Titik Balik: Ibu dan Bumi

Wahai Ibu, setiap peranmu tak ternilai bagi bumi. Bergeraklah, bergegaslah, sekuat yang ibu bisa. Bersemangatlah dalam mengerjakan kebaikan. Ketahuilah bahwa bumi Allah tidak sedang baik-baik saja. Bergabunglah dibarisan orang-orang yang melakukan perbaikan. Karena kita dibatasi oleh waktu. Semoga kelak Allah menjaga anak-keturunan kita dengan sebab kebaikan kita kepada bumi Allah.

Ada titik dimana Ibu memilih untuk memperbaiki diri, mengubah jalur, menyesuaikan dengan fitrah penciptaanNya. Masalah adalah tantangan untuk naik kelas. Menjadi lebih baik, menjadi bagian dari solusi.

Gaya hidup yang bernilai disisi Allah adalah idaman bagi setiap ibu yang mengenal Penciptanya. Menjalani hidup tanpa harus melukai bumi adalah fitrahnya orang-orang beriman. Maka ini adalah bagian dari ketaatan, amal sholih yang pasti diberikan reward oleh Allah baik di dunia maupun di akhirat.

Empat belas abad sudah seluruh literasi kebaikan tuntas diwahyukan. Sumber utama serta contoh terbaik telah Allah siapkan untuk kita penduduk bumi, umat terakhir. Alquran, alhadits serta contoh kehidupan para Nabi ‘alahimussalam, sahabat radhiyallahu ‘anhum dan salafush sholih rahimahumullah ajma’in adalah tali yang kuat untuk kita berpegang teguh dalam menjalani sisa-sisa kesempatan di muka bumi sebagai ujian kebaikan.

Mengilmui diri dari sumber yang otentik adalah cara terbaik mengangkat kebodohan dalam diri juga orang lain untuk senantiasa berjalan di atas kebenaran. Mengamalkannya,mengajarkannya, serta menyebarkannya adalah bagian dari memperdalam pemahaman serta menjaga ilmu tersebut agar tidak musnah.

Permasalahan seputar kehidupan sebagai seorang ibu yang berkaitan erat dengan lingkungan seperti makananan, kesehatan, sampah, energi juga keuangan sejatinya bisa diselesaikan dengan efektif juga efesien jika Ibu memahami langkah-langkah penyelesaiannya.

Permasalah bumi kita ini memang kompleks, karena telah menumpuk sedemikan rupa disebabkan sebagian manusia dengan serakah mengeksploitasi bumi untuk kepentingan duniawi mereka. Bahkan Allah telah menyampaikannya secara eksplisit di dalam kitabNya. Bagaimana mereka merusak tanaman, binatang ternak, daratan juga lautan. Sistem industri pertanian yang merusak, illegal fishing, deforestation, fast fashion industry, industri makanan yang tidak sehat, sampah industri yang menggunung dst dst, lahir dari satu sifat saja, serakah. Seluruh sistem dibentuk sedemikan rupa agar orang-orang menjadi konsumtif, materealistik dan hedonis.

Mengetahui akar permasalahan membuat kita sebagai ibu berani mengambil langkah prioritas dalam proses penyelesaian.  Identifikasi masalah, analisa yang mendalam, menghubungkan semua titik permasalahan, mengantarkan kita pada hasil dan kesimpulan yang akurat. Tanpa harus terjatuh pada masalah lain yang masih dalam satu lingkaran.

Setelahnya, kita bisa mengatur langkah kecil kita dengan fondasi iman yang kuat sehingga tidak kehilangan arah lantas berhenti.

Bumi adalah amanah Allah untuk manusia. Allah menitipkan sebagian rezekiNya untuk kita juga makhlukNya yang lain melalui bumi. Maka bumi adalah bagian dari kita, bagian yang membutuhkan kepedulian kita sebagai pengemban amanah Allah.

Kesedihan dan rasa bersalah Ibu yang sebelumnya tanpa sadar melukai bumi adalah indikator keimanan. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu, Bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ” Barangsiapa yang perbuatan baiknya, membuatnya bahagia dan perbuatan maksiatnya membuatnya sengsara maka dia adalah seorang mukmin (orang yang beriman)” Hadits shohih riwayat Atthabrani, lihat Shohihul Jaami’ No 6294.

Kesedihan yang melahirkan kesadaran untuk kembali, kembali membersihkan diri dari khilaf dan dosa, akan mengantarkan kita pada pengampunan Allah. Lalu kita akan dimudahkan Allah, Sang Pemilik Bumi untuk melanggengkan kebaikan yang kita upayakan. Allah juga akan membuat hati kita menjadi lebih sensitif membedakan perkara baik dan buruk. Merasakan kesedihan saat bermaksiat dan kebahagiaan saat beramal soleh, merasakan manisnya iman tanpa harus berbangga diri. Karena ilmu yang Allah ridhoi akan membuat si pemilik ilmu, tunduk, takut kepada Allah.

Begitulah orang-orang yang sempurna imannya, ia merasa senang dan bahagia ketika beramal sholeh meskipun amalan tersebut terasa sulit dan berat, namun ia percaya ada Allah yang senantiasa membersamainya. Dan ia akan merasa sedih juga menderita ketika melakukan dosa dan maksiat, karena takut akan siksa Allah yang pedih.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpamakan orang mukmin yang berbuat dosa seperti seakan-akan melihat gunung yang akan menimpanya sedangkan orang munafik melihatnya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya.

Bumi telah cukup sabar menunggu kita untuk berubah, Islam telah memberikan panduan komprehensif untuk menjaga fitrah kita di atas muka bumi sejak 14 abad lalu. Bertekadlah untuk menjadi bagian dari solusi. Berhentilah sejenak, lakukan refleksi diri, sudah waktunya kita kembali menjadi insan perbaikan. Mulailah dari akarnya, karena masalah akan tetap tumbuh selama akarnya masih ada. Langkah kecil kita akan sangat berarti jika diarahkan pada tujuan yang tepat. Karena prioritas dalam beramal adalah kunci kesuksesan.

Use small and slow solution but know well our priority. It will make our baby steps more impactful.

Mengilmui diri tentang urgensi menjaga bumi, mengamalkan dan menyebarkannya adalah amal sholih yang pasti Allah catat sebagai kebaikan. Bertanyalah pada ahlinya jika Ibu menemukan kesulitan tentang langkah utama yang perlu ditempu dalam pilihan hidup yang baik ini, bergabunglah dengan komunitas-komunitas lingkungan yang bermanfaat untuk memperkuat ukhuwah dalam melakukan perbaikan bagi diri dan bumi, dan jangan pernah merasa putus asa. karena disetiap kebaikan pasti ada tantangannya. Berdoalah kepada Allah agar dimudahkan dalam setiap langkahnya, serta diberikan ilmu yang bermanfaat. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan tapi kembali memperbaiki diri adalah cara orang-orang beriman menyesali perbuatannya.

Wahai Ibu, setiap peranmu tak ternilai bagi bumi. Bergeraklah, bergegaslah, sekuat yang ibu bisa. Bersemangatlah dalam mengerjakan kebaikan. Ketahuilah bahwa bumi Allah tidak sedang baik-baik saja. Bergabunglah dibarisan orang-orang yang melakukan perbaikan. Karena kita dibatasi oleh waktu. Semoga kelak Allah menjaga anak-keturunan kita dengan sebab kebaikan kita kepada bumi Allah.

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS. Albaqarah: 148

Wallahua’alam

Tetap semangat, semoga bermanfaat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *