba sesuatu sendiri karena kita tidak mau mereka terluka dan celaka. Alhasil, bukannya melindungi sang anak, kita malah membuat anak seperti dibesarkan dalam sangkar burung emas. Tak boleh ada hal buruk yang menimpanya.

Jika hal ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin anak akan menjadi minim pengalaman. Ia akan menjadi sulit untuk mengambil tantangan-tantangan di sekitarnya sebab ia terbiasa untuk hidup dalam penjagaan. Kekhawatiran dan kecemasan yang kita miliki sebagai orang tua, malah menurun kepada mereka. Besar kemungkinan mereka akan menjadi pencemas atau mudah khawatir karena memang tak memiliki ingatan akan rasa “sakit” dan “bangkit” dari keterpurukan.

Dengan demikian, sebagai orang tua sudah sebaiknya kita mulai menemukenali dan memisahkan diri kita ini dengan anak. Bukan dengan menghilangkan ikatan antara orang tua-anak dan bersikap masa bodoh. Namun kita mencoba untuk tidak menularkan kekhawatiran kita itu kepada anak-anak kita. Sebab tanpa kita sadari, anak belajar dari bagaimana kita memperlakukannya. Saat kita memperlakukan mereka seperti gelas kaca yang mudah rapuh, maka ia nantinya akan demikian juga.

Kemudian, bagaimana kita bisa mengatasi trauma yang kita miliki ini agar tidak menghalangi anak untuk terus mengembangkan diri?

Pertama, kita hendaknya menyadari dan mengenali sumber-sumber peristiwa yang membuat kita merasa cemas atau khawatir. Setelah menyadarinya, kita lebih dapat mengenali sebenarnya yang kita khawatirkan itu anak atau diri kita sendiri.

Kedua, menerima bahwa apa yang pernah terjadi pada anak kita adalah sesuatu yang tidak dapat diubah. Kita butuh untuk selalu ingat bahwa Allah yang memberikan setiap ujian/cobaan yang kita alami. Kita harus tahu ketetapan yang telah Allah tentukan, tidaklah dapat diubah. Meyakini kalau setiap peristiwa itu memang memiliki suatu tujuan akan membantu kita untuk mengatasi trauma yang kita miliki.

Ketiga, mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang ada. Pelajaran yang didapat bukanlah dalam bentuk melarang, tetapi lebih pada mencari cara agar anak tetap dapat mengembangkan diri, tanpa merasa dihalang-halangi. Misalnya, kita takut anak kita jatuh dari tangga, kita bisa mengatasinya dengan membuat pegangan tangga yang lebih kokoh, memberikan bantalan anak tangga sehingga saat anak jatuh tidak langsung terbentur, atau memberikan syarat kepada anak hanya boleh naik tangga jika ditemani oleh orang tua.

Secara bertahap, kita juga dapat mulai melepaskan anak untuk mulai secara mandiri melakukan sesuatu. Kita harus tahu, anak-anak kita memiliki waktu dan fasenya masing-masing. Menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk peka terhadap perkembangan mereka ini. Jadi, mengetahui di usia berapa mereka mulai bisa mandiri, adalah hal penting untuk membantu kita mengambil manfaat dari setiap pengalaman itu.

Keempat, jangan menuntut diri untuk menjadi orang tua sempurna agar anak tak pernah merasa terluka sedikitpun. Jangan-jangan keinginan kita untuk menjadi sempurna itu datang dari trauma yang sebenarnya kita miliki, sehingga kita berharap agar anak pun terbebas dari trauma yang sama. Tak masalah memiliki kelemahan, tak masalah pula kita bersedih atas anak kita. Namun, sekali lagi ambil pelajaran dari itu semua adalah cara terbaik mengobati trauma itu.

Sekali lagi, mengasuh anak bukanlah perkara mudah, namun bukan berarti kita tak bisa melakukannya. Mengasuh anak pun bukan sekedar kita mengajarkan anak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Akan tetapi, kita pun sebagai orang tua harus mampu belajar untuk menjadi lebih baik.

Kita telah dititipkan Allah sebuah amanah yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya, berarti Allah menginginkan kita menjadi seseorang yang lebih dan lebih baik dari kita sekarang. Artinya, anak hadir dalam kehidupan kita bukan karena kita telah sempurna. Bisa jadi kitalah yang membutuhkan anak-anak itu untuk dapat terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah agar sesuai dengan yang Allah inginkan.

Jangan pernah ragu mengakui kalau kita penuh kekurangan namun bukan berarti pula kita terpuruk di dalam kekurangan itu. Hendaknya kita terus memperbaiki setiap kekurangan yang ada agar kita bisa menjadi orang tua yang tak lagi mengalami trauma saat anak kita dirundung musibah di dunia. Sebab jika kita terus terperosok ke dalam trauma itu dan tak mengobatinya, bukan tidak mungkin di hari tua kita akan dipenuhi penyesalan dan gundah-gulana karena tak bisa menjadi orang tua yang menurut kita sempurna dalam mendidik anak.

Sekali lagi, kita boleh merasa khawatir tetapi tetaplah yakin kalau Allah yang akan menjaga keimanan dan keselamatan anak kita. Karena memang hanya Ia-lah yang telah menentukan nasib dan takdir atas anak-anak kita. Kita hanyalah orang tua yang terbatas kemampuannya, bukan Tuhan yang mampu menjadi segalanya dan serba sempurna untuk anak. Sebab orang tua juga manusia.

 

Wallahu’alam bishawab.

 

Jakarta, 7 Maret 2019.

Leave a Reply