Loading...
Marriage

Mempertahankan Keharmonisan Pasangan

Oke, pertama-tama, kenapa orang tua harus harmonis? Saya rasa ada banyak jawaban dari pertanyaan ini, yang bisa dirangkum menjadi dua:

  1. Kebutuhan anak. Kebutuhan anak yang pertama dan utama adalah orang tua. Anak butuh memiliki orang tua yang waras, merasakan kehadiran orang tuanya. Untuk menjadi orang tua yang waras, yang hadir, yang sadar akan kebutuhan anaknya, orang tua perlu menjadi pribadi yang bahagia dan puas dengan dirinya sendiri terlebih dahulu.
  2. Kebutuhan kita. Kelak, ketika semua anak kita sudah dewasa, beranjak keluar dari rumah, dan membangun keluarganya sendiri, siapa yang akan tetap tinggal bersama kita? J

 

Nah, setelah mengetahui manfaatnya, biasanya kita akan semakin termotivasi untuk mewujudkan hal ini. Ya, kenapa kita mau melakukan suatu hal kalau tidak ada tujuannya? Untuk itu, pertama-tama, resapi dulu niat kita.

Setelah mantap dengan niat, lanjutkan dengan action plan, yang terpenting adalah pahami apa yang dibutuhkan diri sendiri dan pasangan. Bila perlu, breakdown agar lebih mudah diingat untuk dilakukan. Beberapa contoh yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Physical needs

Kuncinya ada di pemahaman kebutuhan diri sendiri dan pasangan. Misalnya, ada suami yang suka istrinya dandan, maka penuhilah keinginannya dengan tetap dandan minimalis di rumah, tapi ada juga suami yang malah ngga suka kalau istrinya dandan, maka tetap rawat tubuh agar tetap enak dipandang tanpa dandan berlebihan. Ada istri yang suka rambut suaminya rapi, maka sebaiknya suami juga perhatikan jadwal potong rambut. Sesuaikan penampilan dengan keinginan pasangan, kan mereka juga yang memandang 😉 Untuk keinginan-keinginan spesifik semacam itu memang perlu dibicarakan, tapi ada juga common sense yang harus tetap dilakukan tanpa diminta, seperti memakai parfum yang disukai, atau deodorant bagi yang membutuhkan; memakai body lotion sebelum tidur; mini facial dan lulur seminggu sekali juga bisa, sesekali istri bisa melakukan perawatan untuk suami, kalau suaminya mau. Kalau tidak mau ya jangan dipaksa 😀 Yang penting terlihat fresh aja. Selain itu, menurut saya juga bagus apabila ada anggaran membeli baju baru. Tidak harus setiap bulan, tapi disisihkan dari setiap bulan. Anggaran ini bisa untuk beli baju baru untuk istri dan suami, jadi dua-duanya tetap menikmati merawat diri. Baju yang lama bisa disedekahkan, insya Allah akan dibalas Allah berlipat-lipat.

 

  1. Psychological needs

Pertama-tama, kuncinya tetap masih sama, yakni memahami kebutuhan diri sendiri dan pasangan. Pahami juga gaya komunikasi, apakah kita termasuk pasangan yang harus mengabari setiap saat via telepon, atau yang prefer ngobrol saat bertemu langsung? Apakah kita pasangan yang membutuhkan waktu untuk merenung jika bertengkar, atau yang menyelesaikannya saat itu juga? Pahami pula bahasa cinta pasangan, dan berusahalah untuk mengungkapkan cinta kita dengan bahasanya. Misalnya, bahasa cinta kita adalah kata-kata, senang sekali mendapatkan puisi atau membaca tulisan yang bagus, tapi bahasa cinta pasangan adalah bantuan, maka ungkapkan cinta kita dengan sering-sering menanyakannya, “Ada yang bisa aku bantu?” atau jika sudah jelas apa yang bisa kita bantu, langsung lakukanlah. Terkadang memang bahasa cinta kita dan pasangan bisa jauh berbeda, maka sebaiknya satu sama lain saling berusaha untuk menyesuaikannya.

 

Kedua, hobi. Kita dan pasangan adalah individu yang berbeda, yang sudah “hidup” sebelum bersama dia, yang memiliki preferensi masing-masing, wajar jika kita juga punya hobi yang berbeda. Beruntung jika hobinya sama, tapi misalnya pun berbeda, coba agar hobi ini tidak menjadikan masalah di antara pasangan, apalagi hobi yang melibatkan dana yang cukup besar. Kita sebagai manusia tentu tidak akan langsung berubah hanya karena menikah, termasuk preferensi hobi ini. Selain itu, hobi juga dapat me-refresh seseorang setelah kegiatan sehari-hari yang membuat penat, jadi biarkanlah pasangan menikmati hobinya, selama masih dalam batas-batas tertentu yang sudah dibicarakan.

 

Ketiga, manajemen konflik. Don’t sweat the small stuff.Pilih-pilih konflikmu, jangan jadikan hal remeh jadi bahan konflik.Meminimalisir konflik tidak sama dengan menahannya, kita bisa saja meminimalisir konflik sesederhana dengan menertawakannya, membuatnya jadi becandaan. Jangan baper, jangan ngegas, ketawain aja. Kalau ada yang udah ngegas dikit, senyumin lagi, becandain lagi. Tentunya jika ini menyangkut hal yang remeh ya, misalnya suami lupa bawa STNK waktu ada pemeriksaan eh ditilang. Ya sudah, diketawain saja kejadiannya. “Yah, udah tua sih, pikun kan hahahaha.” 😀 Selain itu, buat perjanjian tentang maksimal waktu yang dihabiskan untuk berkonflik, misalnya maksimal 24 jam. Sebisa mungkin, setiap malam diakhiri dengan damai. Bahkan tidak perlu menunggu sampai malam, jika bisa selesai saat itu juga, selesaikanlah. Berlomba-lomba menjadi pihak yang minta maaf, juga salah satu cara yang efektif. Ketika kita meminta maaf dulu kepada pasangan, lengkap dengan alasan kenapa kita meminta maaf, pasangan akan cenderung meminta maaf pula. Jangan ngambek lama-lama, maksimal sampai waktu tidur. Kalau bisa, setiap malam cium pasangan, baca doa, baru deh, tidur.

 

Yang terakhir, persering dzikir kepada Allah. Istighfar, dan mengingat Allah haruslah dilakukan oleh kedua belah pihak. Karena hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.

 

Selamat beribadah! J

Leave a Reply