Loading...
Journal Study

Tahap Perkembangan Janin dalam Al Qur’an dan Sunnah (Seri 1: Tahap Nuthfah)

Pada kesempatan kali ini, akan diulas sebuah buku berjudul Human Development as Described in Al-Qur’an and As-Sunnah: Correlation with Modern Embryology. Buku tersebut merupakan karya sejumlah ahli embriologi Muslim seperti Abdul-Majeed A. Zindani, Keith L. Moore dan Mustafa A. Ahmed. Buku yang dicetak oleh Liga Muslim Dunia (World Muslim League) ini mengetengahkan pembahasan mengenai ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang terkait dengan penciptaan manusia serta menyibak korelasinya dengan embriologi modern. Artikel ini akan berfokus pada bahasan mengenai tahapan nuthfah dan insyaallah pembahasan mengenai tahapan-tahapan lainnya akan diulas pada artikel berikutnya.

Ilmu mengenai perkembangan penciptaan manusia atau embriologi adalah ilmu yang telah berkembang sejak lama dan dapat dilacak hingga masa Yunani Kuno. Akan tetapi, embriologi sebelum penemuan mikroskop pada abad ke-17 hanyalah ilmu yang bersifat deskriptif karena minimnya teknologi yang ada dan ukuran sel sperma dan sel telur yang kemudian menyusun embrio manusia sangatlah kecil sehingga barulah ilmu tersebut berkembang luas pada abad ke-19. Meskipun demikian, Islam yang didakwahkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pada abad ke-7 dengan wahyu Al Qur’an dan Sunnah telah melampaui pencapaian ilmu embriologi modern karena wahyu Allah telah membahas proses embriologi manusia dengan istilah yang rinci dan tertib.

Tahapan penciptaan manusia secara rinci disebutkan dalam firman Allah berikut:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ، ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ، ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (nuthfah) (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (‘alaqah), lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging (mudhghah), dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang (‘izham), lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging (lahm). Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik  (QS. Al Mu’minuun (23): 12-14).

Artikel ini akan berfokus pada tahapan pertama dalam penciptaan manusia pada ayat di atas, yaitu tahapan nuthfah. Istilah nuthfah  berasal dari bahasa Arab yang berarti “setetes air” atau “sejumlah kecil air”. Istilah nuthfah merujuk pada cairan yang membawa sel sperma dari laki-laki dan sel telur dari perempuan sebagaimana disampaikan pada hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَرَّ يَهُودِيٌّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُحَدِّثُ أَصْحَابَهُ فَقَالَتْ قُرَيْشٌ يَا يَهُودِيُّ إِنَّ هَذَا يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ فَقَالَ لَأَسْأَلَنَّهُ عَنْ شَيْءٍ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا نَبِيٌّ قَالَ فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ مِمَّ يُخْلَقُ الْإِنْسَانُ قَالَ يَا يَهُودِيُّ مِنْ كُلٍّ يُخْلَقُ مِنْ نُطْفَةِ الرَّجُلِ وَمِنْ نُطْفَةِ الْمَرْأَةِ فَأَمَّا نُطْفَةُ الرَّجُلِ فَنُطْفَةٌ غَلِيظَةٌ مِنْهَا الْعَظْمُ وَالْعَصَبُ وَأَمَّا نُطْفَةُ الْمَرْأَةِ فَنُطْفَةٌ رَقِيقَةٌ مِنْهَا اللَّحْمُ وَالدَّمُ فَقَامَ الْيَهُودِيُّ فَقَالَ هَكَذَا كَانَ يَقُولُ مَنْ قَبْلَكَ

Artinya: “Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Seorang Yahudi lewat di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu sedang berbincang dengan para sahabatnya. Lalu orang-orang Quraisy berkata, ‘Hai Yahudi, orang ini mengaku sebagai Nabi!’ Yahudi itu pun berkata, ‘Sungguh, aku akan menanyakan sesuatu padanya, yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi.’ Yahudi itu lalu menghampiri beliau dan duduk di dekatnya seraya bertanya, ‘Wahai Muhammad, dari apa manusia diciptakan?’ Nabi lalu menjawab: ‘Wahai Yahudi, setiap manusia itu diciptakan dari nutfah (air mani) seorang lelaki dan nutfah seorang wanita. Nutfah laki-laki sifatnya lebih keras dan nantinya dia akan berubah menjadi tulang dan urat saraf. Adapun nutfah wanita sifatnya lebih halus dan nantinya dia akan membentuk daging dan darah.’ Orang Yahudi itu lalu berdiri dan berkata, ‘Beginilah yang dikatakan nabi-nabi sebelummu.’” (HR. Ahmad).

Tahapan nuthfah sendiri menurut para penulis memiliki sejumlah sub-tahapan sebagai berikut:

  1. Sub-tahapan ma’in dafiq. Istilah ma’in dafiq dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai air yang dipancarkan sebagaimana termaktub dalam QS. Ath Thariq (86) ayat 6. Istilah ini mengindikasikan bahwa manusia berasal dari cairan yang aktif bergerak. Hal ini bersesuaian dengan penemuan embriologi modern bahwa sel spema dan sel telur dibawa oleh cairan yang bersifat aktif bergerak. Selain sebagai cairan transportasi sel, cairan-cairan tersebut juga membawa enzim dan nutrisi yang diperlukan untuk mendukung terjadinya fertilisasi.
  2. Sub-tahapan sulalah. Istilah sulalah diterjemahkan sebagai saripati. Menurut para penulis, istilah sulalah memiliki dua makna, yakni “cairan yang mengalir lembut” dan “berbentuk seperti ikan yang panjang”. Hal ini bersesuaian dengan sifat sperma yang cairannya mengalir dengan lembut serta selnya memiliki ekor yang panjang sebagai penggeraknya. Kata sulalah banyak tertulis di dalam Al Qur’an, salah satunya dalam QS. As Sajdah (32) ayat 8 pada frase ”saripati air yang hina/lemah”, dan menurut para penulis merujuk pada proses fertilisasi, yakni bertemunya sel sperma dari laki-laki dan sel telur dari perempuan.
  3. Sub-tahapan nuthfah amsyaj.Istilah nuthfah amsyaj Allah sebutkan dalam QS. Al Insan (76) ayat 2 dan diterjemahkan sebagai “mani yang bercampur” dalam bahasa Indonesia. Apabila ditelisik dari perspektif gramatikal bahasa Arab, istilah nuthfah amsyaj adalah unuk karena menggabungkan kata benda yang berbentuk tunggal (nuthfah) dengan kata sifat berbentuk jamak (amsyaj) dalam satu istilah. Hal ini menurut para penulis bersesuaian dengan kondisi zigot (sel calon janin) sebagai hasil pembuahan ovum oleh sperma sebagaimana dibuktikan oleh sains modern. Zigot merupakan entitas tunggal namun terdiri atas jutaan informasi genetik hasil paduan dari sel sperma laki-laki dan sel telur perempuan. Dalam perjalanannya, zigot akan terus membelah menjadi sel-sel yang lebih kecil sebagai cikal-bakal tubuh dan organnya. Dalam perspektif syariat, sub-tahapan ini menandai sejumlah peristiwa penting dalam penciptaan manusia, yaitu al-khalq (proses penciptaan menjadi manusia dimulai) dan at-taqdir (penentuan karakteristik tubuh, termasuk penentuan jenis kelamin)
  4. Sub-tahapan harts. Kata harts dalam bahasa Arab berarti tempat bercocok tanam. Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Baqarah (2) ayat 222 menyebut istri sebagai harts bagi suaminya. Hal ini bersesuaian dengan temuan di bidang embriologi bahwa zigot yang telah melalui sejumlah proses pembelahan sel akan bergerak menuju endometrium (dinding rahim) dan kemudian menempel di sana sebagaimana biji yang ditanam pada tanah yang subur untuk kemudian dikembangkan.

Berdasarkan pemaparan di atas, para penulis menyimpulkan bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah telah mendeskripsikan proses awal penciptaan manusia (janin) dengan sangat urut dan bersesuaian dengan sains modern. Ada beberapa pelajaran lain yang bisa dipetik berdasarkan temuan para ahli di atas:

  1. Proses penciptaan manusia adalah bagian dari ayat (tanda) kekuasaan Allah di Bumi yang bahkan dialami oleh setiap diri kita. Hendaknya setiap insan yang memahami hal ini semakin bersyukur dan bertakwa kepada Allah yang telah menciptakan setiap insan dengan sangat presisi.
  2. Bagi para orang tua atau calon orang tua, pemahaman atas proses penciptaan manusia sangatlah penting atas tumbuh kesadaran diri mempersiapkan generasi penerus yang terbaik. Persiapan tersebut baik dari sisi kesehatan dengan mempersiapkan nutrisi yang optimal bagi calon Ibu, persiapan materi yang mencakup segala kebutuhan Ibu dan bayi di masa kehamilan dan setelahnya, dan yang paling penting adalah persiapan ruhani karena dengan bekal agama dan bimbingan yang baik dari orang tua, insyaallah akan lahir anak-anak yang shalih dan shalihah.
Leave a Reply