Loading...
Marriage

Menjaga Amarah untuk Keutuhan Rumah Tangga

Saat menjadi ibu, tugas kita bukan hanya merawat dan membesarkan anak. Menjaga keutuhan pernikahan lewat hubungan yang baik dengan suami, merupakan salah satu bagian penting yang tidak terpisahkan dalam usaha untuk mengasuh anak dengan baik. Sebab, saat orang tua mengalami friksi di dalam hubungan pernikahannya, bukan tidak mungkin anak yang akan menjadi korban. Sederhananya, ketika hubungan suami-istri memburuk, maka secara tidak langsung itu akan berpengaruh pada cara orang tua mengasuh anaknya. Dengan demikian, memungkinkan anak tumbuh secara salah nantinya.

Anak mampu merasakan apa yang sedang terjadi pada orang tuanya. Ketidakharmonisan yang muncul akibat ‘perang dingin’ antar orang tua dapat terasa oleh sang anak. Sebagai contoh, kita bisa merunut seorang anak yang terlibat dalam kasus kenakalan memiliki hubungan orang tua yang kurang harmonis. Jadi, sudah selayaknya kita sebagai orang tua mencoba menjaga hubungan suami-istri ini dengan sebaik-baiknya.

Hubungan suami-istri yang baik bukanlah hubungan tanpa konflik. Konflik dibutuhkan untuk mendinamisasi kehidupan pernikahan agar suami maupun istri berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Sayangnya, pelibatan emosi negatif dalam konflik bisa memperkeruh suasana, terutama emosi marah. Oleh karena itu, butuh cara bijak agar amarah yang muncul di dalam konflik itu tidak menjadi berlarut dan menjadi sebab suasana yang tidak nyaman di rumah.

Tidaklah bijak sebagai seorang istri membiarkan amarah kita berlarut kepada suami kita. Bukankah amarah sendiri memang tidak diperbolehkan dalam ajaran kita. Rasulullah SAW sudah menunjukkan beragam cara untuk menahan marah, yaitu:

  1. Mengubah posisi

Seperti yang disabdakan oleh Nabi: “Apabila kalian marah saat sedang berdiri maka dudukla. Maka akan hilang kemarahannya. Apabila masih tetap, maka berbaringlah.” Saat ada rasa kesal dan marah kepada suami, maka ubahlah posisi kita. Jika tadinya kita berdiri maka kita harus duduk. Jika pertengkaran terjadi saat duduk maka berbaringlah. Perubahan posisi ini akan mengubah cara berpikir kita pada situasi yang penuh konflik. Sungguh, akan terasa amarah kita tereduksi saat kita melakukan perubahan posisi itu.

  1. Berwudhu’

Emosi selalu berkaitan dengan reaksi fisiologis tubuh kita. Rasa marah menyebabkan adrenalin meningkat sehingga tubuh kita akan terasa panas. Membasuhkan air ke bagian tubuh, terutama muka, akan meredamkan rasa panas yang muncul itu. Otak akan memproses reaksi fisik yang berubah ini sehingga amarah itu akan berubah menjadi respon emosi yang lebih bersifat netral.

  1. Berdiam diri

Diam adalah cara terbaik menghadapi seseorang yang sedang marah. Menimpali perkataan suami dengan sesuatu yang bahkan kita yakini benar sekalipun, tidak akan membuat suasana menjadi damai. Malah, perseteruan akan meruncing dan memperkeruh suasana. Dengan demikian, diam menjadi salah satu senjata yang patut dilakukan agar konflik tidak menjadi berlarut.

  1. Mengucap Ta’awudz

Rasa marah disebabkan oleh adanya godaan dari setan agar kita kehilangan kendali diri kita. Dengan mengucapkan ta’awudz, artinya kita mencoba melindungi diri kita dari godaan setan itu sehingga dapat menjadi lebih tenang. Ketenangan yang diperoleh akan lebih membuka pikiran sehingga mampu menganalisis akar permasalahan dengan jelas.

 

Kita dapat mencoba mana di antara cara tersebut yang paling efektif untuk menjaga keharmonisan hubungan kita. Satu, dua, atau bahkan keempatnya. Apapun caranya, yang penting cara tersebut mampu membuat kita tetap tenang sehingga bisa menyelesaikan konflik secara lebih solutif. Bukan itu saja, bukankah sudah dijanjikan pula, ketika kita bisa menahan amarah maka ganjaran surga ada untuk kita. Kesabaran dari menahan amarah adalah buah berharga yang perlu kita amalkan agar rumah tangga tetap utuh terjaga. Hasilnya, anak-anak tetap dapat diasuh dalam lingkungan penuh kasih sayang dan kehangatan dari orang tuanya.

Leave a Reply