Seperti Istri Ismail

Teruntuk saudariku, para muslimah yang berstatus sebagai istri. Ada sebuah kabar baik di bulan Ramadhan yang berada di tengah badai ujian ini. Mau tahu?

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka’.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban, shahih)

Sebuah hadist yang mungkin sudah dihafal atau dibaca berulang kali. Namun, berulang kali pula menyadari bahwa, mempraktikkan seluruh hadist tersebut bukanlah sebuah perkara yang mudah.

Insya Allah, dalam perihal ibadah vertikal yang disebutkan pada hadist tersebut, para muslimah telah terbiasa menjalankannya. Lalu, bagaimana dengan ibadah horizontal di hadist tersebut? Mengenai taatnya kita, para istri kepada suami. Sebuah hal yang untuk sebagian orang adalah mudah, namun tidak begitu dengan sebagian yang lain.

Saudariku, mungkin beberapa di antara kita ada yang terkena imbas dari ujian saat ini. Terutama sangat berdampak dalam hal ekonomi keluarga. Lantas, apa yang harus kita sebagai istri lakukan?

Sedikit mengulang sebuah kisah, ketika ayahanda para nabi, Ibrahim alaihi salam berkunjung ke rumah anaknya, Nabi Ismail alaihi salam secara mendadak. Istri Nabi Ismail ditanya mengenai keadaan mereka, dan jawabannya adalah sepenuhnya berisi keluhan. Bagaimana sulitnya kehidupan rumah tangga mereka. Lalu, dari jawaban itu, Nabi Ibrahim alaihi salam meninggalkan salam untuk Nabi Ismail dan titip pesan agar mengganti palang pintu.

Setelah Nabi Ismail pulang, sang istri menceritakan bahwa ada tamu. Lalu bercerita hal-hal yang dibicarakan. Ismail bertanya, apakah ada pesan dari sang tamu tersebut? sang istri menjawab bahwa ada pesan agar mengganti palang pintu. Nabi Ismail tahu bahwa tamu tersebut adalah ayahnya, Nabi Ibrahim, yang kemudian menjelaskan maksud dari “pesan” sang ayah kepada Istrinya. Pesan itu adalah amanat untuk menceraikan istrinya. Ismail pun kemudian menuruti pesan tersebut.

Tak lama, di kehidupan pernikahannya dengan istri yang baru. Terulang kembali kunjungan dadakan itu. Hanya bedanya, sang istri ketika ditanya perihal kehidupan rumah tangga mereka, jawabannya adalah penuh kesyukuran dan penerimaan. Walaupun sebenarnya, kondisi kehidupan mereka sama. Lalu, berpesanlah kembali Nabiyullah Ibrahim alaihi salam pada istri ananda tercintanya. Ketika mendengarkan pesan tersebut dari sang istri, nabi Ismail alaihi salam tahu, bahwa yang datang itu adalah ayahnya. Kali ini, pesan ayahnya adalah meminta untuk mempertahankan istrinya itu.

Sebuah kisah yang merupakan pelajaran untuk diri penulis. Di masa sesulit apapun, seorang istri adalah pakaian bagi suaminya, maka sudah seharusnya pakaian berfungsi untuk melindungi. Di tengah situasi sulit masa pendemi ini, bisa jadi perekonomian keluarga kita menurun. Kita seyogyanya tetap teguh dan bersabar dengan baik, bahwa ini bagian dari ujian. Jangan sampai ada kata-kata yang menyakiti suami, yang mungkin #dirumahaja bahkan terkena PHK. Tetaplah bersyukur dan berikhtiar untuk jalan keluar terbaik. Kuncinya adalah ketaqwaan kita kepada Allah dan ketaatan kepada suami.

Semoga di bulan suci ini, Allah mudahkan untuk kita para istri, para muslimah dalam memiliki hati yang mudah mensyukuri, merasa cukup (qana’ah) atas pemberian suami, sekecil apapun itu.

#tulisanumma

Editor: Agastya Harjunadhi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *