Loading...
CulinaryJournal Study

Hikmah di Balik Pelarangan Makanan Haram dalam Islam

TheRealUmmi – Studi yang diulas pada artikel ini adalah studi berjudul Lawful and Unlawful Foods in Islamic Law Focus on Islamic Medical and Ethical Aspects yang diterbitkan dalam International Food Research Journal pada tahun 2009. Studi yang dilakukan oleh Nurdeng, D. ini bertujuan untuk menyelidiki hikmah di balik pelarangan sejumlah makanan yang tergolong haram bagi kaum muslimin ditinjau dari aspek kesehatan dan etika dengan berdasarkan syariat Islam.

Sebagaimana dipahami bersama bahwa makanan adalah salah satu komponen utama bagi keberlangsungan hidup manusia. Makanan menyediakan sumber energi bagi tubuh (karbohidrat dan lemak), zat pembangun sel tubuh (protein) dan zat yang memperbaiki fungsi tubuh (vitamin). Oleh karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakan sumber makanan bagi umat manusia di bumi ini, baik dari golongan tumbuh-tumbuhan maupun hewan, baik di daratan maupun perairan.

Meskipun segala sesuatu di muka bumi, termasuk sumber makanan adalah untuk kepentingan manusia, namun bagi kaum muslimin ada panduan yang harus ditaati. Panduan tersebut atau dikenal dengan istilah syariah bukanlah suatu panduan yang semena-mena dari Allah. Para ulama kaum muslimin telah bersepakat bahwa syariat Islam mengarahkan manusia untuk melakukan sesuatu yang ma’ruf atau dianggap baik oleh fitrah serta menjauhi perkara yang munkar atau bertentangan dengan fitrah suci manusia. Syariat Islam telah mengatur mengenai halal-haram segala sesuatu, termasuk pula dalam hal makanan.

Mengapa hal tersebut menjadi sangat penting? Para ahli di bidang medis dan fikih berkesimpulan bahwa pelarangan makanan yang haram di dalam Islam ditujukan untuk mencegah manusia dari terkena dampak buruk makanan tersebut sehingga Islam hanya membolehkan kaum muslimin hal-hal yang halal dan baik (thayyib) sebagai sumber makanan sehingga tubuh mendapatkan manfaat dari konsumsi makanan tersebut, baik berupa kesehatan dan tercapainya tujuan Islam, yakni kemaslahatan umat manusia.

Beberapa komoditas yang Allah haramkan dan diulas pada studi ini akan berfokus pada larangan Allah pada dua ayat berikut, yaitu:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (QS. Al-Maidah (5):3)

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah (5):90)

 

Penjelasan rinci dari pengharaman komoditas-komoditas di atas adalah sebagai berikut:

  1. Khamar atau minuman keras. Pembahasan mengenai hikmah pelarangan khamar dalam studi ini hanya sekilas saja. Namun disebutkan bahwa minuman keras adalah komoditas yang apabila dikonsumsi dapat merusak tubuh, baik secara fisik maupun psikis sehingga Allah larang kaum muslimin untuk mengonsumsinya.
  2. Al-Maytah atau bangkai binatang. Dalam terminologi fikih, yang dimaksud dengan Al-Maytah adalah hewan yang mati dan belum sempat disembelih sesuai aturan syariat Islam sehingga dihukumi sebagai bangkai yang tidak boleh dimakan. Di dalam Al Qur’an, jenis-jenis kematian hewan yang tergolong sebagai Al-Maytah, yaitu: a) Al-Munkhoniqoh atau hewan yang mati akibat tercekik tali di lehernya; b) Al-Mawquudzatu atau hewan yang mati karena pukulan, termasuk oleh sengatan listrik; c) Al-Mutaroddiyatu atau hewan yang mati karena terjatuh; d) An-Nathihatu atau hewan yang mati ditanduk; dan e) hewan yang telah mati diterkam hewan pemangsa atau pemburu. Dalam Islam, hewan yang hendak dikonsumsi haruslah disembelih sesuai aturan syariat, yakni dengan pisau yang tajam dan memotong pada tiga urat hewan tersebut sehingga darah keluar dari hewan tersebut hingga ia mati. Hal ini dikecualikan pada hewan laut dan belalang menurut hadits shahih dari Rasulullah. Hikmah dari pelarangan bangkai hewan adalah akan menghindarkan manusia dari penyakit-penyakit yang muncul akibat kematian hewan yang bersifat mendadak/bukan disembelih, seperti antraks atau penyakit sapi gila.
  3. Ad-Dam atau darah yang mengalir. Darah yang mengalir dalam tubuh suatu organisme diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun pengecualian dari larangan ini adalah: a) darah yang menempel pada daging sembelihan setelah dibersihkan; b) hati; dan c) limpa. Hikmah pelarangan darah yang mengalir adalah selain darah yang mengalir tergolong najis dalam Islam, hal ini juga dikarenakan darah merupakan media transmisi nutrisi dan juga penyakit pada suatu organisme sehingga pelarangan darah oleh syariat Islam dapat menghindarkan manusia dari bibit penyakit dalam tubuhnya.
  4. Al-Khinzir atau babi. Babi dan segala jenis produk turunannya merupakan hewan yang secara eksplisit diharamkan di dalam Al Qur’an. Babi dalam banyak kebudayaan identik dengan sifat rakus, kotor dan kehinaan. Selain itu, babi juga disinyalir membawa bibit penyakit yang begitu banyak dalam tubuhnya, utamanya penyakit di jaringan otot yang diakibatkan oleh cacing Trichinella Spiralis. Oleh karena itu, pelarangan konsumsi babi dalam Islam adalah upaya untuk menjaga manusia dari keburukan babi tersebut, baik dari sisi kesehatan maupun etika.
  5. Hewan yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu telah Allah ciptakan untuk manusia, termasuk hewan-hewan ternak yang dapat manusia konsumsi. Penyembelihan hewan adalah bentuk penggunaan nikmat Allah oleh manusia sehingga manusia harus menyembelih seekor hewan sesuai dengan syariatNya. Penyebutan nama selain Allah saat menyembelih hewan adalah bentuk ingkarnya manusia atas nikmat Allah sehingga pelarangan hewan yang tidak disebutkan nama Allah adalah bentuk penjagaan prinsip Tauhid yang menjadi asas Islam. Oleh karena itu, hendaknya seorang Muslim membeli daging yang disembelih oleh tukang daging Muslim dan membaca basmalah sebelum memakan daging tersebut.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka hendaknya pasangan suami istri, terlebih para orang tua haruslah:

  1. Memahami fikih terkait halal-haram dalam Islam, terutama dalam hal makanan. Hal ini penting karena makanan keluarga yang berasal dari zat yang haram maupun sumber yang haram dapat menghilangkan keberkahan dalam kehidupan rumah tangga dan menghambat terkabulnya doa.
  2. Selain memperhatikan halal dan haram dalam makanan, aspek adab dalam aktivitas makan juga perlu diperhatikan, seperti makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, tidak mencela makanan dan adab lainnya. Hal ini penting sebagai bentuk penghormatan dan syukur kepada Allah atas karunia berupa makanan yang Allah berikan kepada manusia.

 

Oleh: Imam Wahyudi Indrawan
Kandidat Master Ekonomi Islam IIUM

Leave a Reply