Loading...
Journal StudyParenting

Tahap Perkembangan Janin dalam Al Qur’an dan Sunnah (Seri 3: Tahap ‘Alaqah dan Mudhghah)

Artikel berikut ini merupakan ulasan lanjutan dari buku Human Development as Described in Al-Qur’an and As-Sunnah: Correlation with Modern Embryology karya sejumlah ahli embriologi Muslim seperti Abdul-Majeed A. Zindani, Keith L. Moore dan Mustafa A. Ahmed. Pada artikel ini, pembahasan akan difokuskan pada tahapan ‘alaqah dan tahapan mudghah yang merupakan keberlanjutan dari tahapan nuthfah yang telah dibahas sebelumnya.

Tahapan ‘alaqah dan mudhghah adalah bagian dari periode takhliq (penciptaan) yang menurut para penulis berlangsung sejak pekan ke-3 hingga pekan ke-8 dari perkembangan janin. Pada periode takhliq juga berlangsung tahapan ‘izham dan lahm yang akan dibahas pada seri artikel berikutnya. Adapun dalil yang mendasari pembagian tahapan di atas adalah firman Allah berikut:

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya: Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS. Al Mu’minuun (23): 14).

Pada ayat di atas, tahapan ‘alaqah berlangsung terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan tahapan mudhghah yang di antara keduanya terdapat kata hubung yakni huruf fa (فَ). Para penulis buku tersebut menyebutkan bahwa adanya huruf tersebut mengindikasikan perubahan tahapan yang dianggap tidak memiliki jeda waktu karena berlangsung berurutan dan sangat cepat.

Setelah melalui fase nuthfah, embrio manusia akan kemudian masuk ke dalam tahapan yang disebut ‘alaqah. Kata ‘alaqah dalam bahasa Arab memiliki sejumlah makna. Pertama, ‘alaqah merupakan bentuk turunan dari kata ‘alaqa dan bermakna sebagai “sesuatu yang melekat dan menggantung pada sesuatu yang lain”. Para penulis menyebut bahwa nuthfah atau embrio yang terus mengalami pembelahan sel hingga menjadi blastosit kemudian akan menuju dinding rahim. Embrio tersebut akan terus mengalami pembelahan dan kemudian saat terjadi harts (implantasi) pada dinding rahim, plasenta akan mulai tumbuh dari sang janin. Tumbuhnya plasenta akan menjadikan embrio tersebut menggantung pada dinding rahim, besesuaian dengan namanya sebagai ‘alaqah.

Makna kedua, kata ‘alaqah juga memiliki makna sebagai lintah. Ada sejumlah kesamaan antara tahapan awal embrio manusia dan seekor lintah pada tahapan ini. Pertama, bentuk dari embrio lama-kelamaan akan kehilangan bentuk bundarnya dan terus memanjang sehingga akan terlihat seperti lintah. Kedua, janin akan menerima nutrisi dari sang Ibu setelah tumbuhnya plasenta melalui aliran darah. Hal ini mirip seperti lintah yang mendapatkan nutrisi dari darah makhluk lain. Selain itu, janin juga akan dikelilingi oleh cairan ketuban sebagaimana lintah yang hidup dikelilingi oleh air.

Makna ketiga, kata ‘alaqah juga memiliki arti sebagai segumpal darah. Hal ini berkaitan dengan perkembangan sistem kardiovaskuler atau sistem peredaran darah yang dimiliki janin. Janin pada tahapan ‘alaqah memiliki darah yang masih menggumpal. Barulah pada pekan ketiga masa kehidupan, jantung sang janin akan mulai memompa darah dan darah sang janin mulai bersirkulasi.

Setelah melalui tahapan ‘alaqah, janin akan menuju tahapan berikutnya yaitu tahapan mudhgah. Secara bahasa, mudhgah memiliki sejumlah makna. Makna pertama, mudhgah berarti “sesuatu yang dikunyah gigi“. Janin pada tahapan ini akan berubah bentuk secara dinamis meskipun bentuk dasar masih tetap. Hal ini tidak terlepas dari kondisi janin yang mulai menerima nutrisi dari sang Ibu yang menopang pertumbuhan janin yang begitu cepat. Selain itu, perubahan bentuk dari janin memiliki suatu sumbu yang menjadi pusat pergerakan tumbuh kembang janin. Dua kondisi di atas, yakni perubahan bentuk dan pergerakan janin yang dinamis mirip dengan gerak mengunyah gigi yang secara dinamis mengubah bentuk makanan namun memiliki sumbu pergerakan.

Makna kedua, kata mudhgah memiliki arti “sesuatu yang kecil”. Hal ini berkaitan dengan ukuran janin pada tahapan ini sepanjang 1 cm dan tergolong masih sangat kecil. Makna ketiga, mudhgah juga berarti “sesuatu yang dapat dikunyah”. Janin pada tahapan mudghah dengan ukuran sepanjang 1 cm menjadi sesuatu yang dapat dikunyah oleh manusia. Hal ini berbeda dengan ‘alaqah yang masih berukuran 3,5 mm sehingga tidak tepat disebut sebagai sesuatu yang dapat dikunyah manusia.

Para penulis menyimpulkan bahwa penggunaan istilah ‘alaqah  dan mudhghah sangat bersesuaian dengan temuan perkembangan janin menurut embriologi modern. Dua tahapan di atas menandai melekatnya janin pada rahim sang Ibu, mulai adanya hubungan fisik dan nutrisi antara Ibu dan janin serta transformasi tumbuh kembang dan pergerakan janin yang begitu dinamis.

Maka, ada sejumlah pelajaran yang bisa dipetik dari perkembangan janin pada masa ‘alaqah dan mudhghah ini, yakni sekitar pekan ketiga kehamilan yang umumnya telah dapat diketahui kepastian kehamilannya. Kepastian kehamilan yang telah diterima setiap Ibu hendaknya diikuti dengan sikap menjaga kesehatan, khususnya pola makan sang Ibu mengingat nutrisi dari sang Ibu akan menentukan tumbuh kembang dari janin yang dikandungnya. Tumbuh kembang bayi yang dinamis juga akan membawa perubahan bagi sang Ibu, baik secara fisik maupun psikis sehingga dukungan dari sang suami dan keluarga juga mutlak diperlukan agar awal kehamilan dapat berjalan baik dan membantu perkembangan janin juga menjadi sangat baik.

Leave a Reply