Loading...
Journal StudyMarriage

Kehadiran Wali Demi Melindungi Kemaslahatan Mempelai Perempuan

Studi yang diulas pada artikel ini adalah studi berjudul Protecting Women’s Interest (Maslahah) in Marriage Through Appointment of a Guardian (Wali) Under Islamic Law yang diterbitkan dalam Pertanika Journals of Social Science and Humanities pada tahun 2015. Studi yang dilakukan oleh Mohd, A. bersama Ibrahim, B. dan Abdul Razak, S. Bertujuan untuk menyelidiki urgensi kehadiran wali dalam sebuah pernikahan, khususnya berkaitan dengan penjagaan kemaslahatan perempuan.

Wali adalah bentuk personifikasi dari kata wilayah yang dapat diartikan sebagai kepemimpinan atau penjagaan. Oleh karena itu, wali didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kuasa atau otoritas atas pihak lain (Al Khin, Musthafa et al 2011). Dalam konteks pernikahan, wali merupakan pihak yang memiliki otoritas untuk menikahkan mempelai perempuan (Nasution, S., 2009), baik ia merupakan wali umum (pemimpin negara) maupun wali khusus (wali dari kalangan kerabat).

Posisi wali dalam suatu pernikahan memunculkan sejumlah perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih. Mayoritas ulama termasuk Imam Syafii, Imam Ahmad dan Imam Malik menyatakan bahwa kehadiran wali adalah rukun nikah dan bersifat wajib ada saat akad nikah. Pendapat kedua dari Imam Abu Hanifah, Imam Zufar, Asy-Sya’bi dan Imam Az-Zuhri berpendapat bahwa kehadiran dan persetujuan wali dalam akad nikah hanyalah bersifat sunnah saja (mandub) namun wali dapat melakukan intervensi pada kondisi akad nikah tertentu. Kemudian pendapat ketiga dari Daud Azh-Zhahiri berpendapat bahwa kehadiran wali bersifat wajib pada pernikahan mempelai perempuan yang masih gadis/perawan namun tidak wajib pada pernikahan seorang janda. Sementara itu, pendapat terakhir dari Ibnu Sirin, Al Qasim bin Muhammad, Al Hasan bin Shaleh dan Abu Yusuf berpendapat bahwa pernikahan seorang wanita tanpa restu walinya harus ditunda hingga wali memberikan kehadiran dan restunya.

Meskipun terdapat perbedaan pendapat, negara-negara Muslim dalam undang-undang hukum keluarganya maupun praktik sosialnya secara umum mewajibkan adanya kehadiran dan restu wali pada suatu pernikahan agar pernikahan tersebut sah di mata negara. Hal ini sebagaimana terjadi di negara Mesir dan Yordania yang mengikuti mazhab Hanafi namun dalam praktik sosial dan undang-undang keluarga tetap mengharuskan adanya kehadiran wali khususnya pada pernikahan pertama seorang perempuan (gadis).

Pada jurnal tersebut, terdapat beberapa poin yang menunjukkan urgensi kehadiran seorang wali dalam suatu akad pernikahan. Pertama, seorang wali berperan sebagai penasihat bagi seorang perempuan yang akan menikah. Seorang wali dapat memberikan saran dan rekomendasi kepada calon mempelai perempuan yang berada di bawah pengampuannya terkait calon suaminya di masa depan maupun hal-hal terkaitt pernikahan secara umum. Hal ini telah dicontohkan dalam Al Qur’an pada saat Nabi Syu’aib memberikan saran kepada anak perempuannya terkait Nabi Musa dan telah Allah abadikan dalam surat Al Qashash ayat 28.

Kedua, perwalian merupakan suatu bentuk perlindungan terhadap perempuan. Wali merupakan pihak kerabatnya yang akan berperan dalam memastikan terpenuhinya hak-hak sang calon mempelai perempuan. Hal ini mengingat wali yang berasal dari kalangan Ayah atau kerabat Ayah sang mempelai perempuan secara umum memiliki pengalaman sehingga mencegah adanya kezhaliman dari pihak calon suami terkait hak-hak saat pernikahan.
Ketiga, perempuan memiliki sifat pemalu dan lembut. Sifat-sifat tersebut dapat menghalangi komunikasi terkait pemenuhan mahar maupun hal penting lain dalam pernikahannya. Wali berperan sebagai negosiator dan mediator bagi pemenuhan hak sang calon mempelai perempuan.

Keempat, kehadiran wali diharapkan dapat mencegah seorang perempuan untuk menikahi laki-laki yang tidak baik moralnya. Perempuan rentan untuk mendapatkan rayuan berlebihan dan penipuan dari laki-laki sehingga kehadiran wali memastikan bahwa sang mempelai perempuan akan mendapatkan laki-laki yang baik. Hal ini juga merupakan suatu bentuk penjagaan nasab atau keturunan yang sejalan dengan tujuan syariat Islam (maqashid syariah).
Kelima, adanya perwalian akan memastikan kesakralan dari suatu akad pernikahan. Hal ini ditekankan khususnya pada seorang gadis yang belum memiliki pengalaman terkait pernikahan.

Keenam, adanya wali akan mempererat hubungan di dalam keluarga, khususnya bagi mempelai perempuan. Hubungan keluarga yang erat dan harmonis antara wali dan perempuan yang berada di bawah pengampuannya akan dapat membantu kelanggengan rumah tangga bagi pasangan yang baru menikah. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa secara umum, kehadiran wali dalam suatu pernikahan adalah suatu bentuk upaya memastikan kemaslahatan bagi mempelai perempuan dan pencegahan atas kerusakan (sad adz-dzari’ah) yang bisa terjadi apabila pernikahan tidak dipandu oleh seorang wali.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka hendaknya para calon pengantin maupun pasangan yang telah menikah memperhatikan hal-hal berikut terkait perwalian dalam pernikahan:

  1. Seorang perempuan yang hendak menikah haruslah memiliki komunikasi aktif dengan walinya. Hal ini mengingat bahwa wali memiliki peran yang sangat penting dalam pernikahan seorang perempuan. Komunikasi aktif dengan wali diharapkan akan mempermudah kelancaran dan kelanggengan suatu pernikahan.
  2. Seorang laki-laki yang hendak serius ingin menikah dengan seorang perempuan hendaknya berkomunikasi dengan walinya. Wali seorang perempuan adalah pihak yang menentukan dalam pernikahan sang perempuan nanti. Persetujuan wali atas rencana pernikahan seorang perempuan adalah sinyal baik bagi kelancaran akad nikah.
  3. Bagi pasangan yang telah menikah, khususnya seorang ayah atau kerabat dari anak perempuan harus memperhatikan hal ini dengan seksama. Pada suatu saat, ia akan berperan sebagai wali dan menentukan masa depan dari rumah tangga perempuan yang saat ini masih di bawah perwaliannya. Oleh karena itu, komunikasi dan pendidikan terhadap anak perempuan harus dibangun sejak dini sehingga di masa depan, pernikahan sang anak perempuan akan lebih mudah diarahkan ke arah yang sesuai syariat agama.

Oleh: Imam Wahyudi Indrawan
Kandidat Master Ekonomi Islam IIUM

Inspirasi hikmah: Wali untuk perempuan juga adalah bentuk tanggung jawab final pengasuhan anak agar memastikan tiada kedzaliman dalam membangun rumah tangga sang anak

Leave a Reply