Loading...
Parenting

Bahagia dengan Empat Balita Sholih-Sholihah

Beberapa waktu lalu, viral di medsos tips dari para mahmud tentang bagaimana tetap bahagia dengan balita. Mengikuti berbagai postingan itu, saya jadi terkenang suatu masa dalam hidup saya, dimana saat itu saya sedang rempong-rempongnya mengurus 4 balita yang semuanya adalah anak saya dan suami. Perlu saya tekankan 4 kata terakhir, karena kalau mereka bukan anak saya maka bukan tugas dan kewajiban saya untuk mengurusnya. Tapi, berhubung keempatnya adalah anak saya, maka sudah sepatutnya, tanggung jawab mendidik dan mengasuh jatuh ke tangan saya. Dan saya selaku ibunya adalah madrasah pertama bagi mereka.

Apakah saya repot? Jelas…

Apakah saya lelah? Pasti…

Apakah saya bahagia? Alhamdulillah…

Hingga saat ini, dalam berbagai perjalanan yang melibatkan perbincangan tentang anak, tak jarang saya mendapati komentar-komentar miring, bahkan menusuk tentang keberadaan keempat anak saya. Terutama dari ibu-ibu jaman now atau dari para mahmud galau. Mulai dari tudingan kebobolan, kejar tayang, hingga tidak mengikuti anjuran pemerintah, hehe. Karena jumlah anak saya yang empat orang itu dianggap menyalahi program pemerintah. Tetapi, kalau dari ibu-ibu jaman old atau simbah-simbah, kami malah dapat limpahan doa barokah. Alhamdulillah ála kulli haal.

Usia keempat anak saya memang tidak terlalu terpaut jauh. Basusun paku, kata orang Padang. Anak kedua lahir saat anak pertama berusia 13 bulan. Anak ketiga lahir saat anak kedua berusia 16 bulan. Sedangkan anak keempat lahir saat anak ketiga berusia 27 bulan. Jadi saat anak keempat lahir kakak pertamanya usia 56 bulan. Jadi, fase ini (berbalita 4) saya alami selama lebih kurang lima bulan.

Bagaimana mengelola dan menjalankan peran sebagai ibunya? Sama seperti ibu-ibu lain. Bangun di awal pagi menjelang subuh. Kemudian mensucikan diri untuk persiapan sholat subuh. Termasuk mensucikan si kecil dan anak yang lebih besar. Alhamdulillah, sejak kecil, mereka akrab dengan masjid dan mulai biasa ikut subuh ke masjid. Selanjutnya menyiapkan sarapan , memandikan anak-anak, menyalin bajunya, menghidangkan sarapan dan makan bersama, menyiapkan bekal suami dan anak kesatu yang sudah di TK A dan menghantarkannya hingga ke pintu pagar. Setelah itu, mulai beres-beres, merendam cucian, belanja ke warung, menyapu rumah hingga halaman, mencuci pakaian kotor terutama pakaian si bayi yang pastinya kena najis hingga menjemurnya. Selanjutnya menemani anak-anak bermain, belajar, kadang sambil baca-baca atau menyiapkan materi untuk mengajar. Hobi lain yaitu membuat cemilan untuk anak-anak dan terakhir menyiapkan makan siang. Menjelang asar, bersiap masuk kerja sebagai pengajar di sebuah kampus di Batam, hingga pukul 21.00.

Capek? Mestilaaah. Apalagi semua dikerjakan sendiri tanpa bantuan ART. Tapi jangan khawatir, karena ada dua jagoan yang akan selalu sedia memijit dan menginjak-injak punggung emak yang keletihan. Sambil belajar berhitung satu hingga sepuluh, satu hingga seratus. Sambil menyenandungkan surat-surat pendek dari juz tiga puluh. Belajar dapat, bermain dapat. Alhamdulillah.

Kapan istirahatnya? Kapan tidurnya? Kalau yang ini saya agak bingung menjawabnya. Waktu istirahat buat saya pada waktu itu adalah ketika sholat dan menyusui. Karena pada saat itulah, anak-anak yang lebih besar menjadi lebih mudah dikondisikan. Tentu saja sebelumnya saya sudah sounding-sounding bahwa kalau Ummi sedang sholat atau menyusui, diharapkan anak-anak tenang dan tidak mengganggu. Kalau waktu tidur sih, sebutuhnya. Bahkan menurut saya, seorang ibu berbayi sesungguhnya ‘tidak pernah tidur’. Selelap apapun tidur ibu, ia akan terjaga ketika bayi merengek, hehe. Maka, tak jarang saya tertidur saat sedang bermain bersama mereka, atau sedang menyusui si bayi. Bukan ibu yang baik? Mungkin. Tapi, anak-anak saya tak pernah protes. Mereka bahkan sering menyarankan saya untuk istirahat alias tidur jika saya terlihat sangat mengantuk atau merasa kurang sehat.

“Ummi bobok saja, kami bisa main sendiri.” Begitu ujar mereka. Anak-anak itu bisa berempati juga. Dan saya dengan senang hati akan menerima tawaran itu. Tentu saja setelah mengunci pintu pagar dan pintu depan agar mereka tidak bisa kabur keluar.

Saya dan suami menargetkan anak-anak untuk bisa menghafalkan Al Quran. Tentu saja, ini harus dimulai dari diri kami sendiri. Saya pribadi, paling tidak suka yang namanya menghafal. Juz 30 saya rampungkan ketika saya menjadi pengajar TPA di sebuah masjid di perumahan di Batam. Namun target saya, sebelum menikah harus sudah hafal juz 30. Biidznillah, azzam itu tertunaikan. Alhamdulillah.

Banyak program, yang kami rancang di masa awal kami menikah untuk meningkatkan kapasitas ruhiyyah. Namun, tidak semuanya berjalan lancar karena berbagai hal. Terutamanya karena kami kurang istiqomah, Nastaghfirullah.. Namun, untuk program menyiapkan anak-anak sebagai penghafal al Quran, kami sudah mencanangkan dari diri kami sendiri. Setidaknya, untuk saya, saya sudah menguasai juz 30 itu, hehe..

Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam menyiapkan anak-anak menjadi penghafal al Quran adalah:

  1. Berdoa

Doa adalah hal yang utama. Tanpa doa, sangat tidak mungkin keinginan untuk mendapatkan anak yang shalih akan terwujud. Menyitir Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dalam bukunya Amalan yang Langgeng dikatakan bahwa kesholihan didapati dengan taufik dan petunjuk dari Allah. Karena hidayah terletak di tangan Allah, maka tentulah kita harus banyak memohon kepada-Nya. Beberapa doa yang bisa diamalkan diantaranya: Doa Nabi Ibrahim as (QS. Ash Shaffat: 100), doa Nabi Zakariya as (QS. Ali Imron: 38) dan doa hamba Allah yang beriman (QS. Al Furqan: 74). Dan doa orang tua kepada anaknya adalah salah satu doa yang mustajab. Maka, hendaklah kita selaku orang tua selalu mendoakan yang baik-baik untuk anak-anak kita.

  1. Memilih pasangan yang baik.

Mencetak anak yang sholih/ah, sesungguhnya bukan dimulai dari  semenjak anak dilahirkan, namun jauh sebelum itu. Yaitu dengan memilih pasangan hidup yang baik. Para lelaki sangat dianjurkan untuk memilih istri yang sholihah, karena di tangan istrilah pembinaan anak-anak pada masa awal kehidupannya akan berlangsung. Sebaliknya, kita selaku para wanita, juga harus memantaskan diri untuk menjadi seorang pasangan yang baik alias sholihah.

  1. Mengonsumsi makanan hanya yang halal dan baik.

Kriteria ini penting, namun kadang kita mengabaikannya. Bisa jadi karena ketidaktahuan atau karena hanya ingin praktisnya saja. Makanan yang halal dan thoyyib akan mempengaruhi pertumbuhan fisik dan jiwa anak. Bagi saya pribadi, halal adalah hal yang wajib. Kalau aspek thoyyib, kadang bisa ditoleransi, sepanjang tidak membahayakan. Misalnya, dulu saya dan suami menghindari makan bakso karena banyak mengandung MSG, dan melarang anak-anak batita itu jajan bakso. Ketika saya hamil anak ketiga dan kepengen bakso, si nomer dua itu nyeplos, “Bakso gak sehat!” Maka saya akhirnya hanya gigit jari dan membuang jauh-jauh keinginan makan bakso, hehe.

  1. Mengenalkan anak-anak dengan agama dan Al Quran sejak dini.

Sejak dinyatakan hamil, saya dan suami merutinkan memperdengarkan bacaan al Quran kepada janin di perut. Baik melalui bacaan sendiri, maupun melalui bacaan murottal. Kami percaya, ini akan memberikan efek yang sangat luar biasa dan mempermudah anak-anak untuk menghafal, kelak. Dan itu terbukti. Anak pertama hingga ketiga lebih mudah menghafal Al Quran dan familiar dengan bahasa Arab.

Selanjutnya, ketika mereka sudah di dunia fana, kegiatan ini diteruskan. Aktivitas menjelang tidur kami adalah membaca doa pengantar tidur berupa ayat kursi, dua ayat terakhir surat Al Baqarah, 3 Qul (Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas) serta doa mau tidur dan doa perlindungan dari syaiton. Jika masih belum tidur, dilanjut dengan melafalkan surat Al Fatihah dan surat-surat pendek lainnya sesuai permintaan anak-anak. Al Fatihah ini kami tekankan karena keutamaannya, dan karena kami ingin memperoleh aliran pahala dari setiap lantunan al Fatihah yang keluar dari lisan anak-anak kami kelak. Maka, menjadi semacam tugas wajib bagi saya dan suami untuk mengajari anak-anak membaca al Fatihah dengan sesempurna mungkin.

  1. Menyiapkan anak agar bisa membaca al Quran sebelum usia sekolah.

Bagi kami, ini penting. Mengenalkan huruf hijaiyyah dan iqro terlebih dahulu sebelum mereka bisa membaca huruf latin. Alhamdulillah, 3 anak pertama sudah memenuhi target. Jika pun belum bisa membaca, maka penekanannya adalah dengan menghafal. Keajaiban yang sering kali saya dapati adalah anak-anak jauh melampaui target saya. Misalnya, di usia 2 tahunnya, anak kedua mampu menghafal surat Adh Dhuha hanya dalam waktu sehari. Di usia 3 tahunnya, anak-anak itu sudah mampu menghafal lebih dari separuh juz 30. Anak kedua bahkan mampu menghafal 50 ayat surat Al Baqarah dari menyimak lantunan murottal yang diputar di masjid setiap menjelang maghrib, dan banyak surat-surat lain yang kadang saya sendiripun belum mengajarkannya. Semisal, dia sholat dhuhur dengan bacaan surat Al Insaan atau ayat-ayat pertama Al Kahfi. Alhamdulillah, Allah memberikan kemampuan anak-anak dalam menghafal hanya dari mendengarkan murottal.

  1. Program mengaji bersama

Program ini bentuknya bermacam-macam. Bisa dengan muroja’ah bersama, lomba sambung ayat, panggung baca Quran atau bentuk yang lainnya sesuai kreatifitas untuk meningkatkan bacaan dan hafalan. Saat ini, program yang dirancang suami selain program wajib murojaah adalah merutinkan membaca dzikir pagi dan sore, Al Kahfi pada hari Jumat, dan membaca surat As Sajadah dan Al Mulk setelah sholat Isya. Belum sebulan program ini launching, si nomer dua sudah hafal As Sajadah. Maasya Allah. Tentu saja, orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Maka, sudah sepantasnya orang tua terus memperbaiki diri dan kesholihannya.

Memiliki empat balita dengan karakter berbeda dan irama tubuh yang berbeda, tentu saja penuh dinamika. Tidak mudah untuk selalu bermanis muka. Perlu banyak stok sabar dan energi ekstra untuk tetap bisa melayani segala keinginan dan kebutuhan mereka. Perlu ilmu diplomasi dan ketegaran hati untuk tidak menuruti semua keinginan mereka. Alhamdulillah, semua itu menjadi pembelajaran bagi saya, yang sebelumnya tidak pernah betah untuk tugas momong anak.

Terkadang, saya kehabisan stok energi. Lalu saya akan meminta mereka supaya beramai-ramai menyalurkan energi mereka dengan mencium saya. Maka, nikmat yang mana lagi yang engkau dustakan? Tak jarang juga, saya kehabisan stok sabar sehingga terpaksa harus mendiamkan diri saya sejenak, berlama-lama dalam sujud, atau memperlama di kamar mandi mengurai letih dengan lulur dan shampoo wangi.

Senandung pengurai penat saya adalah lantunan adzan dan bacaan Al Quran dari mulut-mulut mungil mereka. Hiburan saya adalah semua tingkah pola lucu dan lugu mereka. Berebutan menjadi muadzin, rebutan menjadi imam atau rebutan peran sebagai khalifah pemimpin perang dengan kuda dan pedang di tangan. Oh ya, tiga dari 4 anak saya adalah lelaki. Maka, berkumpul dengan anak-anak menjadi suatu kebahagiaan tersendiri buat saya, seorang ibu yang kini terpaksa harus berjauhan karena suatu tugas. Segala penat, letih akan terurai melihat ceria mereka, mendengar senandung mereka, menyimak lantunan al Quran dari lisan mereka. Pada akhirnya, saya memang merasa harus lebih banyak bersyukur atas anugerah berupa anak-anak yang insya Allah sholih-sholihah, penyejuk mata dan hati. Semoga Allah berikan petunjuk dan kemampuan bagi saya dan suami untuk terus istiqomah membimbing mereka sesuai tuntunan Al Quran dan sunnah Rasulullah saw. Aamiin.

Oleh: Ismarti – Student Mom (PhD) at International Institute for Halal Research and Training, IIUM

Leave a Reply