Loading...
MarriageParenting

Bagaimanapun Ia, Tetap Anakku

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

(Surat Al-Furqan, Ayat 74)

 

Doa ini adalah doa yang selalu kita panjatkan saat memiliki buah hati atau akan memiliki buah hati. Betapa besar harapan agar sang anak menjadi penyejuk hati kita sebagai orang tua melalui keelokan fisik dan budi pekertinya. Namun, tak selamanya anak sesuai dengan harapan itu. Akan ada kalanya saat kita diuji dengan kelahiran putra atau putri yang bisa dikatakan jauh dari kesempurnaan. Baik dari fisik maupun mentalnya tak bisa seperti layaknya anak normal, yaitu ketika sang anak didiagnosis memiliki disabilitas, apapun bentuknya.

Tak sedikit orang tua yang memicingkan mata. Membalikkan badan dari anak-anak yang terlahir tak sesempurna harapan. Bahkan ada yang dengan sengaja tak menghiraukannya meskipun masih hidup bersama. Walau kita sudah hidup di era yang serba lebih terbuka, tetap saja kekurangan fisik maupun mental anak dianggap sebagai bentuk ketabuan. Ada yang beranggapan kondisi anak tersebut adalah akibat dari kesalahan orang tuanya selama mengandung. Padahal bisa jadi Allah menganugerahkan kita anak-anak istimewa seperti itu karena sebenarnya kita adalah orang yang istimewa.

Ya, saya bilang mereka adalah anak-anak istimewa. Karena sangat istimewa, mereka harus diperlakukan secara istimewa juga. Bagi kita orang tua yang mendapatkan hadiah istimewa tentunya harus berbangga, bukan bermuram durja. Seperti saat kita diberi hadiah yang berharga dari orang yang kita sayangi, tentu itu adalah bentuk kasih sayang terhadap kita yang mendapatkan hadiah tersebut. Maka ketika Allah menganugerahkan kita seorang anak istimewa, artinya kita punya kualitas istimewa untuk mengasuhnya, bukan sebaliknya. Dengan kata lain, Allah amatlah sayang kepada kita karena diperlakukan secara istimewa.

Anak-anak dengan disabilitas menjadikan keterbatasannya sebagai sebuah keistimewaan. Ibarat kata seperti ini, seorang anak yang fisik dan mentalnya terlahir normal saja sudah sulit untuk diasuh dan dididik. Apalagi anak-anak dengan keterbatasan secara fisik dan mental ini, membutuhkan pengasuhan dan pendidikan yang lebih sulit lagi.

Artinya, ketika kita membutuhkan lima kesabaran saat menghadapi anak normal maka kita membutuhkan dua kali atau bahkan tiga kali lipatnya untuk menghadapi anak dengan keterbatasan. Jika dilihat dari kacamata pahala maka bukankah kesabaran yang berpuluh-puluh kali lebih baik dibandingkan yang hanya sekali. Itulah keistimewaan dari anak disabilitas, memberikan banyak pahala kepada kedua orang tuanya.

Selain pahala atas kesabaran, anak-anak ini memberikan pahala keikhlasan kepada kedua orang tuanya. Berat, saya yakin teramat berat ketika mendapati anak kita tak sama dengan anak normal lainnya. Belum lagi harus menerima cercaan dan hinaan dari orang sekitar yang menganggap kita tak menjaganya dengan baik semenjak masih dalam kandungan. Tentunya ini membuat kita butuh keluasan hati untuk menerima semuanya.

Di sana letaknya ikhlas. Ikhlas menerima ia sebagai buah hati kita yang tak akan tergantikan oleh yang lain. Bahwa apa yang ada di diri anak kita adalah sesuatu yang telah diciptakan Allah sehingga kita tak berhak mengeluh atasnya. Sungguh pahala ikhlas yang mengalir lewat kelapangan hati menerima anak-anak disabilitas ini tanpa keluhan akan semakin menambah pahala dan keimanan kita kepada-Nya.

Terakhir, sebenarnya anak-anak inilah yang akan merekatkan secara utuh kesatuan keluarga. Kehadiran anak-anak disabilitas ini yang sebenarnya akan membuktikan, mana orang yang berhati tulus kepada kita. Lewat anak-anak istimewa ini pula, kita tahu mana yang sejati, mana yang tidak. Sejati untuk mencintai kita, sejati untuk mencintai anak kita, sejati untuk mengokohkan keutuhan keluarga kita. Karena amat sulit untuk menyadari seseorang memang tulus bersama kita jika tidak dihadapi sebuah ujian berat. Beratnya memiliki anak berkebutuhan khusus akan membuktikan hal itu.

Tentu saja membutuhkan sebuah proses panjang untuk sampai di tahap kita mampu mengubah kaca mata untuk memandang anak-anak disabilitas dengan kaca mata yang lebih positif. Namun, percayalah begitu kita mengubah cara memandang mereka maka akan berubah pula cara kita memperlakukan mereka, terutama jika mereka adalah buah hati yang lahir dari kandungan kita sendiri.

Adapun hal-hal yang dapat dilakukan agar kita mampu memandang anak-anak istimewa ini secara lebih positif adalah:

  1. Penerimaan

Menerima dengan apa adanya dia yang telah lahir. Kita harus memercayai Allah tak akan memberikan keburukan dalam kehidupan yang kita jalani. Adanya malah sebuah ujian atau cobaan yang digunakan untuk melihat seberapa besar keimanan kita kepada-Nya, salah satunya adalah dengan memiliki anak yang terbatas secara fisik dan/atau mental ini. Bukankah tak ada takdir buruk? Adanya hanya kita yang mempersepsi buruk segala sesuatu yang terlihat tak sesuai dengan keinginan kita. Yakini bahwa Allah tak memberikan kita kesulitan ini jika kita tak akan mampu melewatinya. Kita memiliki kualitas untuk mengasuh anak istimewa.

  1. Menguatkan Keluarga

Apa jadinya jika keluarga tercerai-berai karena musabab ini. Padahal untuk memudahkan dalam pengasuhan kita membutuhkan dukungan dari tiap anggota keluarga. Baik ayah, ibu, saudara kandung sang anak, maupun keluarga lain yang akan terlibat dalam pengasuhan, haruslah menyadari betul bahwa ini membutuhkan dukungan secara penuh. Tanpa keluarga yang kuat, maka ujian dari Allah satu ini hanya akan membuat kehidupan dalam keluarga sangat tidak nyaman. Saling pengertian dan memberi kasih adalah kunci untuk mengutuhkan keluarga meski memiliki anak dengan berkebutuhan khusus.

  1. Tergabung dalam Komunitas

Sulit memang jika kita berjalan sendirian maka bergabunglah dengan komunitas para orang tua yang memiliki anak serupa. Penguatan yang diberikan oleh lingkungan adalah hal penting agar kita mampu berjalan terus meski memiliki segudang kesulitan. Seperti saat kita ingin meningkatkan keimanan kita, kita harus berkumpul dengan orang-orang yang memberi pengaruh positif dan dapat memiliki keimanan yang tinggi. Agar kita mampu melewati setiap hal berat dalam pengasuhan anak berkebutuhan khusus, kita harus berkumpul dengan orang yang mengalami hal sama juga.

Tiga hal itu mungkin terlihat sederhana tetapi mampu untuk menjaga agar kita tetap bersikap positif ketika memiliki anak dengan disabilitas. Tak akan pernah mereka menghendaki untuk lahir ke dunia dalam kondisi demikian, kecualia atas izin-Nya. Jadi, ubah sudut pandang melihat mereka. Jika awalnya negatif dan menganggapnya sebagai sebuah siksaan yang merepotkan kita, jadikan itu sebagai sesuatu yang lebih positif. Sebab tanpa kehadiran mereka pun kita tak akan pernah bisa mensyukuri hal-hal baik dan normal yang diberikan Allah kepada kita. Bagaimanapun kondisinya, mereka adalah anak-anak kita.

 

Leave a Reply